Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2010

Reshuffle Cermin Disharmonisasi Pemerintah

Reshuffle Cermin Disharmonisasi Pemerintah


Setelah mengikuti arus persidangan Pansus yang terus berjalan, dinamika politik pemerintah semakin klimaks dan memanas. Berbagai opini dan fakta terus bertambah dan mengerucut pada kesimpulan awal Pansus Century. Lantas, sudahkah ada beberapa indikator yang jelas terkait kasus skandal besar ini?.

Pansus Century adalah panitia khusus yang dibentuk dari beberapa Fraksi Partai politik di dalam parlemen yang berjalan sesuai amanah undang-undang untuk mengungkap kasus besar skandal Century yang terindikasi merugikan negara.


Kesimpulan awal Pansus century dalam waktu dekat ini yang diikuti 9 Fraksi di DPR mengundang berbagai respon publik. Pasalnya, ada beberapa Fraksi yang berkoalisi dengan pemerintah dinilai tidak pro-aktif dengan Partai yang dominan di pemerintahan. Ada empat Fraksi dari enam jumlah Fraksi koalisi pendukung presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan pasangannya Budiono terindikasi menyudutkan pemerintah, di antaranya adalah Golkar, PKS, PAN, dan PPP. Keempat Fraksi tersebut telah mengungkap adanya indikasi korupsi dalam bailout (pemberian dana talangan) Bank Century.


Pada dasarnya keempat Fraksi tersebut adalah mitra koalisi yang harus berjalan bersama dan bahu membahu dengan pemerintah ketika pemerintah diterpa permasalahan. Namun, di awal kesimpulan sudah ada indikasi tidak sehat yang menyebar secara sporadis di masyarakat, bahwa Partai pendukung pemerintah saat ini mulai berseberangan bahkan menandakan sinyal akan adanya kebijakan reshuffel yang dinyatakan oleh Partai Demokrat sebagai Partai dominan di pemerintah.


Sikap keempat Fraksi tersebut bahkan sejalan dengan pandangan Fraksi non koalisi, yakni PDI Perjuangan, Gerindra dan Hanura yang sebelumnya juga paling kuat menyatakan terjadi indikasi korupsi dalam proses bailout Century. Hanya Fraksi Demokrat dan PKB yang menyatakan proses bailout Century tersebut tidak berindikasi adanya tindak pidana korupsi pada kesimpulan awal Pansus.


Isu yang dihembuskan oleh sekjen DPP Partai Demokrat Amir Syamsudin dan wakil ketua umum Partai Demokrat beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa akan adanya reshufe kabinet bisa mungkin terjadi dalam waktu dekat ini, sebab dinilainya Partai mitra koalisi sudah kelewatan batas dan berada di luar koredor dengan menyudutkan posisi pemerintah saat ini.

Respon isu Reshuffle semakin menjalar kemana-mana. Sebelumnya ada dua Fraksi mitra koalisi yang sering mengkritisi posisi pemerintah dari awal sidang Pansus ini yaitu Golkar dan PKS. Dua Partai besar tersebut dianggap sudah berseberangan dalam koalisi hanya karena sering mengeluarkan statmen yang kritis di sidang Pansus Century.

Sungguh akan terlihat aneh apabila isu reshuffle didasari sikap Partai-Partai anggota koalisi yang kritis terhadap pemerintah dalam panitia khusus angket Bank Century, dan sangat naif jika gara-gara sikap kritis di Pansus tersebut Partai Demokrat mengultimatum mitra koalisinya.


Partai Demokrat dinilai terlalu bersikap terburu-buru dan melangkahi kebijakan presiden SBY dalam memutuskan kebijakan reshuffle. Hal itu akan menjadi bumerang bagi Partai Demokrat terhadap citra politiknya sendiri jika isu reshuffle dijadikan batu loncatan untuk menghindari fakta hukum di dalam sidang Pansus ini, padahal sebelumnya SBY selalu memberikan arahan terhadap Partai koalisi dan sepakat untuk mengusut kasus Century ini. Artinya, Demokrat tentu juga sudah mendapatkan restu dari Dewan Pembinanya untuk membuka kasus ini secara terang-benerang. Dengan demikian Partai Demokrat juga dinilai inkonsisten dan telah melakukan intervensi dengan mengancam reshuffle kabinet yang sejatinya dapat merusak citra soliditas koalisi yang reformis menjadi koalisi anti reformasi.


Perlu Kearifan


Dari berbagai gejala sebagaimana disitir diatas, maka ini sangat membutuhkan kearifan seorang Yudhoyono dalam menentukan sikap. Presiden punya hak dalam menentukan ini. Adanya isu reshuffle merupakan indikasi bahwa ada sebuah kekhawatiran yang menjelma akan gagalnya Yudhoyono memimpin bangsa ini dan dimungkinkan juga isu ini penuh dengan muatan politis. Artinya, sebagaimana disebutkan dimuka yakni ada orang yang ingin masuk pada kabinet. Ini tak mustahil terjadi, karena dalam pergulatan politik sesuatu yang kontradiktif adalah merupakan sebuah kewajaran.

Seandainya presiden tak arif dalam memutuskan ini, maka ini seakan menjadi bumerang dan polusi dalam kabinetnya. Dalam artian, ketika Yuhoyono menghendaki adanya reshuffle dalam kabinetnya, dan ternyata ini salah. Maka yang terjadi bukanlah perbaikan negara, namun kesemrawutanlah yang akan muncul. Sebaliknya, jika Yudhoyono pun tak melakukan reshuffe yang semestinya ia lakukan karena kinerja menteri yang kacau. Maka statis dan kemandegan akan menerpa Indonesia ditengah kemajuan negara lain. Ini Ibarat makan buah simalakama, dimakan akan jadi penyakit dan tidak pun jadi penyakit. Disinilah kearifan Yudhoyono sangat diperlukan. Dengan kata lain, reshuffle akan menjadi solusi ketika memang benar - benar itu dibutuhkan guna kemajuan negara. Dan reshuffle bisa menjadi polusi bangsa tatkala itu tak dibutuhkan, dan malah dinilai akan menambah persoalan bangsa semakin kompleks.


Untuk memutuskan Reshuffle atau tidak, seharusnya SBY tidak perlu gerah dan tergesa-gesa mengambil keputusan. Tentunya SBY yang terkenal memiliki kepribadian yang bijak dan santun, diharapkan lebih mempertimbangkan politik secara matang dan bijaksana. Karena bisa dipungkiri jika reshuffle benar-benar terjadi, komitmen berkoalisi selama lima tahun ke depan akan pupus di tengah jalan dan jauh dari yang dicita-citakan, keputusan reshuffle tersebut terkesan bersifat emosional dan hanya melihat kepentingan sesaat. Koalisi dibangun bukan atas politik yang berorientasi kekuasaan semata, namun harus sejalan pada komitmen awal untuk saling membantu, menghargai dan membangun dalam wadah kebersamaan. Apabila Reshuffle kabinet benar-benar terjadi rakyat akan menilai bahwa telah terjadi disharmonisasi dalam tubuh pemerintah saat ini.


(Agus Koribul Ahwan, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang sekaligus aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) daerah Semarang).


Senin, 12 Oktober 2009

Peran Mahasiswa Tanggap Bencana

Mahasiswa mempunyai icon ‘agent social of change’, sebagai agen perubah sosial di masyarakat. Apakah itu betul? Sekarang pertanyaanya seberapa jauhkah peran akademis mahasiswa dengan peran sosial seimbang atau bahkan non-balance ketika diaktualisasikan di lapangan masyarakat?.

Melihat realita saat ini peran mahasiswa di masyarakat tidak harus menunggu lama dari masa studinya. Biasanya lewat beberapa kegiatan social masyrakat seperti agenda bhakti social di sebuah organisasi intra kampus ataupun ekstra kampus, peran mahasiswa dapat diaktualisasikan secara baik dan berkesan di masyarakat.

Peran mahsasiswa pada situasi yang lain juga dapat ditunjukkan dengan aksi peduli terhadapa korban bencana yang terjadi di tanah air. Bencana alam yang terjadi di negeri ini tidak semestinya hanya diperhatikan oleh segelintir oknum saja, namaun beberpa pihak yang lainnya tak terkecuali kepedulian orang-orang yang berada dalam kampuspun sangat dibutuhkan ulur tangannya bagi para korban bencana yang terjadi di tanah air ini.

Beberapa kampus yang sudah menggerakkan Mahasiswanya untuk berkiprah langsung di daerah bencana adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. UGM mendelegasikan 40 mahasiswanya untuk melakukan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) pembelajaran pemberdayaan Masyrakat (PPM) dengan tema peduli bencana di Padang pariaman, Sumatra Barat.

Sebuah ide yang cemerlang tentunya perlu diapresiakan dari ketua Tim Disaster Early Response Unit (DERU) UGM Yogyakarta, Joko Prastowo. Disampaikan bahwa para mahasiswa akan belajar dan berkiprah sebagai relawan di lokasi bencana selama 1 bulan untuk aktif melakukan berbagai kegiatan program tanggap darurat bencana seperti membantu, menyelamatkan korban, harta benda, evakuasi dan pengungsian. Selain itu, peran penting yang lain adalah memeberikan bantuan psikologis agar masyrakat cepat bangkit dari penderitaan dan keterpurukan hidup akibat bencana gempa.

Dari contoh di atas tentunya menjadi catatan yang patut ditiru dan diaktualisasikan oleh civitas akademik yang berada di kampus lain di tanah air ini. Dari hal itu, tampak jelas bahwa peran aktif mahasiswa di bidang sosial kemasyarakatan terbukti dan tidak harus menunggu setelah proses studi selesai.

Andaikan kepedulian sebagai wujud simpati dan empati terhadap para koraban bencana di tanah air ini diaktualisasikan oleh semua pihak, lebih-lebih ditanamkan dalam program studi di lembaga pendidikan tentunya ada apresiasi tersendiri bangsa kita dalam mewujudkan nilai-nilai sosial sebagaimana esensi dari tujuan pendidikan nasional.


Selasa, 22 September 2009

Buya Prof Dr HAMKA: Ulama Pejuang, Politisi Sejati dan Pujangga Terkemuka

BUYA HAMKA adalah potret ulama kharismatik, politisi sejati dan pujangga terkemuka yang memilih berkiprah dalam perjuangan pembentukan karakter ummat dan bangsa.

cover-e-book-buya-hamka.jpg

Buya Hamka bukan sosok ulama istana, beliau adalah ulama pejuang yang berhasil menjadi peletak dasar kebangkitan komunitas islam modern atau kaum gedongan di Ibukota lewat icon al azhar yang pada akhirnya berhasil pula melebarkan sayap sebagai lembaga pendidikan modernis dan agamis.

Sebagai politisi buya hamka patut menjadi teladan, Pandangan dan keyakinannya senantiasa lurus – lurus saja memperjuangkan aspirasi ummat, beliau bersama tokoh-tokoh Masyumi lainnya adalah para pejuang Islam yang gigih dalam mengajukan konsep-konsep Islam, secara ilmiah dan argumentatif. Tetapi, juga konsisten dalam memegang teguh aturan main secara konstitusional. Ketika perjuangan melalui jalur partai politik terganjal, buya hamka dan para tokoh Masyumi memilih hijrah dengan menempuh jalur dakwah di masyarakat, masjid, pesantren, dan perguruan tinggi. Karena sesungguhnya dakwah adalah laksana air yang mengalir, tidak boleh berhenti, dan tidak bisa dibendung.

Sikap Istiqomah menjadi garda terdepan walau harus menghadapi tangan – tangan besi kekuasaan yang terbukti berhasil menjebloskannya ke penjara.

Penjara badaniah tak sekalipun kuasa memenjarakan kebesaran jiwa seorang hamka yang tetap merdeka, sejarah pula yang akhirnya mencatat bahwa dari dalam penjara lahir karya terbesar buya hamka yang membuatnya dikenal hingga ke mancanegara, Tafsir Al Azhar adalah satu – satunya Tafsir Al Qur’an yang ditulis oleh ulama melayu dengan gaya bahasa yang khas dan mudah dicerna.

Bukan Sekedar itu karya sastra buah penanya tak kalah hebatnya, beberapa novelnya seperti Dibawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj , Merantau ke Deli dan banyak karya – karya beliau ternyata tidak hanya dipublikasikan oleh penerbit nasional sekelas Balai Pustaka dan Pustaka Bulan Bintang melainkan juga diterbitkan di beberapa negara asia tenggara bahkan di release juga diberbagai situs, blog dan media informasi lainnya.

Pendek kata karya besar buya hamka saat ini telah mendunia meski ironisnya di negeri sendiri sudah jarang generasi muda yang mengenal sosoknya yang fenomenal.

Sikap Istiqomah yang dicontohkan buya hamka bisa menjadi inspirasi bagi kita, beliau bukan alumni perguruan tinggi manapun namun banyak sekali kalangan yang menuliskan di depan namanya gelar atau title Prof Dr, siapa yang bakal menyangka jika seorang yang pada awalnya belajar secara otodidak belakangan justru banyak di berikan gelar doctor honoris causa oleh banyak universitas terkemuka.

Karya – karya buya hamka terutama di bidang sastra memang telah melambungkan nama bangsa, mengharumkan nusantara hingga ke manca negara.

Simaklah petikan puisi yang dituliskannya secara khusus untuk Pak Natsir, Puisi yang ditulis Buya Hamka pada tanggal 13 November 1957 setelah mendengar uraian Pidato Natsir yang dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara RI.

Kepada Saudaraku M. Natsir
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu …….!

Jalan Istiqomah yang dilalui dalam setiap jejak pergerakan dan perjuangan buya hamka untuk memajukan kaumnya merupakan rintisan yang seharusnya bisa diteruskan dari generasi ke genarasi. Benarkah ?!?!

Sumber : http://id.Wikipedia.org , http://gaffasjr.blog.com/, http://bulanbintang.wordpress.com

Rabu, 22 Juli 2009

Seni Membangun Jaringan

Dalam rangka meningkatkan nilai dan kualitas kehidupan, kita memerlukan teman, relasi, kolega, mitra atau orang-orang yang dapat mendukung kita baik dalam pengembangan kehidupan pribadi maupun profesional kita. Kualitas kehidupan kita sangat ditentukan oleh kualitas Jaringan (network) orang-orang dalam kehidupan kita. Sehingga penting bagi kita untuk dapat memahami dan menguasai keterampilan membangun dan memelihara Jaringan kehidupan kita untuk mencapai impian-impian kita.

Kunci utama keberhasilan dalam membangun jaringan adalah mengetahui persis jaringan seperti apa yang hendak kita bangun. Kita harus memulainya dengan menemukan maksud atau misi kehidupan kita.Tidak mungkin seseorang memulai suatu usaha dalam hidup ini tanpa mengetahui arah mana yang akan ditujunya. Tidak ada keberhasilan yang bisa dicapai tanpa tujuan yang jelas. Berdasarkan survei, 27% dari semua orang di dunia ini sama sekali tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidupnya. Enam puluh persen (60%) dari mereka mempunyai tujuan yang agak samar-samar, 10% dari mereka mempunyai tujuan yang jelas. Sisanya, 3% dari mereka bahkan menuliskan tujuan mereka. Orang yang menuliskan tujuan hidupnya tersebut sekarang memiliki hidup yang jauh lebih baik, penghasilan ribuan kali lebih besar dari yang lainnya.

Untuk berhasil dalam kehidupan, kita perlu bantuan orang-orang di sekeliling kita. Dengan kata lain, sukses selalu merupakan suatu dari usaha tim. Sayangnya, kita sering melupakan hal ini dan lalai memelihara kontak profesional kita. Kita mengisolasi diri dan terlalu sedikit menghabiskan waktu untuk memelihara persahabatan. Sesungguhnya, semakin jauh kita maju dalam perjalanan menuju sukses, kita akan semakin menyadari bahwa yang membuat kita sukses bukanlah uang, gagasan atau antusiasme semata, melainkan orang lain. Kontak, uang, gagasan, dan antusiasme memang penting dan harus ada, tetapi semua itu tidak cukup kalau kita tidak mempunyai orang yang dapat kita andalkan.
Belajarlah menyukai orang. Siapa pun yang tidak dapat membangun kerja sama dan persahabatan dengan orang lain tidak akan pernah mencapai sukses.


Membangun jaringan adalah suatu seni karena tidak ada rumusan pasti tentang cara membangunnya. Jaringan bukan hanya sekedar kumpulan daftar nama atau urutan abjad dari relasi kita. Kita bisa mengumpamakan jaringan seperti sebuah taman bunga yang penuh dengan aneka jenis tanaman. Keindahan dan kesuburannya tergantung pada kita sendiri sebagai tukang kebun. Sebagai tukan kebun, kita harus merancang landscape-nya dan menentukan komposisi tanaman di dalamnya. Kemudian, kita juga harus memelihara dan merawat setiap tanaman agar tumbuh subur dan berbuah pada masanya dengan penuh kasih dan kepedulian. Beberapa tanaman mungkin perlu disiram, yang lainnya perlu dipupuk, atau sebagian lain perlu dipangkas atau bahkan dicabut agar tidak merusak tanaman lainnya.

Bila kita tidak merawatnya, taman kita menjadi penuh dengan semak belukar. Taman tidak bisa menghasilkan bunga-bunga indah atau buah-buahan segar. Taman tidak berkembang dan tanaman tidak tumbuh dengan subur. Memang seperti itulah jaringan kehidupan yang kita miliki. Jika kita mengembangkan dan merawatnya, suatu saat kita akan menikmati hasilnya pada kehidupan kita selanjutnya.


Hal terpenting lainnya adalah reaching out yang terdiri atas beberapa langkah, seperti:
• Menyapa (dengan senyum, ramah dan tulus) setiap orang yang berada dalam jarak kurang dari 1 meter dengan kita (di bis, kereta api, pesawat udara, atau dalam lift, dan lain-lain)
• Menyebarkan kartu nama ke setiap orang yang baru Anda kenal,
• Hadiri setiap undangan pesta atau pertemuan apa saja (bahkan melayat orang meninggal atau menjenguk orang sakit).
• Berkenalanlah. Hal yang terburuk yang dapat terjadi adalah orang tersebut tidak merespon Anda (dan biasanya ini sangat jarang terjadi). Kalau Anda tulus mengajak berkenalan tanpa bermaksud mencari keuntungan atau seakan memanfaatkan dia, setiap orang akan membalas sapaan tulus yang Anda berikan.
• Prospekting harus dilakukan setiap saat. Kita harus mengulang-ulang proses ini sampai kita mahir dan menjadilan hal tersebut sebagai kebiasaan baru). Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam membangun jaringan. Menurut pengalaman mereka yang sukses, untuk menjadi sukses kita harus bergaul dengan mereka yang sukses. Charles-Albert Poissant dalam bukunya yang berjudul Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan Terkemuka Dunia memberikan kesimpulan bahwa untuk menjadi seperti para jutawan terkemuka, kita harus mengembangkan jaringan karena jaringan akan membantu kita menaiki jenjang sukses lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Walaupun begitu, kita hendaklah berhati-hati dalam memilih teman, terutama yang ada hubungannya dengan bisnis. Hindarilah orang-orang yang selalu gagal, manipulator (selalu bersiasat dengan manuver yang tidak beres untuk mencari keuntungan sendiri atau menipu), dan orang yang selalu berpikiran picik. Hindarilah mereka yang selalu pesimis dan berpikiran negatif.
Dengan bersekutu dengan orang yang selalu berhasil peluang berhasil kita menjadi jauh lebih besar. Oleh karena itu, kalau kita ingin maju, bergabunglah dengan orang yang berpandangan jauh ke depan (visioner).
Bangunlah kelompok Anda sendiri. Pilihlah orang yang terpercaya, lebih baik teman-teman Anda, terutama orang-orang yang bersikap mental positif. Ini mutlak. Orang yang cepat menyerah kalah akan merugikan seluruh kelompok. Poissant selanjutnya menganjurkan untuk membuat kelompok sebanyak tiga atau empat orang. Suatu kelompok yang menjadi “otak kolektif” Anda. Mereka harus mempunyai cita-cita yang sama (misalnya menjadi kaya).
Adakan pertemuan secara tetap, lebih baik pada waktu-waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Tentukan topik tertentu. Jangan pendam ide-ide Anda. Biarkan imajinasi Anda bekerja. Mungkin Anda akan heran karena banyaknya gagasan yang muncul dalam pertemuan seperti itu. Sesudah curah pendapat (brainstorming), perhalus gagasan Anda. Cobalah analisis semua implikasi, penerapan, dan kemungkinan konkret. Paparkan rencana Anda. Kritik dan saran yang konstruktif dari orang lain akan membantu Anda menimbang segala pro dan kontra.
Pertemuan seperti itu tidak hanya untuk mencari ide-ide semata, tetapi juga digunakan untuk membicarakan kesulitan dan masalah yang Anda jumpai dalam kehidupan Anda. Selain itu bicarakan sebuah buku yang telah Anda baca minggu itu. Bicaralah tentang strategi.
Akhirnya dapat saya sampaikan bahwa untuk mengubah kehidupan kita, kita harus berubah dan membangun jaringan kehidupan lebih baik. Memang, pada awalnya hal ini sulit dan berat karena kita harus keluar dari zona kenyamanan kita terlebih dulu. Tetapi kita harus ingat bahwa kitalah satu-satunya yang dapat mengubah realitas kehidupan kita.

Bagaimana Memelihara Jaringan Kita
Merawat dan memelihara jaringan adalah sama pentingnya dengan membangun atau mengembangkan jaringan. Harvey Mackay menulis sepuluh daftar teratas untuk tetap berhubungan dengan jaringan kita. Kesepuluh daftar tersebut yaitu:

Manfaatkanlah kalender secara kreatif.
1. Ingat peristiwa-peristiwa penting dalam komunitas kita.
2. Amatilah perubahan-perubahan yang terjadi pada pribadi/organisasi /perusahaan pada jaringan kita.
3. Kirimlah telegram, fax, atau e-mail.
4. Kliping peristiwa penting yang terjadi pada jaringan kita.
5. Manfaatkan tempat singgah kita secara konstruktif.
6. Jadilah perantara yang mampu menangani komunikasi di antara pihak yang sedang bertikai.
7. Telepon mereka sewaktu mereka ditimpa kemalangan.
8. Laporkan pada jaringan kita perubahan besar dalam situasi kita.
9. Hadirilah setiap undangan.
Pada dasarnya ada dua cara untuk tetap memelihara dan merawat jaringan kita, yaitu cara proaktif dan cara positif-reaktif. Cara proaktif berarti kita secara rutin dan terus menerus memelihara dan berusaha menghubungi jaringan kita secara kreatif. Sedangkan cara positif-reaktif berarti kita selalu merespon atau menanggapi secara positif dan melakukan kontak kepada jaringan atas berbagai peristiwa penting atau perubahan situasi yang dialami oleh jaringan kita.
Kita bisa menganalogi kedua cara ini dengan teknik memukul bola swing dalam permainan golf. Proaktif mirip ketika kita melakukan backswing dan positif-reaktif mirip ketika kita melakukan forward swing. Forward swing lebih merupakan gerakan lanjutan dari backswing. Jadi, kita harus proaktif terlebih dahulu untuk dapat melakukan positif-reaktif dalam memelihara dan merawat jaringan kita. Kedua cara tersebut harus dilakukan dalam suatu gerakan yang harmonis.
Untuk berhubungan dengan jaringan kita dapat melakukan dengan berbagai cara, seperti pertemuan face to face (one on one), pertemuan kelompok (pesta, event tertentu, dan lain-lain), melalui telepon, telegram, kartu pos, surat, fax, atau e-mail atau bahkan hanya menitip salam melalui jaringan kita yang lain. Gunakan berbagai media atau jaringan kita sendiri untuk senantiasa berhubungan dengan seluruh (atau minimal sebagian besar) jaringan kita.
Kita harus membuat target atau jadwal rutin siapa saja yang harus kita hubungi (meskipun kita tidak mempunyai urusan bisnis tertentu dengan mereka) dan berapa sering kita harus mengontak mereka. Gunakan cara-cara kreatif seperti yang ditulis oleh Harvey Mackay.

Memelihara Jaringan secara Proaktif
Pada dasarnya menjadi tanggung jawab kita untuk selalu memberi perhatian sehingga jaringan kita menyadari bahwa kita masih menjadi relasinya. Kita harus memiliki daftar atau kalender peristiwa penting bagi jaringan kita, seperti hari ulang tahun, ultah pernikahan, atau ultah anaknya, hari-hari besar seperti hari raya keagamaan, dan sebagainya. Cara paling mudah, cepat, dan cukup akrab adalah dengan menggunakan telepon. Buatlah daftar orang-orang yang perlu kita telepon, misalnya minimal 5 orang per hari. Manfaatkan buku telepon secara kreatif.
Hal penting yang harus dijaga dalam cara proaktif adalah seluruh jaringan harus mengetahui setiap perubahan informasi besar yang terjadi pada situasi kita.
Misalnya, pindah alamat, perubahan nomor telepon, perubahan jabatan di kantor, sudah menikah atau belum. Berbagai peristiwa tersebut perlu diketahui oleh jaringan kita sehingga jika kita bertemu dengan mereka suatu saat nanti, mereka merasa nyaman dengan kita.
Cara kreatif lain dalam memelihara jaringan secara proaktif adalah dengan menyiapkan daftar seluruh jaringan yang tinggal di kota yang akan kita kunjungi. Usahakan untuk menghubungi mereka melalui telepon atau menemui mereka jika ada waktu luang.
Kita sering tidak menyadari betapa berharganya memelihara sikap seperti ini sehingga jaringan merasakan adanya perhatian yang tulus dari kita. Sehingga pada saat kita membutuhkan mereka, mereka tidak menganggap bahwa kita hanya menghubungi mereka saat kita membutuhkan mereka saja.

Memelihara Jaringan secara Positif-Reaktif
Intinya adalah kita harus senantiasa mengetahui berbagai peristiwa penting atau perubahan situasi yang dialami oleh jaringan kita. Berbagai informasi penting ini dapat kita peroleh melalui jaringan kita yang lain atau dari yang bersangkutan, dari surat kabar, televisi atau radio (jika jaringan kita pejabat, selebriti, atau public figures lainnya). Amati berbagai peristiwa penting dan perubahan yang terjadi dalam komunitas dalam jaringan kita. Harvey MacKay bahkan menyarankan kita untuk mengkliping setiap peristiwa penting yang terjadi pada jaringan kita.
Kita sebaiknya menunjukkan perhatian kita atas setiap peristiwa penting atau perubahan situasi (baik itu positif atau negatif) yang dihadapi jaringan kita. Salah satu caranya dengan mengirim kartu ucapan selamat, bunga atau parcel, iklan di media massa, telegram, menelpon, atau mengunjungi mereka secara pribadi.
Tunjukkan perhatian bahwa kita peduli dengan peristiwa yang terjadi dalam jaringan kita. Bahkan kita harus siap membantu dengan tulus dan semampu kita dengan memberikan dukungan moril maupun materiil.
Persahabatan sering kali diuji pada saat kesusahan. A friend in need is a friend indeed, demikian kata pepatah Inggris. Jika kita melakukan kebiasaan cara proaktif maupun positif reaktif secara terus menerus, kita akan memiliki sebuah jaringan taman kehidupan yang indah, subur, dan dapat memberi hasil. Seluruh jaringan kita adalah “….seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya …” Mazmur 1:3. Ingat prinsip Stephen Covey – Begin With an End in Mind – Jaringan kitalah yang akan memenuhi iring-iringan pada saat kematian kita nanti dan mereka akan selalu mengenang kita sebagai orang yang peduli kepada orang lain.

Manajemen Prioritas Dakwah Kampus

Dakwah kampus adalah arena yang penuh dengan aktivitas yang dinamis, ditengah-tengah miniatur masyarakat kecil, yaitu masyarakat kampus. Akan ada banyak opsi-opsi yang harus dipilih oleh dakwah kampus dalam menjalankan roda dakwahnya. Oleh karena itu, penting kiranya kita mengkaji mengenai manajemen prioritas.

Kajian mengenai Manajemen Prioritas dalam Dakwah Kampus harus didahului dengan kajian mendalam mengenai Fiqh Prioritas. Jadi, saya menyarankan sebelum membaca tulisan ini, sebaiknya baca dahulu buku Fiqh Prioritas (Fiqh Aulawiyat) yang pernah disusun oleh DR. Yusuf Qardhawi.

Mengenai manajamen prioritas dalam dakwah, ada beberapa hal yang menjadi ruang lingkupnya, agar jelas sudut pandang kita dan tidak terlalu melebar pembahasannya. Berikut ini adalah ruang lingkupnya.

Aulawiyat (prioritas) yang kita pahami dalam konteks da?wah, bukan memilih antara iman dan kufur, al-haq dengan yang al-bathil, antara halal dengan yang haram, antara yang lurus dengan yang menyimpang, atau antara berda?wah dengan tidak berda?wah. Karena dalam hal ini, sudah jelas bahwa keimanan adalah keharusan, sedangkan kekufuran harus ditolak, sebagaimana pernyataan Laa ilaaha illallah yang menolak semua tuhan-tuhan itu, kecuali Allah SWT. Begitu pula antara al-haq dengan al-bathil, al-haq adalah barisan yang harus kita ikuti, sedangkan al-bathil harus ditinggalkan. Dan seterusnya.

Aulawiyat di sini adalah dalam hal memilih satu atau sebagian dari sejumlah perkara yang halal. Lalu dari perkara-perkara halal tersebut, kita memilih mana yang afdhal dari yang mafdhul, mana yang ?ashlah? dari yang sholih.

Dan yang perlu dipahami lagi, memilih sesuatu yang diprioritaskan bukan berarti meninggalkan atau membatalkan suatu pekerjaan yang baik demi untuk mengerjakan pekerjaan baik yang lain. Maksudnya adalah mendahulukan mana yang lebih tepat didahulukan, memberinya lebih banyak alokasi dan dukungan waktu, tenaga serta sarana lainnya yang diperlukan. Inilah ruang lingkup kita sebagai batasan kajian Manajemen Prioritas kita.

Aulawiyat merupakan salah satu prinsip fithrah. Dalam Al Qur'an banyak sekali prinsip-prinsip aulawiyat ini, dimana Allah mendahulukan sesuatu dari sesuatu yang lain. Contohnya adalah firman Allah berikut ini:

?Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.? (QS. Al Kahfi: 46)

Ayat di atas menyiratkan bahwa amalan-amalan shaleh adalah lebih baik untuk diprioritaskan ketimbang perhiasan dunia yang disebutkan sebelumnya. Lalu kita lihat contoh ayat berikut ini:

"...Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (QS. Al Ahzab: 6)

Ayat di atas berkaitan dengan hukum waris, dimana orang-orang yang mempunyai hubungan darah adalah orang yang lebih berhak didahulukan dalam hal waris mewarisi.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, berkaitan dengan prioritas dalam hal ibadah:

"Amal yang afdhal adalah yang lebih kontinyu. Dan shodaqoh yang afdhal dikeluarkan saat sedang membutuhkan dan terasa besar pengorbanannya." (Hadits)


Prinsip Prioritas dalam Manajemen Dakwah Kampus

Dalam mengatur jalannya roda dakwah kampus, diperlukan manajemen. Dan dalam manajemen digunakan beberapa prinsip, salah satunya prinsip prioritas untuk memilih beberapa pilihan-pilihan yang berkaitan dengan strategi dakwah kampus secara umum

Di antara pilihan-pilihan itu, lihatlah mana yang lebih kuat korelasinya dengan mempertahankan prinsip dan pilihan mana yang lebih merefleksikan prioritas syar?iyah. Lalu kita juga musti lihat, di antara pilihan-pilihan itu mana yang mempunyai perspektif idiologis, mana yang hanya politis, mana yang teknis, dan mana yang pragmatis. Dalam hal mencapai tujuan dakwah kampus, kita juga harus lihat jangkauan manfaat yang mungkin dicapai dari pilihan-pilihan itu, mana yang lebih luas manfaatnya. Lalu lihat juga mana yang lebih didukung oleh ketersediaan informasi sehingga kita bisa ?well informed? dan ?sound-perception? (tassawur yang tepat). Perlu juga dipertimbangkan mana yang lebih didukung dengan kemampuan atau kafaah untuk komitmen dan konsisten dalam opsi yang dipilih. Dan yang paling penting, pilihan mana yang lebih sesuai dengan tabiat marhalah perjuangan dan kerja da?wah.

Sebagai gambaran, dalam dakwah kampus ada tiga arena yang dilakoni oleh struktur dakwah kampus, yaitu arena da'awi, arena siyasi, dan akademik/profesi. Ketiga arena tersebut merupakan peran dan fungsi mahasiswa. Kalau dilihat dari sudut pandang individu, seorang aktivis dakwah kampus harus tawazun antara peran da'awi, peran siyasi, dan peran akademik tersebut. Artinya, seorang aktivis dakwah kampus, sejatinya harus memiliki kemampuan dakwah dan tarbiyah, kemampuan mengusung perubahan di tengah-tengah masyarakat (khususnya masyarakat kampus), tanpa mengurangi prestasi akademik. Bahkan kalau perlu justru meningkatkan prestasi akademik, karena sejatinya dakwah itu adalah teladan.

Tapi secara kelembagaan, sebuah struktur dakwah kampus ada tahapan yang harus dilalui dalam menyeimbangkan ketiga hal tersebut.

Tahapan pertama yang harus dilalui adalah penetrasi dalam peran da'awi, artinya kaderisasi dan pembinaan sangat ditekankan pada sebuah struktur dakwah kampus yang baru berdiri. Rekrutmen-rekrutmen lebih banyak dilakukan dengan dakwah fardhiyah. Pada tahap ini, dakwah kampus juga harus berupaya memunculkan simpatisan yang loyal terhadap personil aktivitas dakwah kampus. Fungsi mahasiswa yang lebih diutamakan adalah fungsi da'awi, artinya mencetak kader-kader robbani yang muntijah sangat prioritaskan di tahap ini. Sedangkan aktivitas dakwah yang lebih diutamakan adalah aktivitas pelayanan dan aktivitas da'awi.

Jika sudah matang, maka dakwah kampus baru bisa beranjak kepada tahap selanjutnya. Untuk membahas mengenai hal ini, perlu kajian tersendiri. Pada intinya, ada tahapan yang harus ditempuh untuk menuju dakwah kampus yang matang. Dan itu tidak terlepas dari prinsip manajemen prioritas. Tahapan-tahapan tersebut harus dipegang teguh oleh aktivis dakwah kampus dan lembaganya dalam menjalankan roda dakwah di kampus.


Prinsip Prioritas dalam Aktivitas Sehari-hari di Dakwah Kampus

Dalam aktivitas sehari-hari di kampus, akan ada banyak alternatif yang terpampang di depan mata kita, yang harus dipilih dan diutamakan salah satu diantaranya.

Sebagai gambaran, misalnya dalam hal pengelolaan isu-isu, baik itu isu di kampus maupun eksternal kampus. Dakwah kampus harus mampu memilih isu mana yang harus diprioritaskan. Selain itu dalam hal program kerja, biasanya ada program kerja yang harus didahulukan dari program kerja lainnya. Hal ini berkaitan dengan pengendalian dan pengotrolan program kerja. Dalam menetapkan program kerja juga harus dipikirkan mengenai porsi-porsinya, porsi mana yang harus diperbesar antara tabligh, ta'lim ataukah takwin/tarbiyah.


Kendala-kendala

Penerapan prinsip aulawiyat bukan tanpa kendala. Ada beberapa kendala yang menyebabkan manajemen prioritas ini menjadi kacau balau. Kendala-kendala tersebut antara lain adanya penyakit diri, misalnya hawa nafsu yang diperturutkan, adanya urusan duniawi yang mendominasi, atau tidak mau mengeluarkan biaya. Kondisi kultural setempat kadangkala juga mempengaruhi hal ini. Selain itu juga disebabkan adanya konspirasi eskternal yang menginginkan agar cahaya dakwah ini padam.

Demikianlah kajian singkat mengenai manajemen prioritas dalam dakwah kampus. Semoga dapat memberikan pencerahan agar dakwah kampus dapat berjalan dengan baik.[]

Selasa, 30 Juni 2009

Mngenal lebih Dekat Tokoh HAMKA

HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Ishlah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencecah 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA telah mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Bakti HAMKA bermula sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai pensyarah di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau dilantik sebagai Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau dilantik sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan saat Sukarno memberi dua tugas, baik menjadi pegawai kerajaan atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslim Indonesia (Masyumi).

HAMKA lebih banyak belajar sendiri dan melakukan penyelidikan meliputi pelbagai bidang ilmu pengetahuan seperti falsafah, kesusasteraan, sejarah, sosiologi dan politik, sama ada Islam ataupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Freud, Toynbee, Jean Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. HAMKA juga rajin membaca dan bertukar-tukar fikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Chokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fakrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang pemidato yang handal.

HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui perkumpulan Muhammadiyah. Beliau menyertai perkumpulan itu mulai tahu 1925 untuk menentang khurafat, bid’ah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar.

Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Jogjakarta pada tahun 1950. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Julai 1957, Menteri Agama Indonesia yaitu Mukti Ali melantik HAMKA sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudian meletakkan jabatan pada tahun 1981 karena nasihatnya diketepikan oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 saat beliau menjadi anggota partai politik Syarikat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kembalinyai penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan itulah beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an HAMKA menjadi wartawan beberapa buah koran seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Merantau ke Deli.

HAMKA pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doktor Honoris Causa, Universiti al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universiti Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

HAMKA telah pulang ke rahmatullah pada 24 Julai 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai. (V)

Tags:

Sabtu, 15 November 2008

KAMMI dan Kekuasaan

Cerita dalam Film Lord of The Ring sudah selesai kita nikmati. Namun, gema pesan-pesannya tetap terasa menusuk dalam hati. Gema pesan tentang kekuasaan, tentang suatu perjalanan penuh derita menghancurkan cincin yang menjanjikan kekuasaan luar biasa, yang bersumber dari dunia kejahatan.

Cincin kuasa yang menawan hati ini menggoda siapa pun yang memandangnya, pun sampai seorang putri suci-murni yang bernama Galadriel, sesepuh para Elves yang muda abadi, menjadi tergoda untuk memiliki cincin kuasa jahat itu.

Kuasa. Power. Siapa yang tidak tergoda untuk meraih dan memilikinya?

Negara adidaya semacam Amerika Serikat yang baru saja menyelesaikan pesta demokrasinya lalu memenangkan seorang Barack Obama, juga selalu tergoda untuk memiliki kuasa sebesar-besarnya. Mengapa ada ribuan tentara di Irak? Mengapa ada banyak pangkalan angkatan bersenjata Amerika di berbagai tempat strategis di dunia? Mengapa Washington menolak kerja sama PBB dalam mengatasi krisis Irak? Jawabannya adalah kuasa. Kuasa itu patut dan penting serta harus dipertahankan.

Bangsa tercinta Indonesia kita kini sedang mempersiapkan diri untuk pemilu presiden dan wakil presiden. Situasi politik menjadi menghangat kembali. Partai Politik juga sudah menyiapkan segala macam amunisi dan strateginya. Suatu hal yang wajar terjadi dalam negara demokratis yang sehat. Namun, di balik itu ada sesuatu yang sedang terjadi, yakni perebutan kekuasaan. Siapakah yang menang dan menjadi orang pertama dan kedua Indonesia? Siapa yang berhak mendapatkan pelat nomor RI-1 dan RI-2 di sedan hitamnya yang elegan? Siapa yang akan memegang kendali hidup bernegara? Semua pertanyaan ini bisa diringkas menjadi: Siapa yang akan berkuasa di Indonesia?

Demikian Pula dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), sebagaimana Ormas lain di Indonesia, juga akan melakukan regenarasi kepemimpinan pada Muktamar VI di Makasar, Sulawesi Selatan. Siapa yang akan berkuasa di KAMMI? Banyak pihak, kelompok, dan pribadi yang sudah dan mulai bergerak. Saling melirik dan menggandeng ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah. Saling melamar. Ada yang jual mahal. Ada yang tenang, namun banyak juga yang bingung tak tahu arah dan membuat orang lain bingung pula. Semuanya disibukkan oleh mencari pasangan berkuasa untuk persiapan perebutan kuasa. Ini bukan berarti bahwa kuasa itu jahat atau tidak baik, tetapi kita perlu waspada akan kekuasaan itu.

Orlando Petterson, seorang profesor sosiologi di Harvard University, dalam bukunya, Slavery and Social Death (1982), menulis tentang the idiom of power, sebuah analisis sosiologis tentang kekuasaan sebagai suatu introduksi pembahasan tentang perbudakan (slavery). Menurutnya, kekuasaan selalu mengandaikan property atau barang milik. Tidak ada orang yang berkuasa tanpa memiliki sesuatu. Tidak mungkin. Berkuasa identik dengan semakin banyak memiliki sesuatu. Kuasa dan barang milik adalah bagaikan kembar identik. Petterson melanjutkan bahwa properti itu bagaikan a bundle of powers.

Properti juga memiliki dua aspek. Aspek pertama adalah “suatu jaringan relasi sosial yang membentuk suatu hubungan antarpribadi yang terbatas dan sudah ditetapkan”. Aspek yang kedua adalah “obyek”. Obyek di sini mencakup apa pun, termasuk sesama manusia. Di sini Petterson mengingatkan bahwa jika relasi sosial antarsesama manusia menjadi terbatas dan sesama manusia dianggap obyek, hal ini akan mengarah ke suatu perbudakan, yakni menjadikan orang lain sebagai budak yang didefinisikan sebagai socially dead person. Proses terjadinya socially dead person ini dapat digambarkan sebagai berikut: Dengan kuasa, manusia membuat dirinya teralienasi dengan orang lain, sesamanya, dan akhirnya hal ini akan menciptakan suatu social death relations atau social death persons. Kuasa bisa menuntun pada perbudakan sesama manusia.

Tentu saja dalam zaman modern ini tidak mungkinlah slavery itu tampak kasatmata, seperti yang terjadi pada zaman Romawi dengan struktur relasi dominus-captivus (tuan-tawanan; catatan kecil: Mesir kuno mengerti captivus sebagai living dead). Namun, tidaklah mustahil terbentuk suatu struktur dominus-captivus tak kasatmata. Di dunia Barat, struktur itu bisa bersembunyi di balik jargon “demokrasi”. Dengan alasan demokrasi, negara yang adidaya dapat datang menyerbu negara kecil, mengalahkan dan menguasai. Apa bedanya pemaksaan demokrasi ini dengan kolonialisme Julius Caesar dengan semboyannya: veni, vidi, vici?

Di negara Indonesia tercinta, jargonnya adalah “kesejahteraan rakyat”. Jargon indah yang sangat mewarnai rumusan sila-sila dari Pancasila dan UUD 45, dari awal hingga akhir. Jargon luhur ini mudah dieksploitasi. Janji berbunga-bunga menyejahterakan rakyat seakan-akan menjadi refrain kampanye presiden. Hal yang sangat luhur dan patut dipuji! Namun, ingat kisah bermakna Lord of the Rings. Sang putri yang suci luhur pun bisa tergoda untuk memiliki kekuasaan. Hal ini juga berlaku pada para calon penguasa, janji menyejahterakan rakyat karena dibuai oleh kekuasaan bisa menjadi berbalik menjadi jargon “disejahterakan rakyat” atau rakyat harus menjadi captivus, sementara penguasa harus tetap menjadi dominus.

Karena, jika seorang calon penguasa itu menang, pertanyaan kritisnya: menang dari siapa dan menang untuk siapa? Kuasa itu baik, namun sangat-sangat riskan untuk menjadi tempat manusia tergelincir masuk dalam jurang keangkuhan. Sedangkan keangkuhan adalah awal kejatuhan sang penguasa itu. Inilah circulus vitiosus (lingkaran setan) yang dibentuk oleh kekuasaan.

Untuk mematahkan circulus vitiosus ini, struktur dominus-captivus perlu “direvolusi” menjadi minister-dominus (pelayan-tuan). Penguasa mesti tampil sebagai pemimpin yang melayani, dan tuannya adalah rakyat. Rakyat bukannya socially death persons, tetapi tuan. Sebenarnya hal ini bukan ide baru, namun banyak penguasa yang menjadi lupa, dibuai oleh privilege kekuasaannya.

Pemimpin yang melayani, atau ministerial leadership, adalah suatu bentuk ideal kepemimpinan. Para pemimpin dunia yang mengukir sejarah selalu tampil sebagai pemimpin yang melayani. Martin Luther King, Gandhi, dan Dalai Lama tampil sebagai pribadi yang kuat, namun penuh pelayanan bagi rakyat. Para Paus gereja Katolik menyebut diri sebagai servus servorum Dei (pelayan bagi para pelayan Tuhan). Dalam wacana tugas kepresidenan, merenungkan makna kata “menteri” juga membantu kita menangkap dengan mudah makna ministerial leadership. Menteri adalah jabatan tinggi dalam suatu pemerintahan. Kata “menteri” dalam bahasa Inggris disebut dengan minister. Minister berasal dari bahasa Latin, yang berarti pelayan. Jabatan menteri adalah jabatan sebagai “pelayan”. Presiden adalah kepala para menteri. Jadi, presiden adalah kepala pelayan. Indah bukan? Siapa yang menjadi tuan? Rakyat.

Di tengah dinamika demokrasi ditubuh KAMMI untuk mencari mencari ‘penguasa KAMMI’, mari kita membuat agar wacana minister-dominus dan ministerial leadership menjadi wacana publik dan juga menjadi wacana bagi para calon pemimpin bangsa…

Siapkah KAMMI Pusat menjadi Pelayan bagi KAMMI Komisariat yang sekarang lagi kekeringan dan kehausan?

November 7, 2008 by ehenmaru
Filed under Resonansi

Senin, 10 November 2008

kepemimpinan abad 21

oleh: Ahmad Kurnia

Uraian dan pemikiran mengenai kepemimpinan Abad 21 ini beranjak dari pandangan bahwa pemimpin publik harus mengenali secara tepat dan utuh baik mengenai dirinya mau pun mengenai kondisi dan aspirasi masyarakat atau orang-orang yang dipimpinnya, perkembangan dan permasalahan lingkungan stratejik yang dihadapi dalam berbagai bidang kehidupan utamanya dalam bidang yang digelutinya, serta paradigma dan sistem organisasi dan manajemen di mana ia berperan. Tanggung jawab pemimpin adalah memberikan jawaban secara arief, efektip, dan produktif atas berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi zamannya, yang dilakukan bersama dengan orang-orang yang dipimpinnya. Untuk itu setiap pemimpin perlu memenuhi kompetensi dan kualifikasi tertentu.

Apabila konfigurasi kepemimpinan terbangun dari tiga unsur yang interdependensial, yaitu pemimpin, kondisi masyarakat termasuk orang-orang yang dipimpin, dan perkembangan lingkungan nasional dan internasional yang senantiasa mengalami perubahan, maka adalah valid jika kita mempertanyakan kualifikasi kepemimpinan atau persyaratan yang diperlukan bagi adanya kepemimpinan yang efektif dalam menghadapi kompleksitas perkembangan dan dinamika perubahan Abad 21. Dalam hubungan itu kita pun perlu mempertanyakan paradigma dan sistem organisasi dan manajemen (= administrasi negara) relevan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi, baik internal mau pun eksternal, atau pun untuk mewadahi interplay dan interdependensi yang terjadi dalam proses kepemimpinan dan perubahan tersebut. Seorang pemimpin publik harus dapat melihat kehadiran dirinya dalam konteks yang luas dan dasar nilai yang dianut serta merupakan acuan hidup dan kehidupann masyarakat bangsanya. Pada tataran tertentu la harus dapat menangkap makna kehadirannya sebagai bagian dari sistem administrasi negara yang mendeterminasikan kompleksitas struktur dan dinamika proses kelembagaan masyarakat negara dan bangsa serta dalam hubungan antar bangsa, yang pada hakikinya merupakan wahana perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara bangsa.

Kompleksitas dan dinamika perkembangan lingkungan stratejik, pada tataran nasional ditandai oleh permasalahan dan tantangan yang multi dimensional, di bidang sosial, ekonomi, politik, kelembagaan, serta pertahanan dan keamanan, yang di awal Abad 21 ini ditandai antara lain oleh lemahnya struktur dan daya saing perekonomian, penegakkan hukum, pelaksanaan otonomi dan desentralisasi, besarnya hutang luar negeri, tingkat kemiskinan dan pengangguran, tuntutan demokratisasi, dan ancaman desintegrasi. Pada tataran internasional, terdapat perkiraan bahwa perkembangan lingkungan global ditandai situasi, kondisi, tantangan dan tuntutan, yang makin kompleks, selalu berubah, penuh ketidakpastian, dan bahkan sering tidak ramah.

Perkembangan lingkungan stratejik tersebut menuntut pemimpin dan kepemimpinan yang solid, mampu menganti-sipasi perkembangan ke depan, membangun visi, misi, dan strateji serta mengembangkan langkah-langkah kebijakan, sistem kelembagaan dan manajemen pemerintahan yang relevan dengan kompleksitas perkembangan, permasalahan, dan tantangan yang dihadapi, baik pada tataran nasional mau pun internasional.

Dewasa ini kita dihadapkan pada situasi di mana berbagai peristiwa di dunia yang biasanya mempengaruhi orang-orang secara perlahan, sekarang menimpa kita hampir secara serta merta dan sangat kuat. Sistem ekonomi global dewasa ini telah membuat sekitar satu milyar dari 5,8 milyar penduduk dunia terintegrasi melalui produk dan pasar. Kapasitas atau kompetensi mengantisipasi perubahan tersebutl kini menjadi faktor pembeda antara kepemimpinan dengan manajemen. Organisasi agar berhasil harus mampu dan mau melakukan perubahan sesuai dengan perubahan kondisi lingkungan strategiknya (internal maupun eksternal).

Dengan memperhatikan perbedaan fundamental antara kepemimpinan dan manajemen terdahulu dapat diidentifikasi asas-asas kepemimpinan yang perlu kita acu dalam pengembangan kepemimpinan. Apabila manajemen berkaitan dengan penanggulangan kompleksitas usaha organisasi, dan kepemimpinan berkaitan dengan penanggulangan perubahan, maka terlihat suatu sebab mengapa kepemimpinan menjadi begitu penting pada akhir-akhir ini. Karena perkembangan semakin kompetitif dan mudah terombang-ambingnya berbagai organisasi oleh arus perubahan. Pada masa stabil/mapan seperti pertengahan Abad 20 dan sebelumnya, dengan adanya administrasi serta manajemen yang baik setiap organisasi bisa bertahan hidup. Namun pada masa yang intensitas dan frekuensi perubahan yang sangat tinggi seperti pada Abad 21 ini di samping manajemen yang baik juga diperlukan kapasitas dan kualifikasi kepemimpinan yang handal. Saling hubungan antar kepemimpinan, manajemen dengan instrumentasi menurut fungsi dan aktivitasnya, dan azas kepemimpinan tersebut dapat dilihat lebih lanjut pada lampiran (Gambar 6).

Abad 21 ditandai globalisasi, kehidupan manusia telah mengalami perubahan-perubahan fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya. Perubahan-perubahan besar dan mendasar tersebut menuntut penanganan yang berbeda dengan sebelumnya. Peter Senge (1994) menyatakan bahwa ke depan keadaan berubah dan berkembang dari detail complexity menjadi dynamic complexity. Interpolasi perkembangan sebagai dasar perkiraan masa depan, menjadi sulit bahkan sering salah, bukan saja karena parameter perubahan menjadi sangat banyak, tetapi juga karena sensitivitas perubahan yang laian dalam lingkup yang luas, dan masing-masing perubahan menjadi sulit diperkirakan. Abad ke-21 juga abad yang menuntut dalam segala usaha dan hasil kerja manusia termasuk di bidang kepemimpinan. Drucker bahkan menyatakan, tantangan manajemen pada Abad ke-21 adalah berkaitan dengan “knowledge worker“, yang memerlukan paradigma manajemen baru, strategi baru, pemimpin perubahan, tantangan informasi, produktivitas pegawai berbasis pengetahuan, dan kemampuan mengelola diri sendiri (Drucker, 1999).

Gelombang globalisasi itu sendiri selain menghadapkan tantangan juga peluang. Dengan kata lain, globalisasi memiliki dampak-dampak positif dan negatif. Salah satu dampak globalisasi dapat berupa bentuk-bentuk proteksionisme baru. Meskipun batas-batas negara, perdagangan bebas pada tahun 2003 ini mulai diberlakukan, namun demikian bentuk-bentuk proteksionisme yang tidak kelihatan akan muncul. Oleh sebab itu, yang dituntut di dalam masyarakat Abad 21 ialah kepemimpinan yang unggul atau “super”. Ulrich (1998) dalam kaitan ini menawarkan empat agenda utama pengembangan kepemimpinan pada abad ke-21 agar tetap menjadi “champion”, adalah: (1) menjadi rekan yang stratejik, (2) menjadi seorang pakar, (3) menjadi seorang pekerja ulung, dan (4) menjadi seorang “agent of change”. Sebab, menurut Ulrich, masyarakat pada Abad 21 adalah suatu masyarakat mega-kompetisi. Pada Abad 21, tidak ada tempat tanpa kompetisi. Kompetisi telah dan akan merupakan prinsip hidup yang baru, karena dunia terbuka dan bersaing untuk melaksanakan sesuatu yang lebih baik. Disisi lain, masyarakat kompetitif dapat melahirkan manusia-manusia yang frustasi apabila tidak dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Masyarakat kompetitif dengan demikian, menuntut perubahan dan pengembangan secara terus menerus.

Adapun dampak negatif globalisasi atau lebih tegas lagi merupakan ancaman antara lain ancaman terhadap budaya bangsa; lunturnya identitas bangsa; lunturnya batas-batas negara bangsa; dan ancaman-ancaman organisasional lainnya. Kesemuanya, apabila tidak segera dilakukan perbaikannya bukan tidak mungkin akan mengancam kelangsungan hidup suatu negara. Bahkan lebih dari itu, kesatuan dan persatuan suatu bangsa dan negara dapat terkoyak dan terpecah belah. Dengan kata lain, bahwa dampak globalisasi akan menjadi ancaman yang makin besar dan serius, lebih-lebih apabila organisasi tidak memiliki kepemimpinan yang kuat.

Gambaran di atas menunjukan bahwa, pada Abad 21 diperlukan paradigma baru di bidang kepemimpinan, manajemen, dan pembangunan dalam menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan baru. Penyusunan paradigma baru menuntut proses terobosan pemikiran (break through thinking process), apalagi jika yang kita inginkan adalah output yang berupa manusia, barang, dan jasa yang berdaya saing. Dalam kaitan hal tersebut, berikut akan disajikan tentang pokok-pokok pemikiran “Kepemimpina dalam Abad 21”, dengan tetap memperhatikan berbagai perkembangan paradigma kepemimpinan sebelumnya yang dipandang valid dalam menghadapi pokok permasalahan dan tantangan abad ini.

Menurut Chowdury (2000) manajemen pada Abad 21 akan tergantung pada 3 faktor yang menopangnya, yakni kepemimpinan, proses, dan organisasi. Asset yang paling berharga bagi pemimpin Abad 21 adalah kemampuan untuk membangun impian seperti dilakukan para entrepreneurs. Faktor pertama, Pemimpin Abad 21 adalah pemimpin yang memiliki kompetensi berupa kemampuan mengembangkan peoplistic communication, emotion and belief, multi skill, dan juga memiliki next mentality. Pemimpin yang berhasil dalam mengejar dan mengerjakan impian-impiannya menggunakan komunikasi, dan memberikan inspirasi kepada setiap orang dalam organisasi untuk juga meyakini impiannya. Sebab itu, kompetensi sang pemimpin ditandai dengan sikap peoplistic bukan individualistic. Diingatkan oleh Chowdury bahwa “You can have the best communication system, but if you areindividualistic as a leader the organization suffers”. Seorang komunikator yang peopulistik mengembangkan iklim yang bersahabat di mana setiap orang dapat berkomunikasi secara cepat. Dalam organisasi yang besar komunikasi dapat mengalami kegagalan karena jenjang birokrasi dan orang hanya menerima sekitar 10% dari informasi yang dibutuhkannya. “The 21st century leader will be a firm believe in such peoplistic communication, which is fast and all envolving”.“You should touch the heart, touch the mind, touch the emotion”. Komitment emosional sangat berharga bagi manajemen. Untuk mendapatkan komitmen terhadap suatu strategi baru, dapat ditempu dengan melibatkan orang-orang dalam penyusunan startegi tersebut, dan dengan mengurangi jangka waktu antara konsptualisasi strategi dan pelaksanaannya. Sedangkan mengenai believe, dikemukakan bahwa “That should be the 21st century leader’s watchword”; dan ada perbedaan mendasar antara memenrima (accepting) dan mempercayai (believing). Bertalian denga kompetensi multi skill, Chowdury memandang bahwa “twenty first century leaders will become more multi-skilled than their 20th”…”One of the important characteristics of multi-skill leader is the abality to encourage diversity”. Sebab, tantangan organisasional sesungguhnya pada Abad 21 bukanlah jarak geograpikal, melainkan diversitas kultural. Mengenai next mentality, yang dipandang sebagai kunci keberhasilan oragnisasi Abad 21, meliputi hard working, never satisfied, idea-centric, curious, dan persistent. Kompetensi lain menurut Chowdury adalah sentuhan emosional (emotion) dan kepercayaan (belief). Emosi dalam pengertian century predecessors

Faktor kedua, Proses Abad 21 fokus pada kegiatan inti (core pactices), meliputi 4 area kritis berupa grass root education, fire prevention, direct interaction, dan effecrive globalization. Grass root education dimaksudkan pendidikan dan pelatihan yang melibatkan seluruh staff tanpa diskriminasi, dari pimpinan sampai staff biasa. Fire prevention dimaksudkan sebagau wawasan dan upaya untuk meningkatkan durasi kemanfaatan teknologi dalam produksi dan distribusi produk-produk tertentu. Direct interaction, organisasi Abad 21 menekankan lebih pada entusisme pelanggan di samping kepuasannya; “Customer enthusiasism means excitement and loyalty on the part of customer, fuelled by the service and producta available to them exceeding their expectations”. Effecrive globalization; gloablisasi selalu mengandung resiko yang berbeda antara negara yang satu dengan yang lainnya. Permasalahannya adalah berapa cepat respons dalam menghadapi perubahan dramatik yang terjadi. Dalam hubungan itu, Chowdury berpandangan bahwa manajemen harus : study local culture, local market, and local competition; prepare a busisness model that effectively seves the market needs; select the right strategic local partner or group with thw bwst local market knowledge; encourage employees by maintaining local values; introduce new and innovative product, with local flavour.

Faktor ketiga, Organisasi Abd 21 yang komit terhadap kualitas sumber daya manusia. “The driving force of behind a 21 st century organization will be it people…People manage people, inside and outside an oraganization. Effective management of people is a challlenge managers will increasingly face in the 21 st century”.

Berbagai kompetensi kepemimpinan yang telah dikemukakan terdahulu, seperti yang dikemukanan Spencer dan Kazanas, Warren Bennis, Kanter akan tetap diperlukan bagi kepemimpinan dan pemimpin Abad 21. Dalam rangka pengembangan pemikiran tersebut ada baiknya apabila kita eksplorasi dan simak kembali berbagai pandangan mengenai kepemimpinan dan pemimpin yang dikemukakan beberapa ahli. Cooper dan Sawaf (1997: p. 15), mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan seseorang pimpinan dalam merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Bethel, mengemukakan bahwa, kepemimpinan merupakan pola keterampilan, bakat, dan gagasan yang selalu berkembang, bertumbuh, dan berubah. White Hodgson, dan Crainer (1997:129-163), berpendapat kepemimpinan masa depan adalah pemimpin yang terus belajar, memaksimalkan energi dan menguasai perasaan yang terdalam, kesederhanaan, dan multifokus. Oleh karena itu, dinyatakan bahwa kualitas menjadi penting dan kuantitas tidak lagi menjadi keunggulan bersaing. Mencari pengetahuan dan menggali ilmu harus terus dilakukan bagi pemimpin masa depan, hal ini sangat penting sebab ilmu pengetahuan merupakan energi vital bagi setiazp organisasi. Sejalan dengan pendapat ini, Kotter (1998), mengemukakan bahwa kemampuan seseorang pemimpin masa depan meliputi kemampuan intelektual dan interpersonal untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien.

Ronald Heifetz dan Laurie (1998) berpendapat, kepemimpinan masa depan adalah seorang pemimpin yang adaptif terhadap tantangan, peraturan yang menekan, memperhatikan pemeliharaan disiplin, memberikan kembali kepada para karyawan, dan menjaga kepemimpinannya. Ditambahkan, kepemimpinan harus selalu menyiapkan berbagai bentuk solusi dalam pemecahan masalah tantangan masa depan. Dalam kaitannya dengan adaptasi terhadap perubahan, ditekankan pada pemanfaatan sumber daya manusia. Untuk itu, perlu dikembangkan peraturan-peraturan baru, hubungan dan kerjasama yan baru, nilai-nilai baru, perilaku baru, dan pendekatan yang baru terhadap pekerjaan.

Demikian pula halnya beberapa gaya, tipologi, atau pun model dan teori kepemimpinan yang telah berkembang pada dekade-dekade akhir Abad 20 yang relevan dalam menghadapi tantangan dan permasalahan Abad 21, dapat kita pertimbangkan dalam mengembangkan Kepemimpinan Abad 21, termasuk kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksi-onal sebagai alternatif model kepemimpinan Abad ke-21.

1. Kepemimpinan Transformasional.

Kepemimpinan transformasional menunjuk pada proses membangun komitmen terhadap sasaran organisasi dan memberi kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut. Teori transformasional mempelajari juga bagaimana para pemimpin mengubah budaya dan struktur organisasi agar lebih konsisten dengan strategi-strategi manajemen untuk mencapai sasaran organisasional.

Secara konseptual, kepemimpinan transformasional di definisikan (Bass, 1985), sebagai kemampuan pemimpin mengubah lingkungan kerja, motivasi kerja, dan pola kerja, dan nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Berarti, sebuah proses transformasional terjadi dalam hubungan kepemimpinan manakala pemimpin membangun kesadaran bawahan akan pentingnya nilai kerja, memperluas dan meningkatkan kebutuhan melampaui minat pribadi serta mendorong perubahan tersebut ke arah kepentingan bersama termasuk kepentingan organisasi (Bass, 1985).

Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional telah diformulasi oleh Burns (1978) dari penelitian deskriptif mengenai pemimpin-pemimpin politik. Burns, menjelaskan kepemimpinan transformasional sebagai proses yang padanya “para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi”, seperti kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan, dan bukan di dasarkan atas emosi, seperti misalnya keserakahan, kecemburuan sosial, atau kebencian (Burns, 1997).

Dengan cara demikian, antar pimpinan dan bawahan terjadi kesamaan persepsi sehingga mereka dapat mengoptimalkan usaha ke arah tujuan yang ingin dicapai organisasi. Melalui cara ini, diharapkan akan tumbuh kepercayaan, kebanggan, komitmen, rasa hormat, dan loyal kepada atasan sehingga mereka mampu mengoptimalkan usaha dan kinerja mereka lebih baik dari biasanya. Ringkasnya, pemimpin transformasional berupaya melakukan transforming of visionary menjadi visi bersama sehingga mereka (bawahan plus pemimpin) bekerja untuk mewujudkan visi menjadi kenyataan. Dengan kata lain, proses transformasional dapat terlihat melalui sejumlah perilaku kepemimpinan seperti ; attributed charisma, idealized influence, inspirational motivation, intelectual stimulation, dan individualized consideration. Secara ringkas perilaku dimaksud adalah sebagai berikut.

Attributed charisma. Bahwa kharisma secara tradisional dipandang sebagai hal yang bersifat inheren dan hanya dimiliki oleh pemimpin-pemimpin kelas dunia. Penelitian membuktikan bahwa kharisma bisa saja dimiliki oleh pimpinan di level bawah dari sebuah organisasi. Pemimpin yang memiliki ciri tersebut, memperlihatkan visi, kemampuan, dan keahliannya serta tindakan yang lebih mendahulukan kepentingan organisasi dan kepentingan orang lain (masyarakat) daripada kepentingan pribadi. Karena itu, pemimpin kharismatik dijadikan suri tauladan, idola, dan model panutan oleh bawahannya, yaitu idealized influence.

Idealized influence. Pemimpin tipe ini berupaya mempengaruhi bawahannya melalui komunikasi langsung dengan menekankan pentingnya nilai-nilai, asumsi-asumsi, komitmen dan keyakinan, serta memiliki tekad untuk mencapai tujuan dengan senantiasa mempertimbangkan akibat-akibat moral dan etik dari setiap keputusan yang dibuat. Ia memperlihatkan kepercayaan pada cita-cita, keyakinan, dan nilai-nilai hidupnya. Dampaknya adalah dikagumi, dipercaya, dihargai, dan bawahan berusaha mengindentikkan diri dengannya. Hal ini disebabkan perilaku yang menomorsatukan kebutuhan bawahan, membagi resiko dengan bawahan secara konsisten, dan menghindari penggunaan kuasa untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, bawahan bertekad dan termotivasi untuk mengoptimalkan usaha dan bekerja ke tujuan bersama.

Inspirational motivation. Pemimpin transformasional bertindak dengan cara memotivasi dan memberikan inspirasi kepada bawahan melalui pemberian arti dan tantangan terhadap tugas bawahan. Bawahan diberi untuk berpartisipasi secara optimal dalam hal gagasan-gagasan, memberi visi mengenai keadaan organisasi masa depan yang menjanjikan harapan yang jelas dan transparan. Pengaruhnya diharapkan dapat meningkatkan semangat kelompok, antusiasisme dan optimisme dikorbankan sehingga harapan-harapan itu menjadi penting dan bernilai bagi mereka dan perlu di realisasikan melalui komitmen yang tinggi.

Intelectual stimulation. Bahwa pemimpin mendorong bawahan untuk memikirkan kembali cara kerja dan mencari cara-cara kerja baru dalam menyelesaikan tugasnya. Pengaruhnya diharapkan, bawahan merasa pimpinan menerima dan mendukung mereka untuk memikirkan cara-cara kerja mereka, mencari cara-cara baru dalam menyelesaikan tugas, dan merasa menemukan cara-cara kerja baru dalam mempercepat tugas-tugas mereka. Pengaruh positif lebih jauh adalah menimbulkan semangat belajar yang tinggi (oleh Peter Senge, hal ini disebut sebagai “learning organization”).

Individualized consideration. Pimpinan memberikan perhatian pribadi kepada bawahannya, seperti memperlakukan mereka sebagai pribadi yang utuh dan menghargai sikap peduli mereka terhadap organisasi. Pengaruh terhadap bawahan antara lain, merasa diperhatian dan diperlakukan manusiawi dari atasannya.

Dengan demikian, kelima perilaku tersebut diharapkan mampu berinteraksi mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku bawahan untuk mengoptimalkan usaha dan performance kerja yang lebih memuaskan ke arah tercapainya visi dan misi organisasi.

1. Kepemimpinan Transaksaksional.

Pengertian kepemimpinan transaksional merupakan salah satu gaya kepemimpinan yang intinya menekankan transaksi di antara pemimpin dan bawahan. Kepemimpinan transaksional memungkinkan pemimpin memotivasi dan mempengaruhi bawahan dengan cara mempertukarkan reward dengan kinerja tertentu. Artinya, dalam sebuah transaksi bawahan dijanjikan untuk diberi reward bila bawahan mampu menyelesaikan tugasnya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama. Alasan ini mendorong Burns untuk mendefinisikan kepemimpinan transaksional sebagai bentuk hubungan yang mempertukarkan jabatan atau tugas tertentu jika bawahan mampu menyelesaikan dengan baik tugas tersebut. Jadi, kepemimpinan transaksional menekankan proses hubungan pertukaran yang bernilai ekonomis untuk memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis sesuai dengan kontrak yang telah mereka setujui bersama.

Menurut Bass (1985), sejumlah langkah dalam proses transaksional yakni; pemimpin transaksional memperkenalkan apa yang diinginkan bawahan dari pekerjaannya dan mencoba memikirkan apa yang akan bawahan peroleh jika hasil kerjanya sesuai dengan transaksi. Pemimpin menjanjikan imbalan bagi usaha yang dicapai, dan pemimpin tanggap terhadap minat pribadi bawahan bila ia merasa puas dengan kinerjanya.

Dengan demikian, proses kepemimpinan transaksional dapat ditunjukkan melalui sejumlah dimensi perilaku kepemimpinan, yakni; contingent reward, active management by exception, dan passive management by exception. Perilaku contingent reward terjadi apabila pimpinan menawarkan dan menyediakan sejumlah imbalan jika hasil kerja bawahan memenuhi kesepakatan. Active management by exception, terjadi jika pimpinan menetapkan sejumlah aturan yang perlu ditaati dan secara ketat ia melakukan kontrol agar bawahan terhindar dari berbagai kesalahan, kegagalan, dan melakukan intervensi dan koreksi untuk perbaikan. Sebaliknya, passive management by exception, memungkinkan pemimpin hanya dapat melakukan intervensi dan koreksi apabila masalahnya makin memburuk atau bertambah serius.

Berdasarkan uraian di atas, perbedaan utama antara kepemimpinan transformasional dan transaksional dapat diidentifikasi yakni, bahwa inti teori kepemimpinan transaksional terutama menjelaskan hubungan antara atasan dan bawahan berupa proses transaksi dan pertukaran (exchanges process) yang bersifat ekonomis, sementara teori kepemimpinan transformasional pada hakikatnya menjelaskan proses hubungan antara atasan dan bawahan yang di dasari nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan asumsi-asumsi mengenai visi dan misi organisasi. Hal ini bermakna, bahwa pandangan teori kepemimpinan transaksional mendasarkan diri pada pertimbangan ekonomis-rasional, adapun teori kepemimpinan transformasional melandaskan diri pada pertimbangan pemberdayaan potensi manusia. Dengan kata lain, tugas pemimpin transformasional adalah memanusiakan manusia melalui berbagai cara seperti memotivasi dan memberdayakan fungsi dan peran karyawan untuk mengembangkan organisasi dan pengembangan diri menuju aktualisasi diri yang nyata.

Meskipun masih banyak yang harus dikaji tentang kepemimpinan transformasional, namun terdapat cukup bukti dari hasil-hasil berbagai jenis penelitian empiris untuk mengusulkan beberapa pedoman sementara bagi para pemimpin yang mencoba untuk mentransformasikan organisasinya serta budayanya, dan bagi para pemimpin yang ingin memperkuat budaya yang ada dari suatu organisasi. Lebih khusus lagi, pedoman-pedoman dimaksud adalah sebagai antisipasi terhadap berbagai hal yang mungkin dihadapi pada abad ke-21. Beberapa pedoman tersebut, adalah sebagai berikut: (a) Kembangkan sebuah visi yang jelas dan menarik; (b) Kembangkan sebuah strategi untuk mencapai visi tersebut; (c) Artikulasikan dan promosikan visi tersebut; (c) Bertindak dengan rasa percaya diri dan optimis; (d) Ekspresikan rasa percaya kepada para pengikut; (e) Gunakan keberhasilan sebelumnya dalam tahap-tahap kecil untuk membangun rasa percaya diri; (f) Rayakan keberhasilan; (g) Gunakan tindakan-tindakan yang dramatis dan simbolis untuk menekankan nilai-nilai utama; (h) Memimpin melalui contoh; (i) Menciptakan, memodifikasi atau menghapuskan bentuk-bentuk kultural; dan (j) Gunakan upacara-upacara transisi untuk membantu orang melewati perubahan.

Abad 21 juga mengisyaratkan diperlukannya global leadership dan mind set tertentu. Seiring dengan dinamika perkembangan global, berkembang pula pemikiran dan pandangan mengenai kepemimpinan global (global leadership), yang akan banyak menghadapi tantangan dan memerlukan berbagai persyaratan untuk suksesnya., seperti dalam membangun visi bersama dalam konteks lintas budaya dalam kemajemukan hidup dan kehidupan bangsa-bangsa.

DIarsipkan di bawah: Manajemen Organisasi | yang berkaitan: Leadershif, Manajemen Organisasi

Minggu, 09 November 2008

PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)



Posted on by Wisnu Sudibjo

PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)

TIDAK AKAN MAMPU MENGENTASKAN KEMISKINAN RAKYAT

Latar belakang

Bermula dari tidak terkoordinasinya dengan baik program – program pengentasan kemiskinan yang dimiliki oleh departemen – departemen di pemerintahan RI, maka dimunculkanlah program ini. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) sendiri adalah suatu instrument pemerintah yang digulirkan untuk mencapai salah satu poin dari MDGs (Millenium Development Goals) yaitu pengentasan kemiskinan. Program ini akan menyatukan berbagai program yang dimiliki oleh berbagai departemen dibawah satu koordinasi tim penanggulangan kemiskinan.

Untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja, pemerintah meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri ini mulai tahun 2007. Melalui PNPM Mandiri ini dirumuskan kembali mekanisme upaya penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Melalui proses pembangunan partisipatif, kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin, dapat ditumbuhkembangkan sehingga mereka bukan sebagai obyek melainkan subyek upaya penanggulangan kemiskinan (Pedoman Umum PNPM, 2007).

Secara umum, PNPM adalah suatu program yang memberdayakan masyarakat secara optimal dalam mengatasi problem – problem kemiskinan yang terjadi. Masyarakat diharapkan akan aktif dalam pembuatan keputusan dan pemecahan masalah – masalah yang mereka hadapi. Dengan kata lain, dengan program ini, masyarakat hendaknya mandiri dan dapat menentukan sendiri apa yang harus dilakukan agar mereka terbebas dari kemiskinan.

Prinsip – prinsip dasar PNPM

PNPM-Mandiri menekankan prinsip-prinsip dasar berikut ini:

• Bertumpu pada pembangunan manusia. Pelaksanaan PNPM Mandiri senantiasa bertumpu pada peningkatan harkat dan martabat manusia seutuhnya.

• Otonomi. Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri, masyarakat memiliki kewenangan secara mandiri untuk berpartisipasi dalam menentukan dan mengelola kegiatan pembangunan secara swakelola.

• Desentralisasi. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan dilimpahkan kepada pemerintah daerah atau masyarakat sesuai dengan kapasitasnya.

• Berorientasi pada masyarakat miskin. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

• Partisipasi. Masyarakat terlibat secara aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan pembangunan dan secara gotong royong menjalankan pembangunan.

• Kesetaraan dan keadilan gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil manfaat kegiatan pembangunan.

• Demokratis. Setiap pengambilan keputusan pembangunan dilakukan secara musyarawah dan mufakat dengan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat miskin.

• Transparansi dan Akuntabel. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggunggugatkan baik secara moral, teknis, legal, maupun administratif.

• Prioritas. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk pengentasan kemiskinan dengan mendayagunakan secara optimal berbagai sumberdaya yang terbatas.

• Kolaborasi. Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergi antar pemangku kepentingan dalam penanggulangan kemiskinan.

• Keberlanjutan. Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak hanya saat ini tapi juga di masa depan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

• Sederhana. Semua aturan, mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan PNPM Mandiri harus sederhana, fleksibel, mudah dipahami, dan mudah dikelola, serta dapat dipertanggungjawabkan oleh masyarakat. (Pedoman Umum PNPM, 2007)

Ada apa di balik PNPM?

Tanpa mengurangi apresiasi kepada pemerintah yang berkeinginan untuk mengentaskan kemiskinan, ada beberapa hal yang mungkin tidak diperhatikan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan negeri ini. Pemerintah tampaknya melupakan satu hal yaitu akar masalah kemiskinan yang menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini. Dari PNPM tersebut, pemerintah hanya menyebutkan harus begini dan begitu. Tanpa adanya upaya untuk menyelesaikannya secara mendasar, yaitu menghilangkan akar permasalahannya.

Pemerintah saat ini entah pura – pura tidak tahu atau memang benar – benar tidak tahu bahwa kemiskinan di negeri ini disebabkan oleh penerapan sistem ekonomi kapitalis. Sistem ini memang secara hakiki pasti mengharuskan adanya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Sebagai gambaran betapa rumitnya masalah kemiskinan dalam sistem kapitalis ini, mari kita perhatikan lingkaran setan kemiskinan berikut ini :

Lingkaran Setan Kemiskinan

Apabila kita lihat lingkaran setan seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas, paling tidak dapat kita rumuskan akar masalah kemiskinan itu sebenarnya apa. Sebagai sebuah lingkaran, tentu akan putus apabila salah satu bagiannya kita potong. Melihat lingkaran setan kemiskinan seperti di atas, ada beberapa hal yang setidaknya dapat dilakukan untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan, yaitu :

1. Meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pembukaan lapangan pekerjaan.

2. Menggratiskan dan memajukan pendidikan.

3. Jaminan atas terpenuhinya kebutuhan primer masyarakat (papan, sandang, pangan).

4. Menggratiskan fasilitas kesehatan.

5. Pemberian modal gratis bagi usaha rakyat miskin.

Semua poin pengentasan kemiskinan di atas telah dilakukan oleh Rasulullah saw dan juga para sahabat dan khalifah – khalifah sesudahnya. Misalnya saja Umar bin Khattab yang pernah memberikan sebidang tanah dengan gratis kepada seseorang yang tidak memiliki tanah untuk bercocok tanam. Ataupun juga pembiayaan pendidikan yang memang gratis oleh Rasulullah saw dengan mengganti uang jaminan bebas para budak perang dengan pengajaran baca tulis gratis kepada kaum muslimin. Semuanya itu dilakukan oleh Rasulullah saw dan juga orang – orang sesudahnya sesuai dengan bimbingan Islam. Sehingga apabila pemerintah memang serius ingin mengentaskan kemiskinan beberapa hal fundamen di atas harus segera dilakukan.

Tetapi sayangnya kelima poin di atas tidak mungkin akan tercipta pada sistem ekonomi kapitalis. Bagi mereka kegiatan ekonomi masyarakat termasuk mendapatkan pekerjaan yang layak ataukah tidak harus diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Sehingga pada dasarnya tidak ada dalam kamus mereka istilah membuka lapangan kerja bagi rakyatnya, apalagi menyediakannya. Ataupun juga pendidikan dan fasilitas kesehatan gratis yang sangat – sangat tidak diharapkan oleh sistem ini karena hanya akan membuat rakyat menjadi tidak mandiri karena terlalu banyak disubsidi.

Kalau pendidikan dan fasilitas kesehatan saja tidak digratiskan apalagi pemberian modal secara cuma – cuma tentu merupakan suatu hal yang tabu dalam sistem ini. Sehingga jangan heran apabila pemerintah hanya akan sebatas meminjami modal kepada rakyatnya dengan bunga yang harus dibayar oleh mereka setiap tahunnya. Semua itu semakin memperjelas bahwa masalah kemiskinan tidak akan dapat diatasi oleh PNPM yang didasarkan kepada sistem ekonomi kapitalistik sekuler ini.

Di samping tidak memiliki pemecahan mendasar atas permasalahan kemiskinan di Indonesia, rupa – rupanya juga ada maksud tersembunyi di balik program PNPM ini. Sadar ataukah tidak pemerintah telah menjadi anak buah yang dengan setia mengikuti apa saja kata tuan besar Amerika Serikat dalam mengurusi rakyatnya. Misalnya saja program kemandirian rakyat. Program itu adalah program yang memang dilakukan sebagian besarnya oleh rakyat. Sehingga pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator saja, atau bahkan mungkin hanya sebagai penyedia fasilitator saja. Dengan demikian salah satu syarat terciptanya sistem ekonomi kapitalis dalam kehidupan negara ini akan tercipta dengan kondusif.

Salah satu syarat itu adalah sedikitnya campur tangan pemerintah dalam usaha ekonomi rakyat. Memang program ini berasal dari pemerintah, akan tetapi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh pemerintah adalah sedikitnya campur tangan pemerintah dalam mengurus ekonomi rakyatnya. Walhasil kesenjangan social akan tetap terjadi sebagaimana layaknya kesenjangan social terjadi di negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis seperti Amerika Serikat. Rakyat mandiri yang dimaksud bukanlah mandiri dalam pengertian memiliki pekerjaan yang layak untuk menafkahi keluarganya, tetapi mandiri dalam pengertian mengurusi urusan – urusannya sendiri. Padahal disinilah seharusnya pemerintah itu berperan, yaitu untuk mengurusi kepentingan – kepentingan rakyatnya.

Di samping itu, program ini juga menitikberatkan pada aktivitas kesetaraan gender. Maka tidaklah mengherankan bila iklan seorang ibu tukang sayur yang harus bekerja mati – matian dimunculkan di tv – tv swasta. Iklan itu menceritakan bahwa sudah saatnya kaum perempuan ikut ambil andil dalam mengatasi permasalahan kemiskinan. Bagaimanakah kaum perempuan dapat ikut andil? Tentu saja dengan bekerja sebagaimana layaknya kaum laki – laki bekerja. Bekerja bagi kaum perempuan tidaklah haram, selama dia tidak mengabaikan tugas pokoknya yang utama yaitu sebagai seorang ibu. Akan tetapi dalam kondisi apapun juga, yang sebenarnya diwajibkan mencari nafkah adalah seorang suami, bukan seorang istri. Di sinilah seharusnya peran pemerintah dalam menyediakan pekerjaan yang memang layak kepada para suami untuk menafkahi keluarganya.

Sehingga program PNPM ini tidak lain hanyalah sebuah madu berbalut racun yang bisa menghancurkan generasi muda kita nantinya. Hal itu karena mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak dari sang ibu. Kaum ibu akan cenderung bekerja keluar rumah sehingga pendidikan anak yang seharusnya diterima sang anak menjadi terbengkalai. Bukankah rusaknya generasi muda barat saat ini tidak dapat dilepaskan dari hal ini yaitu turut bekerjanya kaum ibu meskipun sang suami mampu memenuhi kewajiban nafkahnya.

Sebagai penutup, kemiskinan tidak akan pernah dapat ditanggulangi selama kita menggunakan pendekatan sistem kapitalis dalam menyelesaikannya. Sebab secara pembawaan, sistem ekonomi ini memang pasti akan menghasilkan kesenjangan social di antara rakyatnya. Sebagai gantinya hanya sistem Islamlah yang akan dapat mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dengan lima poin fundamen di atas. Tanpa adanya penyelesaian akar masalah, sebaik apapun dan seindah apapun program pemerintah, selama itu pula program itu akan kandas ditengah jalan termasuk program PNPM ini.

Millenium Development Goals (MDGs) menurut saya hanyalah sebuah ilusi dan khayalan sistem kapitalis sekuler yang diusung oleh Amerika Serikat dan sekutunya. MDGs itu sendirilah yang akan menelanjangi kebobrokan – kebobrokan sistem kapitalis sekuler ini. Dengan pertolongan Allah swt insya Allah kehancuran sistem kapitalis sekuler akan segera tiba dan diganti dengan sistem pembawa rahmat yaitu Islam.

Cukuplah kisah berikut sebagai renungan bagi kita semua akan kesalahan kita karena begitu mempercayai sistem kapitalis sekuler dan cenderung mengabaikan sistem ekonomi Islam.

Ibnu Abdil Hakam dalam kitabnya Sirah Umar bin Abdul Aziz hal. 59 meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata,”Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai seorang pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli budak lalu memerdekakannya.” (Al-Qardhawi, 1995).

Coba bandingkan keadaan pada masa Umar bin Abdul Aziz tersebut dengan pemerintahan kapitalis sekuler manapun di dunia ini bila ada bandingannya. Cukuplah kelaparan Ethiopia di Afrika sebagai contoh nyata gagalnya sistem ekonomi kapitalistik ini. Sesungguhnya hanyalah Allah swt yang berhak dimintai tolong atas problem – problem umat ini, bukan kapitalis sekuler pimpinan barat. Wallahu a’lam bi ashshawwab.