Tampilkan postingan dengan label النصيحات. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label النصيحات. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Maret 2010

pentingnya memuliakan muslim lainnya

PENTINGNYA MEMULIAKAN SESAMA MUSLIM

By: Ar-Rayyan*


Pada bab ini akan dikemukakan bagaimana pentingnya bagi seorang muslim memuliakan pribadi muslim lainnya. Suatu realita bahwa kita sebagai umat Islam hidup di dunia tidak sendirian. Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa umat muslim diibaratkan seperti sebuah bangunan kokoh yang saling menguatkan dan atau sebuah struktur badan yang lengkap, jika sebuah bangunan atau tubuh tersebut roboh atau sakit maka gejala buruk yang lain akan mempengaruhinya.


Perlu kita perhatikan bahwasanya dalam menjaga izzah agama Islam, persatuan sesama muslimlah yang paling diutamakan terlebih dahulu dalam mengemban misi risalah agama ini. Seorang muslim tidak boleh menyampaikan agama dengan cara yang tidak baik, hendaknya ia berhati-hati untuk bisa diterima dengan baik oleh yang lain. Seperti yang diajarkan Rasulullah Saw. dengan dakwah bilhikmah dan mauidhoh hasanah atau penyampaian ajaran Islam dengan cara yang bijak, terbukti beliau mampu menumbuhkembangkan dakwah Islam lebih ekspansif dan diterima oleh kaumnya.


Banyak orang yang terlalu bersemangat dan berlebihan dalam menyampaikan agama sehingga tidak mempedulikan harga diri sesama muslim. Padahal, menjaga kehormatan seorang Muslim itu sangat penting. Perhatikan Sabda Nabi Saw., yang artinya:


“ Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda, “ Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.” ( HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah-at-Targhib).


“ Dari Ibnu Abbas r.huma, dari Nabi Saw., beliau bersabda, “barang sipa menutupi aib saudaranya (yang muslim), maka allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barangsiapa membuka aib saudaranya yang muslim, maka pasti Allah akan membuka aibnya, sehingga Allah mempermalukannya di rumahnya karena aibnya itu.” (Hr. Ibnu Majjah ~at-Targhib).


Oleh sebab itu, hendaknya kita selalu menjaga kehormatan dan menutupi aib saudaranya.Sebuah hadits menyebutkan ,“Barang siapa tidak menolong saudarnya yang muslim ketika sedang dihina, maka Allah tidak mempedulikannya ketika ia sangat memerlukan bantuan-Nya.” Juga disebutkan, “ riba yang paling buruk adalah mencemarkan nama baik seorang muslim.”


Banyak riwayat yang menyatakan ancaman keras karena mencemarkan nama baik seorang muslim, sebagai pribadi muslim yang baik dan mengetahui ilmu agama hendaknya berhati-hati dalam masalah ini, cara menyampaikan nasihat yang benar adalah menasihati manusia secara tertutup untuk kesalahan yang dilakukan secara tersembunyi, dan menasihati secara terbuka untuk kesalahan yang dilakukan secara terang-terangan.


Bagaimanapun, kehormatan seseorang harus tetap diperhatikan sedapat mungkin. Jangan sampai karena rusaknya kebaikan, akhirnya dosalah yang timbul. Dan agar nasihat itu tidak berakibat buruk, nasihat-nasihat itu harus disampaikan dengan cara yang baik, sehingga tidak akan membuat orang yang melakukan sebuah kesalahan itu merasa malu dan dikucilkan. Lebih jelasnya, sesuai dengan perintah Allah SWT., bahwa yang bersalah tetap diperingatkan dengan tegas, tetapi jangan sekakli-kali mengabaikan sopan santun dan adat yang baik.

Seorang muslim hendaknya menerapkan adab yang baik ketika menyampaikan ajaran agama pada pendengarnya. Jika terjadi kemaksiatan, hendaklah ia menegur dengan kata-kata yang halus. Pernah seseorang memberi nasihat dengan kasar kepada Khalifah Makmun Ar-Rasyid, sehingga ia berkata,“ bersopan santunlah dan gunakanlah adab terhadapku, karena Fir’aun lebih kejam daripadaku, sedangkan Musa dan Harun lebih baik daripadamu, namun ketika keduanya akan berdakwah kepada Fir’aun, Allah SWT. Berfirman kepada mereka dalam QS. Thoha(20):44;


        

“ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut kepada-Ku".


Seorang pemuda pernah datang kepada Nabi Muhammad Saw. Dan berkata, “ Ya Rasulullah, ijinkanlah aku melakukan zina! “ mendengar hal itu, para sahabat sangat marah. Tetapi beliau bersabda kepada pemuda itu, “ kemarilah, apakah kamu suka jika orang lain berzina dengan ibumu? ” jawabnya, “ tidak!” Sabda beliau, “ Orang lainpun tidak mau ibunya dizinai. Apakah kamu suka jika orang lain berzina dengan anak perempuanmu?”, jawabnya, “tidak!” sabda beliau, “ Orang lain pun tidak mau jika anak perempuannya dizinai.” Demikianlah nabi Saw. Menanyakan hal yang sama mengenai saudara perempuannya, sepupunya dan sebagainya. Lalu beliau meletakkan tangannya di atas dada pemuda itu dan berdo’a, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampunilah dosanya, dan lindungilah dia dari perbuatan zina.” para perawi berkata bahwa setelah kejadian itu, tidak ada perbuatan yang paling dibenci pemuda itu kecuali zina.


Kesimpulannya, sebagai Umat yang diridhoi Allah Swt., hendaknya kita selalu selalu bersopan santun, menasihati secara halus, rendah hati, dan memperlakukan orang lain dengan cara yang kita sendiri senang jika diperlakukan demikian. Dari hal itulah akan terwujud kehidupan yang harmonis dalam tatanan Ukhuwah Islamiyah.

Akhir kata, Semoga kita mengerti permasalahan yang disebutkan di atas dan menjadi pribadi muslim yang saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran, dan senantiasa memuliakan muslim yang lain dalam kebenaran.


Wa Allahu A’lam bi Murodhihi.


* Penulis adalah perindu kedamaian dan Kebangkitan izzah Islam di mata dunia.”

Keterangan:

Diambil dari Intisari Kitab Fadho’ilul A’mal karangan Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al- Kandahlawi.


Kata Bijak:


“ Manusia adalah makhluk sosial, sehingga ia ingin bersama”.

(Aristoteles)

“ Pembicaraan yang baik tentu akan diikuti keputusan yang baik” (anonim)


“ Setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang baik, adil

dan jujur.” (Anonim)


Berpikirlah dengan tepat dan benar terhadap orang lain, maka orang lain itu akan mencintai anda

(Jhon Dewey)


Bagi para pembaca yang ingin berkomentar atau mengirim rubrik tanya jawab,dll. dapat dikirim melalui via email: agoes_kammi@yahoo.co.id atauweblog:http://www.agusakhwan.blogspot.com.




Rabu, 28 Januari 2009

Asa tak berpengharapan

Di dinding tebal bercat warna hijau keputih-putihan diri ini bersandar dan bertafakkur atas semua tindak-tanduk yang telah terlewatkan. Apatah tindak-tanduk yang berupa kebaikan ataupun yang mengarah pada perbuatan nista. perasaan bersalah kan berlumur dosa selalu menghiasi di dalam relung jiwaku. Amat penuh sesak.. nafasku, mata terbasahi... air mata yang berkelinang... karena merasa keringnya iman yang mampu membentengi diri dari amal kemaksiatan dan menuntun pada amal kebajikan. Sungguh diri ini terasa jauh dari Tuhan yang selalu berkasih sayang terhadap hambanya yang selalu menyebut asma-Nya.

Bila mengingat langkah hidupku ini dari masa kecil hingga ku beranjak dewasa sungguh tak terasa sudah sejengkal jari jemari bergerak tanpa batas pada usia yang kian semakin pendek dan dekat dengan ajal kematian yang siap menghadang di depan mata. Entah berapa lama diri ini dapat menyadari secara terus menerus akan berartinya hidup ini jika kita terus menghiasi dengan amal kebaikan sebagai bekal kelak pada kehidupan yang dijanjikan oleh Tuhan.

Dalam mengarungi samudera kehidupan ini kita seperti orang asing "ghuroba'" yang berkelana sepanjang jalan tak tahu entah kapan perjalanan kita akan berakhir sampai ujung jalan yang kita tempuh ini. Jika jalan yang kita lalui itu ada petunjuk arah yang kita anggap benar dan tidak menjerumuskan maka secara bijak perlu kita ambil petunjuk itu untuk kita jadikan pedoman hidup kita. Namun sebaliknya bila kita ragu dan tidak meyakini arah petunjuk itu alangkah baiknya kita berani mengabaikannya dan berani berkata "tidak" untuk tidak megikutinya.

Seringkali diri ini na'if terhadap sesuatu perkara yang kita ketahui dari padanya adalah sebuah kemaksiatan_ perkara sesat dan menjerumuskan, yang mampu menghancurkan angan-angan kehidupan kita, Namun tetap kita lakoni dengan senang hati tanpa jijik terhadapnya.Terkadang pula kita acuh tak acuh terhadap kebaikan walau sekecil apapun , nasihat-nasihat yang diucap oleh orang-orang shaleh di sekeliling kita hanya angin lalu masuk telinga kiri keluar kanan. Seharusnya Kita mampu berkata dari dalam hati untuk berani mengatakan "Ya" atau "tidak" dari bisikan-bisikan yang menghiasi jiwa kita.

Senin, 26 Januari 2009

ألكلما ت حسنى لى نفس فى الحيا ت

بسم الله الرحمن الرحيم
ً
تاَجُ الْمُرُوْءَةِ التََّوَاضُعُ
" Mahkota kepribadian adalah tawadhu' "

اَلتَّدْبِِيْرُ نِصْفُ الْمَعِيْشَةْ

" Berpikir itu sebagian dari kehidupan "

اَلتَفَكَّرُ عِبَادَةٌ

" Berpikir adalah ibadah"

تَرْكُ الْجَوَابِ عَلَى الْجَاهِلُ جَوَابٌ

" Tiada memberikan jawaban kepada Orang bodoh adalah jawaban itu sendiri "

تَرْكُ مَا لاَ يَصْلَحُ اَصْلَحُ

"Meninggalkan sesuatu yang tidak pantas itulah yang lebih baik"