Tampilkan postingan dengan label Saintek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saintek. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 November 2008

NASA Temukan Tata Surya Baru Berisi 3 Planet

NASA Temukan Tata Surya Baru Berisi 3 Planet
Ilustrasi tiga planet yang mengelilingi bintang HR 8799.
Artikel Terkait:
Jumat, 14 November 2008 | 18:21 WIB

WASHINGTON, JUMAT - Selain berhasil memotret planet asing di luar tata surya untuk pertama kalinya, para ilmuwan NASA juga menemukan tiga planet baru yang mengelilingi satu bintang. Namun, ketiganya terlalu jauh sehingga tidak dapat direkam secara langsung.

"Setiap planet ekstrasolar terdeteksi pada jarak sangat jauh sehingga hanya dapat diketahui dari gelombang di grafik pengamatan," ujar Bruce Macintosh, pakar astrofisika dari Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, California, AS.

Trio planet itu mengorbit bintang HR 8799 yang berada di konstelasi Pegasus, 130 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya setara dengan 9,46 triliun kilometer). Bintang yang menjadi pusat tata surya itu mirip Matahari dengan ukuran 1,5 kali lebih besar.

Masing-masing planet terletak pada jarak 24, 38, dan 68 unit astronomi dari bintangnya (1 AU setara dengan 150 juta kilometer). Dua planet yang terdekat dengan bintang berukuran 10 kali massa Planet Jupiter dan yang terjauh 7 kali massa Planet Jupiter.

Planet-planet tersebut diperkirakan baru berumur 60 juta tahun sehingga bisa dikatakan sangat muda dalam standar astronomi. Bagian permukaannya masih sangat panas dengan bola-bola api yang masih sering terbentuk di atasnya. Sebagai perbandingan, Bumi telah berumur 4,5 miliar tahun.

Orbit ketiga planet termasuk berada di luar seperti Jupiter mengelilingi Matahari. Jika tata surya tersebut memiliki sifat seperti tata surya kita, ada kemungkinan planet lain di orbit lebih dalam yang berukuran lebih kecil.

"Saya kira masih besar peluangnya menemukan planet lain di sistem tata surya tersebut," ujar Macintosh. Para astronom menyatakan target berikutnya adalah mencari planet yang memiliki sifat seperti Bumi.

Penemuan tata surya seperti Matahari yang berpusat di bintang HR 8799 merupakan petunjuk untuk mencari planet seperti Bumi. Yang sering menjadi masalah adalah planet padat seperti Bumi lebih sulit dideteksi dan lebih dekat dengan bintangnya sehingga kalah dengan pancaran cahaya bintang.

Penemuan trio planet diumumkan, Kamis (13/11) bersamaan dengan publikasi foto pertama planet ekstasolar yang dimulat jurnal Science teranyar. NASA mengkalin untuk pertama kalinya memotret planet Fomalhaut b yang mengelilingi bintang bernama Fomalhaut dengan gabungan foto teleskop ruang angkasa Hubble dan sejumlah teleskop terestrial.


WAH
Sumber : SPACE.COM

Pada 2100, Permukaan Laut Naik Satu Meter

Jumat, 10 Oktober 2008 | 18:21 WIB

BERLIN, KAMIS - Permukaan laut diperkirakan akan naik setinggi satu meter pada akhir abad ke-21. Demikian laporan yang dilansir sebuah lembaga riset terkemuka Jerman Kamis (10/10). Menurut lembaga itu, kenaikan ini jauh lebih tinggi ketimbang proyeksi paling optimis yang disampaikan panel iklim PBB, IPCC (Intergovernmental Panel for Clomate Change).

"Kita sebaiknya bersiap-siap dalam menghadapi naiknya permukaan laut setinggi satu meter pada abad ini," kata Joachim Schellnhuber, kepala Institut Postdam bagi Riset Dampak Iklim (PIK), yang memberikan nasehat kepada pemerintah dalam kebijakan lingkungan.

Tingkat pencairan es di Himalaya dan Greenland telah meningkat menjadi dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat dalam beberapa tahun belakangan ini. Sebagian karena faktor naiknya emisi gas rumah kaca dari berbagai pembangkit listrik China.

Pada Februari 2007, dalam volume pertama laporan bersejarahnya, IPCC meramalkan kenaikan permukaan berbagai samudera antara 19 sentimeter hingga 59 sentimeter pada 2100. Kenaikan permukaan laut satu meter saja boleh jadi akan membuat pulau-pulau di Samudera Pasifik yang letaknya rendah, seperti Tuvalu, akan terendam, dan banjir besar akan menggenangi Bangladesh dan mengancam kota-kota, dari New York hingga Buenos Aires.

suber: http://www.kompas.com

Awas, 2 Jenis Gas Memperburuk Efek Rumah Kaca

Minggu, 26 Oktober 2008 | 09:56 WIB

WASHINGTON, MINGGU - Selain karbon dioksida, ada dua gas lagi yang dikhawatirkan mempercepat pemanasan global lebih buruk lagi. Keduanya adalah metan dan nitrogen triflorida yang berasal dari tanaman purba dan teknologi layar flat-panel.

Menurut para pengamat lingkungan, kedua gas tersebut menimbulkan efek rumah kaca seperti karbon dioksida. Bahkan, kedua gas tersebut memberi efek hampir sama dari yang disebabkan karbondioksida. Penelitian terbaru menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir efek kedua gas tersebut semakin meningkat di luar perkiraan. Para pengamat cuaca juga terkejut dengan peningkatan tersebut.

Selama ini gas metan masih menjadi kekhawatiran terbesar setelah karbon dioksida. Pasalnya, gas tersebut dianggap sebagai gas efek rumah kaca kedua setelah karbon dioksida berdasar besarnya efek pemanasan yang dihasilkan dan jumlahnya di atmosfer. Gas metan menyumbang sepertiga dari efek karbondioksida terhadap pemanasan global.

Metan berasal dari gas alamiah, pertambangan batubara, kotoran hewan dan tumbuhan yang telah membusuk. Hal yang paling dikhawatirkan para ilmuwan adalah tumbuhan yang membusuk. Beberapa ribu tahun yang lalu, miliaran ton metan terbentuk dari pembusukan tumbuh-tumbuhan Arktik di Kutub Utara. Tumbuhan itu membusuk dan membeku di dasar laut. Saat kutub utara mulai menghangat, metan yang tersimpan di dasar laut itu dapat mempercepat pemanasan di kawasan itu.

Para ilmuwan telah berupaya untuk mempelajari bagaimana proses tersebut akan bermula. Saat ini data yang terkumpul masih berupa data awal, belum ada kesimpulan. Tetapi para ilmuwan tersebut mengatakan apa yang mereka lihat di awal ini adalah permulaan pelepasan metan di kutub utara.

Berdasar pengamatan mereka, dalam delapan tahun terakhir kadar metan di atmosfer masih stabil yang diperkirakan setiap 40 menit oleh monitor pengawas dekat tebing di tepi laut. Tetapi pada 2006 hasilnya menunjukkan terjadinya peningkatan. Jumlah gas metan di udara melonjak dari sekitar 28 juta ton pada Juni 2006 hingga Oktober 2007. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 5,6 miliar ton metan di udara.

"Jika hal ini terus terjadi, maka akan buruk efeknya," tutur ilmuwan atmosfer MIT Ron Prinn, kepala studi metan, seperti yang dipaparkannya dalam jurnal Riset Geofisik edisi 31 Oktober. "Saat kadar metan terus meningkat, tentunya akan mempercepat perubahan iklim," tuturnya.

Diremehkan

Di lain pihak, kadar nitrogen triflorida di udara diperkirakan meningkat empat kali lipat beberapa tahun terakhir dan 30 kali lipat sejak 1978. Namun, peningkatan tersebut hanya menyumbang 0,04 persen dari total efek pemanasan global yang disebabkan oleh karbondioksida. Gas ini biasanya digunakan sebagai semacam pembersih pada industri manufaktur televisi dan monitor komputer serta panel.

Nitrogen triflorida yang dihiting dengan skala bagian per triliun di udara selama ini memang dianggap ancaman tak berarti. Menurut profesor geofisika Ray Weiss di Lembaga Oseanografi, upaya awal untuk mengetahui jumlah gas tersebut di udara memang diremehkan mengingat jumlahnya yang tak terlalu besar.

Tetapi gas tersebut justru dikategorikan sebagai salah satu gas yang lebih berbahaya karena ratusan kali lebih kuat menyimpan panas daripada karbondioksida. Sedangkan metan hanya 20 kali lebih berbahaya dari karbondioksida per basis molekul. Karbondioksida masih menjadi gas yang paling berbahaya karena kadarnya yang sangat tinggi dan pertumbuhannya yang cepat.

Menurut ilmuwan lingkungan Orjan Gustafsson dari Universitas Stockholm, sebuah survei di musim panas ini menemukan kadar metan di Laut Siberia timur meningkat dari 10.000 kali lebih tinggi dari kadar normalnya. Ilmuwan di bidang lingkungan Stephen Scheneider dari Universitas Stanford juga memperingatkan peningkatan dua gas tersebut adalah fenomena baru.

"Kita perlu yakin dengan semua hal baru ini sebagai kecenderungan global yang perlu diwaspadai," ujarnya.


MYS
Sumber : AP/http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/26/09560331/awas.2.jenis.gas.memperburuk.efek.rumah.kaca.

30 Penyakit Baru Muncul Akibat Pemanasan Global

JAKARTA, SABTU - Berdasarkan Data Organisasi Kesehatan dunia (WHO) sebanyak 30 penyakit baru yang muncul sepanjang tahun 1976-2008 akibat perubahan iklim dan pemanasan global. Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup, Amanda Katil Niode mengatakan munculnya penyakit ini karena temperatur suhu panas bumi yang terus meningkat.

"Yang paling jelas kelihatan penyakit demam berdarah, kolera, diare, disusul virus ebola yang sangat mematikan," katanya di sela-sela penganugerahan Raksaniyata 2008 di Jakarta, Jumat (14/11). Menurut dia, masalah kesehatan akibat pemanasan global memang sangat dirasakan parahnya oleh negara-negara berkembang yang sebagian masih miskin karena minimnya dana sehingga tak mampu lagi melaksanakan berbagai program persiapan dan tanggap darurat.

Untuk mengatasi dampak buruk perubahan iklim terhadap kesehatan manusia itu, tidak bisa dilakukan sendiri oleh masing-masing negara. Upaya itu baru akan berhasil jika dilakukan melalui kerja sama global, seperti misalnya meningkatkan pengawasan dan pengendalian penyakit-penyakit infeksi, memastikan penggunaan air tanah yang kian surut, dan mengkoordinasikan tindakan kesehatan darurat.

"Itu semua penting dilakukan, karena perubahan iklim jelas-jelas akibat dari kegiatan manusia yang tak peduli terhadap keseimbangan alam, yang kemudian berimplikasi serius terhadap kesehatan publik," ujarnya.

Selain menyebabkan gangguan kesehatan, perubahan iklim juga mengakibatkan berbagai bencana alam yang sangat besar. Sepanjang tahun 2006 telah terjadi 390 bencana besar di dunia yang banyak menelan korban.

"Amerika Serikat paling banyak terjadi bencana dibanding negara-negara lain, tetapi untuk jumlah korban paling banyak saat tsunami terjadi di Aceh pada 2004 lalu," jelasnya.

Di Indonesia sendiri, kata dia, bencana alam banyak terjadi akibat kesadaran masyarakat yang lemah, seperti pembalakan liar, kebakaran hutan, dan pembuangan karbon dioksida (CO2). Agar bencana alam dapat diminimalisir diperlukan sinkronisasi antara pemerintah, dunia usaha dan individu.


WAH
Sumber : Antara/http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/15/10213537/30.penyakit.baru.muncul.akibat.pemanasan.global.

Prediksi Puting Beliung Masih Sangat Terbatas

http://www.kompas.com

JAKARTA, SENIN - Kemampuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dalam memprediksi kejadian angin kencang atau puting beliung masih sangat terbatas. Gejala puting beliung tak terpantau lewat citra satelit, hanya terpantau melewati radar doppler yang baru dimiliki institusi ini sebanyak lima unit, dan jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan yang semestinya mencapai ratusan radar.

”Lima radar itu sekarang terpasang di Nanggroe Aceh Darussalam, Batam, Pontianak, Ujung Pandang, dan Surabaya,” kata Kepala Subbidang Informasi Meteorologi Publik pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kukuh Ribudianto, Minggu (12/10).

Menurut Kukuh, puting beliung tumbuh pada masa transisi, seperti akhir-akhir ini, dari musim kemarau menuju mu- sim hujan. Puting beliung yang terjadi di Nusa Tenggara Ti- mur dan Jawa Timur pada pekan lalu cukup merusak, dengan kategori kecepatan angin melampaui 25 knot atau 45 kilometer per jam.

Puting beliung itu tumbuh seiring pembentukan awan kumulonimbus yang memiliki ciri pertumbuhan awan hujan relatif sangat cepat. Perbedaan suhu tinggi di daratan dan suhu rendah di awan itu cukup drastis sehingga terjadi perbedaan tekanan drastis yang mendorong terciptanya puting beliung.

”Dengan radar doppler dapat dilihat potensi pembentukan puting beliung ini. Prediksinya dapat disampaikan antara 2 sampai 3 jam sebelum kejadiannya sehingga dampak atau risiko bisa diminimalisir,” kata Kukuh.

Menyimpang

Secara terpisah, anggota Komisi Sains Dasar Dewan Riset Nasional (DRN) Paulus Agus Winarso mengatakan, puting beliung akhir-akhir ini sudah menyimpang dari pola normal. Saat kejadian puting beliung, pola angin masih angin timur yang sebelumnya sama sekali jarang menimbulkan puting beliung.

”Puting beliung pada masa transisi biasanya setelah angin barat berlangsung,” kata Paulus.

Menurut Paulus, puting beliung seperti di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur itu bisa dikaji sebagai dampak perubahan iklim. Akan tetapi, kelemahan sistem di Indonesia hingga sekarang tidak memiliki database atau data dasar untuk menyatakan hal itu sebagai dampak perubahan iklim.

”Itulah yang terjadi. Sampai sekarang analisis mengenai iklim dan cuaca masih didasarkan data-data global, tidak pernah data-data nasional,” ujar Paulus.

Menurut Paulus, pemerintah semestinya menyusun data dasar iklim untuk mendukung berbagai kejadian alam masuk kategori dampak perubahan iklim. Manfaatnya ke depan untuk menopang upaya adaptasi dan mitigasi bencana.

Data dasar yang harus disusun untuk penetapan dampak perubahan iklim, menurut Paulus, minimal data iklim periode normal, iklim yang berpengaruh pada pertanian, berpengaruh pada bencana, dan iklim yang berpengaruh pada kelautan.

”Pada tahun 1980-an masih jarang terjadi puting beliung. Kasus yang kerap terjadi seperti sekarang tentu ekses dari perubahan lingkungan dan perubahan iklim,” kata Paulus. (NAW)