Selasa, 09 Maret 2010

Buya Hamka dan Tuduhan Plagiat Itu




oleh Asep Sambodja

Tahun 1962 adalah tahun yang berat bagi Buya Hamka. Sebab, pada September 1962, Abdullah Said Patmadji menuduh Hamka sebagai plagiat. Ini adalah tuduhan yang sangat menyakitkan. Abdullah S.P. menilai Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka (1939) merupakan plagiat dari novel Al Majdulin karya sastrawan Mesir, Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi. Novel Al Majdulin atau Magdalaine atau Magdalena dalam edisi bahasa Indonesia itu merupakan novel saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya sastrawan Prancis, Alphonse Karr. Untuk memperkuat tuduhannya itu, Abdullah S.P. membuat idea strip berikut:

A: Magdalaine
B: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

1) A. Magdalaine menyurati Suzanne tentang kedatangan pemuda
Stevens (hlm. 3-4)
B. Hayati menyurati Khadijah tentang kedatangan pemuda
Zainuddin (hlm. 35)
2) A. Stevens tinggal di kamar atas rumah orangtua Magdalaine yang
sedianya kosong (hlm. 3-4)
B. Zainuddin tinggal di rumah bakonya yang tidak jauh dari rumah
orangtua Hayati (hlm. 35)
3) A. Perikatan janji prasetia antara Magdailaine dan Stevens “di
bawah naungan bunga tilia” disusul dengan adegan asmara di
danau (hlm. 37-40)
B. Pertemuan di waktu hujan “di bawah sebuah payung” disusul
dengan perikatan janji prasetia di sebuah danau (hlm. 47-51)
4) A. Hubungan asmara antara Magdalaine dan Stevens tidak disetujui
orangtua Magdalaine karena pemuda Stevens miskin dan diusir
(hlm. 52-56)
B. Hubungan asmara antara Hayati dan Zainuddin tidak disetujui
orangtua Hayati karena Zainuddin melarat dan diusir
(hlm. 52-56)

6) A. Suzanne mengecoh Magdalaine sehingga membenci Stevens
(hlm. 115-117)
B. Khadijah mengecoh Hayati sehingga membenci Zainuddin
(hlm. 83-86)

11) A. Perkawinan Magdailaine dengan Edward (hlm. 180-190)
B. Perkawinan Hayati dengan Aziz (hlm. 123-131)

14) A. Edward bunuh diri di sebuah hotel di Chicago (hlm. 241-243)
B. Aziz bunuh diri di sebuah hotel di Banyuwangi (hlm. 175-176)
15) A. Magdalaine mati bunuh diri tenggelam di sebuah sungai
(hlm. 245-254)
B. Hayati mati karena kecelakaan tenggelam di laut bersama kapal
Van der Wijck (hlm. 177-180)
16) A. Stevens mati mendadak di atas kursi di depan pianonya
(hlm. 280-284)
B. Zainuddin mati mendadak di atas kursi di depan meja tulisnya
(hlm. 198-200)
+) A. Stevens dikubur di samping Magdalaine berdasarkan wasiat
Stevens.
B. Zainuddin dikubur di samping Hayati berdasarkan wasiat
Zainuddin.

Berdasarkan “temuannya” itulah Abdullah S.P. menuduh Hamka sebagai plagiat. Pramoedya Ananta Toer sebagai redaktur lembaran “Lentera” di harian Bintang Timur pun menuduh Hamka telah melakukan jiplakan mentah-mentah. Pramoedya menganjurkan agar Hamka meminta maaf kepada masyarakat pembaca Indonesia. Sejak Februari 1962 itulah Hamka menjadi bulan-bulanan Bintang Timur, terlebih latar belakang politik Hamka adalah sebagai anggota Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)—sebuah partai politik yang bersama Partai Sosialis Indonesia (PSI) dilarang Presiden Soekarno pada Agustus 1960, karena elite kedua partai itu selalu bermusuhan dengan Soekarno selama bertahun-tahun; oposisi mereka terhadap Demokrasi Terpimpin dan keterlibatan mereka dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)—menjadikan persoalan ini bukan saja persoalan sastra, melainkan juga persoalan politik.

Kritikus sastra H.B. Jassin menolak tuduhan itu. Menurut Jassin (dalam Pradopo, 2002), yang disebut “plagiat” itu adalah pengambilan karangan orang lain sebagian atau seluruhnya dan membubuhkan nama sendiri seolah-olah kepunyaannya. Di samping “plagiat”, ada saduran, yaitu karangan yang jalan ceritanya dan bahan-bahannya diambil dari suatu karangan lain, misalnya cerita luar negeri disesuaikan dengan alam sendiri (Indonesia) dengan mengubah nama-nama dan suasananya. Saduran itu pun harus disebutkan nama pengarang aslinya. Selain “plagiat” dan “saduran”, ada juga “pengaruh”, yakni hasil ciptaan pengarang sendiri mendapat pengaruh pikiran atau filsafat pengarang lain, baik disengaja maupun tidak.

Dalam hal roman Hamka itu, H.B. Jassin mengatakan bahwa karya itu bukan plagiat atau jiplakan, karena Hamka tidak hanya menerjemahkan dan membubuhkan nama sendiri dalam terjemahan itu, melainkan ia menciptakan karya dengan “seluruh kepribadiannya”.

Vicente Cantarino (dalam Pradopo, 2002) mengatakan bahwa dalam sastra ada tradisi mentransformasikan karya-karya sebelumnya ke dalam karya sendiri dengan bentuk yang baru. Hal ini bukan merupakan jiplakan, sebab ide dan konsepnya milik sendiri, sementara karya sebelumnya sebagai “bahan”. Dalam hal ini, menurut Rachmat Djoko Pradopo (2002) dalam buku Kritik Sastra Indonesia Modern, Hamka membuat transformasi dari karya Manfaluthi yang merupakan hipogramnya, dengan memasukkan pikiran-pikiran keislaman di dalamnya, mengubah jalan ceritanya, dengan penambahan-penambahan, semuanya disesuaikan dengan situasi Indonesia, Minangkabau khususnya, untuk menampilkan masalah adat, khususnya adat kawin paksa, dengan memasukkan pikiran-pikiran baru sesuai dengan ajaran Islam.

Hamka sendiri sebenarnya banyak diamnya. Ia menyerahkan persoalan itu kepada ahlinya. Kepada wartawan Berita Minggu (30 September 1962), Hamka mengakui bahwa memang ia terpengaruh dengan Manfaluthi. Dalam Gema Islam (1 Oktober 1962), Hamka mengatakan bahwa caci-maki dan tuduhan plagiat itu tidak akan menjatuhkan dia dan persoalan belum selesai. Ia mengharapkan agar Tenggelamnya Kapal Van der Wijck diteliti secara ilmiah oleh ahli sastra untuk menentukan apakah itu hasil curian, saduran, atau asli secara pasti. Hamka berharap dibentuk Panitia Kesusastraan yang bersifat ilmiah di bawah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan ia bersedia memberikan keterangan (Pradopo, 2002).

H.B. Jassin dan Junus Amir Hamzah (1963) telah membukukan polemik itu dalam buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dalam Polemik. Setelah membaca tulisan-tulisan yang menuduh Hamka sebagai plagiat maupun yang menolaknya, Umar Junus (dalam Hamzah, 1963) menyimpulkan bahwa pertama, Hamka menggunakan pola dan plot yang ada dalam karya Manfaluthi, tetapi ia mengisi tema dan idenya sendiri. Kedua, Hamka sangat terpengaruh Manfaluthi sehingga menyenangi dan menggunakan hal-hal yang sama dengan Manfaluthi, termasuk cara pengucapannya. Hal ini mungkin karena keaslian pengucapan belum menjadi mode pada masanya.

Dalam disertasinya, Rachmat Djoko Pradopo menilai bahwa persoalan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukanlah persoalan plagiat atau jiplakan, melainkan masalah intertekstual, yakni transformasi dari satu teks ke teks yang baru.

Hamka sendiri bisa mengambil “hikmah” dari polemik itu. Bagaimanapun sebuah buku yang selalu menjadi bahan pembicaraan atau pergunjingan, pujian atau makian, akan selalu diburu orang. Pemberian cap “dahsyat” sebagaimana ucapan Sapardi Djoko Damono terhadap Saman maupun cap “plagiat” sebagaimana tulisan Abdullah S.P. terhadap novel Hamka, sama-sama membawa berkah bagi penerbit buku itu. Terkadang berkah bagi pengarang juga. Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang terbilang laku di pasaran. Hamka sendiri mengakui dalam cetakan keempat buku itu, bahwa belum berapa lama diterbitkan, buku itu sudah ludes. “Belum berapa lama tersiar, dia pun habis,” tulis Hamka. Saya sendiri membeli buku itu pada 1999—yang sudah merupakan cetakan ke-23. Kelarisan buku ini dapat disejajarkan dengan Layar Terkembang Sutan Takdir Alisjahbana dan Saman Ayu Utami.

“Karena demikian nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi, kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak. Sesudah dia menutup mata, barulah orang akan insaf siapa sebetulnya dia…” (Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, hlm. 212-213).
***

Citayam, 8 Oktober 2009

1 komentar:

Taman hati mengatakan...

Saya sudah membaca dua novel Buya Hamka yang kontroversial itu, Tenggelamnya Kapal Vanderwyck ( plagiat Magdalena ) dan Terusir ( plagiat Madame X ).
Saya juga sudah baca Magdalena dan Madam X.
Memang thema cerita sama, situasi cerita juga sama, hanya beda lokasi dan nama2 tokoh.
Kalau kita membaca kempat novel itu, sangat yakin bahwa Buya Hamka setidaknya meniru idee cerita dan alurnya.
Sebetulnya ada inti cerita yang tidak sama, di buku2 nya Hamka ada pesan tentang kuat nya adat Minang yang sulit di tembus. Di buku2 barat "hanya" cerita roman biasa. Saya menangis ketika membaca roman2 Hamka, sangat tersentuh. Tapi emosi saya tidak banyak terpengaruh ketika membaca roman2 barat itu. Hamka mendapatkan soul nya.


Rabu, 10 Februari 2010

Reshuffle Cermin Disharmonisasi Pemerintah

Reshuffle Cermin Disharmonisasi Pemerintah


Setelah mengikuti arus persidangan Pansus yang terus berjalan, dinamika politik pemerintah semakin klimaks dan memanas. Berbagai opini dan fakta terus bertambah dan mengerucut pada kesimpulan awal Pansus Century. Lantas, sudahkah ada beberapa indikator yang jelas terkait kasus skandal besar ini?.

Pansus Century adalah panitia khusus yang dibentuk dari beberapa Fraksi Partai politik di dalam parlemen yang berjalan sesuai amanah undang-undang untuk mengungkap kasus besar skandal Century yang terindikasi merugikan negara.


Kesimpulan awal Pansus century dalam waktu dekat ini yang diikuti 9 Fraksi di DPR mengundang berbagai respon publik. Pasalnya, ada beberapa Fraksi yang berkoalisi dengan pemerintah dinilai tidak pro-aktif dengan Partai yang dominan di pemerintahan. Ada empat Fraksi dari enam jumlah Fraksi koalisi pendukung presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan pasangannya Budiono terindikasi menyudutkan pemerintah, di antaranya adalah Golkar, PKS, PAN, dan PPP. Keempat Fraksi tersebut telah mengungkap adanya indikasi korupsi dalam bailout (pemberian dana talangan) Bank Century.


Pada dasarnya keempat Fraksi tersebut adalah mitra koalisi yang harus berjalan bersama dan bahu membahu dengan pemerintah ketika pemerintah diterpa permasalahan. Namun, di awal kesimpulan sudah ada indikasi tidak sehat yang menyebar secara sporadis di masyarakat, bahwa Partai pendukung pemerintah saat ini mulai berseberangan bahkan menandakan sinyal akan adanya kebijakan reshuffel yang dinyatakan oleh Partai Demokrat sebagai Partai dominan di pemerintah.


Sikap keempat Fraksi tersebut bahkan sejalan dengan pandangan Fraksi non koalisi, yakni PDI Perjuangan, Gerindra dan Hanura yang sebelumnya juga paling kuat menyatakan terjadi indikasi korupsi dalam proses bailout Century. Hanya Fraksi Demokrat dan PKB yang menyatakan proses bailout Century tersebut tidak berindikasi adanya tindak pidana korupsi pada kesimpulan awal Pansus.


Isu yang dihembuskan oleh sekjen DPP Partai Demokrat Amir Syamsudin dan wakil ketua umum Partai Demokrat beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa akan adanya reshufe kabinet bisa mungkin terjadi dalam waktu dekat ini, sebab dinilainya Partai mitra koalisi sudah kelewatan batas dan berada di luar koredor dengan menyudutkan posisi pemerintah saat ini.

Respon isu Reshuffle semakin menjalar kemana-mana. Sebelumnya ada dua Fraksi mitra koalisi yang sering mengkritisi posisi pemerintah dari awal sidang Pansus ini yaitu Golkar dan PKS. Dua Partai besar tersebut dianggap sudah berseberangan dalam koalisi hanya karena sering mengeluarkan statmen yang kritis di sidang Pansus Century.

Sungguh akan terlihat aneh apabila isu reshuffle didasari sikap Partai-Partai anggota koalisi yang kritis terhadap pemerintah dalam panitia khusus angket Bank Century, dan sangat naif jika gara-gara sikap kritis di Pansus tersebut Partai Demokrat mengultimatum mitra koalisinya.


Partai Demokrat dinilai terlalu bersikap terburu-buru dan melangkahi kebijakan presiden SBY dalam memutuskan kebijakan reshuffle. Hal itu akan menjadi bumerang bagi Partai Demokrat terhadap citra politiknya sendiri jika isu reshuffle dijadikan batu loncatan untuk menghindari fakta hukum di dalam sidang Pansus ini, padahal sebelumnya SBY selalu memberikan arahan terhadap Partai koalisi dan sepakat untuk mengusut kasus Century ini. Artinya, Demokrat tentu juga sudah mendapatkan restu dari Dewan Pembinanya untuk membuka kasus ini secara terang-benerang. Dengan demikian Partai Demokrat juga dinilai inkonsisten dan telah melakukan intervensi dengan mengancam reshuffle kabinet yang sejatinya dapat merusak citra soliditas koalisi yang reformis menjadi koalisi anti reformasi.


Perlu Kearifan


Dari berbagai gejala sebagaimana disitir diatas, maka ini sangat membutuhkan kearifan seorang Yudhoyono dalam menentukan sikap. Presiden punya hak dalam menentukan ini. Adanya isu reshuffle merupakan indikasi bahwa ada sebuah kekhawatiran yang menjelma akan gagalnya Yudhoyono memimpin bangsa ini dan dimungkinkan juga isu ini penuh dengan muatan politis. Artinya, sebagaimana disebutkan dimuka yakni ada orang yang ingin masuk pada kabinet. Ini tak mustahil terjadi, karena dalam pergulatan politik sesuatu yang kontradiktif adalah merupakan sebuah kewajaran.

Seandainya presiden tak arif dalam memutuskan ini, maka ini seakan menjadi bumerang dan polusi dalam kabinetnya. Dalam artian, ketika Yuhoyono menghendaki adanya reshuffle dalam kabinetnya, dan ternyata ini salah. Maka yang terjadi bukanlah perbaikan negara, namun kesemrawutanlah yang akan muncul. Sebaliknya, jika Yudhoyono pun tak melakukan reshuffe yang semestinya ia lakukan karena kinerja menteri yang kacau. Maka statis dan kemandegan akan menerpa Indonesia ditengah kemajuan negara lain. Ini Ibarat makan buah simalakama, dimakan akan jadi penyakit dan tidak pun jadi penyakit. Disinilah kearifan Yudhoyono sangat diperlukan. Dengan kata lain, reshuffle akan menjadi solusi ketika memang benar - benar itu dibutuhkan guna kemajuan negara. Dan reshuffle bisa menjadi polusi bangsa tatkala itu tak dibutuhkan, dan malah dinilai akan menambah persoalan bangsa semakin kompleks.


Untuk memutuskan Reshuffle atau tidak, seharusnya SBY tidak perlu gerah dan tergesa-gesa mengambil keputusan. Tentunya SBY yang terkenal memiliki kepribadian yang bijak dan santun, diharapkan lebih mempertimbangkan politik secara matang dan bijaksana. Karena bisa dipungkiri jika reshuffle benar-benar terjadi, komitmen berkoalisi selama lima tahun ke depan akan pupus di tengah jalan dan jauh dari yang dicita-citakan, keputusan reshuffle tersebut terkesan bersifat emosional dan hanya melihat kepentingan sesaat. Koalisi dibangun bukan atas politik yang berorientasi kekuasaan semata, namun harus sejalan pada komitmen awal untuk saling membantu, menghargai dan membangun dalam wadah kebersamaan. Apabila Reshuffle kabinet benar-benar terjadi rakyat akan menilai bahwa telah terjadi disharmonisasi dalam tubuh pemerintah saat ini.


(Agus Koribul Ahwan, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang sekaligus aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) daerah Semarang).


Rabu, 11 November 2009

Peran Mahasiswa Tanggap Bencana

Diterbitkan di Rubrik Kampus Koran Suara Merdeka

Edisi 17 Oktober 2009


MAHASISWA sering dilabeli dengan ikon sebagai agent social of change, agen perubahan sosial di masyarakat. Betulkan itu?

Sekarang pertanyaanya adalah, seberapa jauhkah dapat menjalankan keseimbangan antara peran akademis dan peran sosial di lapangan (baca: masyarakat) ?

Melihat realita saat ini, peran mahasiswa dalam masyarakat mestinya tak harus menunggu setelah lulus.

Melalui beberapa kegiatan sosial masyarakat pun, seperti bakti sosial di sebuah organisasi intrakampus maupun ekstrakampus, peran mahasiswa tetap dapat diaktualisasikan secara baik dan berkesan di masyarakat.

Peran mahsasiswa pada situasi lain juga dapat ditunjukkan dengan aksi peduli terhadapa korban bencana yang terjadi di Tanah Air.

Bencana alam yang terjadi di negeri ini tak semestinya hanya diperhatikan oleh segelintir orang saja. Beberapa pihak lainnya, termasuk kalangan mahasiswa, juga harus menunjukkan kepedulian dan memberikan uluran tangannya bagi para korban bencana.
Menjadi Relawan Beberapa kampus telah menggerakkan para mahasiswanya untuk berkiprah langsung di daerah bencana, misalnya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

UGM mengutus 40 mahasiswa untuk melakukan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dengan tema Peduli Bencana di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Ide cemerlang ini layak diapresiasi dan dijadikan percontohan bagi mahasiswa dan pengelola kampus lainnya di Indonesia.

Menurut Ketua Tim Disaster Early Response Unit (DERU) UGM Yogyakarta, Joko Prastowo, para mahasiswa akan belajar dan berkiprah sebagai relawan di lokasi bencana selama satu bulan.

”Mereka aktif melakukan berbagai kegiatan tanggap darurat bencana, seperti membantu menyelamatkan korban, harta benda, melakukan evakuasi dan pengungsian. Selain itu, memberi bantuan psikologis agar masyarakat cepat bangkit dari penderitaan dan keterpurukan hidup akibat gempa,” kata Joko.

Contoh di atas tentunya menjadi catatan yang patut ditiru dan diaktualisasikan oleh civitas akademika di kampus lain. Dari hal itu, tampak jelas bahwa peran aktif mahasiswa dalam bidang sosial kemasyarakatan terbukti dan tidak harus menunggu setelah proses studi selesai.

Andaikan kepedulian sebagai ujud simpati dan empati terhadap para koraban bencana di tanah air ini bisa diaktualisasikan oleh semua pihak, lebih-lebih ditanamkan dalam program studi di kampus masing-masing, tentu ada apresiasi tersendiri bangsa kita dalam mewujudkan nilai-nilai sosial, sebagaimana esensi dari tujuan pendidikan nasional.

(Agus Koribul Akhwan, mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang-32)

Selasa, 27 Oktober 2009

Rumor ‘Kimat Sudah Dekat’ jatuh Pada Tahun 2012

Siapa kira isu” kiamat sudah dekat” yang tak asing kita dengar menjadi sebuah tayangan sinetron_ ternyata tidak jauh ceritanya dalam kehidupan sekarang ini. Di dalam sinetron tersebut diceritakan pada perjalanan hidup seorang pemuda dari komunitas musisi rocker masa kini, selang waktu kemudian pemuda itu ingin bertobat dan merubah dirinya secara totalitas menjadi pemuda yang alim_sadar akan dirinya jauh dari tuntunan agama. Pemuda tersebut segera sadar dan bertobat karena sering mendengar nasihat bahwa “kiamat sudah dekat” dari seorang Bapak Haji.

Rumor bahwa kiamat sudah dekat sering kali menghebohkan masyarakat luas. Dulu pada tahun 1999 ada yang merumorkan bahwa isu kiamat akan jatuh tepat pada tanggal 9-9-1999 pukul 09.00, ternyata tak membuahkan kenyataan. Isu-isu tentang kiamat yang diramalkan dalam waktu dekat menjadi isu polemik dan perlu dicermati oleh semua kalangan masyarakat baik dari kalangan, pemerintah, dan para ulama’, terutama bagi kalangan akademisi di negeri ini.

Tidak dinafikkan isu kiamat memang benar-benar dekat diyakini oleh setiap orang. Terhitung beberapa bencana alam yang telah menelan banyak korban di tanah air ini mulai dari gempa dan tsunami di Aceh, lumpur lapindo Sidoharjo, gempa DIY-jateng, gempa Tasikmalaya, Jawa Barat. Dan yang mutkhir ini adalah gempa di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ini membutikan bahwa fakta kiamat tidak dapat ditebak oleh keinginan manusia.

Hal itu menyebabkan kesedihan rakyat atas bencana alam tersebut ternyata belum lekas hilang dari kronologi bencana yang bertubi-tubi di negeri ini. Trauma psikologi menjadi pukulan berat oleh para korban bencana yang kehilangan harta benda yang tiada nilainya bahkan keluarga dan orang-orang terdekat yang mereka cintai.

Namun yang tidak kalah penting nilainya ketika kerapuhan iman mereka terus surut dan mudah putus asa atas musibah yang datangnya dari Tuhan yang maha kuasa. Banyak masyarakat yang mudah menyalahkan Tuhan-Nya dan menggadaikan iman mereka. Dalam ilmu psikologi semakin orang menderita atas kepayahan yang ada pada dirinya dan tidak mau berusaha bangkit maka akan semakin lemah etos kerja yang ada di dalam kehidupannya. Namun untuk lebih jelasnya perlu kita pahami hakikinya kiamat?.


Antara rasional dan irasional

Beragam opini yang terus berkembang di masyarakat membincang isu kiamat yang diprediksikan akan jatuh pada tahun 2012. Orang mudah mempercayai atau tidak mudah mempercayai dari sebuah isu tersebut dengan alasan yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang yang mempercayainya terkadang tidak punya alasan yang jelas bahkan cenderung fatalistik, yaitu sikap menerima apa adanya, atau sering disebut dengan istilah taqlid buta. Bagi sebagian masyarakat lain yang tidak mudah terpancing dengan isu tersebut biasanya akan lebih mempertimbangkan dan lebih mencermati dengan dasar ilmu pengetahuan dan agama sesuai keyakinan masing-masing.

Dalam masyarakat sederhana banyak peristiwa yang terjadi dan berlangsung di sekitarnya dan berlangsung dalam dirinya, tetapi tidak dipahami oleh mereka. Hal itu mengarah pada pemikiran irasional yang tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Dalam masyarakat modern yaitu masyarakat yang telah maju, masyarakat yang telah memahami peristiwa-peristiwa alam dan dirinya melalui ilmu pengetahuan, ketergantungan pada kekuatan alam ghaib seperti pada masyarakat sederhana telah berkurang bahkan di beberapa bagian dunia seperti Eropa sudah hilang. Masyarakat ini cenderung lebih berfikir rasional dengan lebih mengutamakan ilmu pengetahuan. Namun di tengah kehidupan yang mondial ini masyarakat harus lebih memperhatikan sistem religi yang juga punya peranan penting_mampu menyeimbangkan antara kebutuhan akal dan spiritual.

Menurut Koentjaraningrat (2000: 376), bahwa semua aktivitas manusia bersangkutan dengan sistem religi (kepercayaan) berdasarkan atas suatu getaran jiwa, yang biasanya disebut emosi keagamaan (religious emotion). Emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia, walaupun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk beberapa detik saja, untuk kemudian menghilang lagi. Emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang dikaitkan dengan religi. Emosi keagamaan menyebabkan bahwa sesuatu benda, suatu tindakan, atau suatau gagasan, mendapat nilai sakral atau sacred value. Demikian pula tindakan atau gagasan yang biasanya tidak sakral yang biasanya disebut profan di masyarakat kita masih dipercayai bahkan dilebih-lebihkan dalam emosi keagamaan masyarakat kita.

Dengan demikian kondisi orang yang mudah membuat statmen dengan mengada-ada terkait rumor kiamat 2012, ini muncul akibat emosi keagamaannya yang tidak lurus. Antara batasan yang bersumber dari akal manusia yang bersifat profan mengalahkan dari sesuatu sumber yang yang bersifat sakral dari Tuhan yang maha Kuasa. Masyarakat harus benar-benar mencermati dan berhati-hati untuk tidak mudah percaya dengan isu-isu tersebut karena jika kita tidak punya emosi keagamaan yang lurus seolah-olah akan percaya dan terpesona dan menjadikan gagasan itu benar adanya.

Sungguh sangat ironis jika dari kalangan akademis tidak mengimbangi ilmuannya dengan mengemukakan dasar yang merujuk pada hasil penelitian yang logis. Di dunia modern sekarang ini masih saja banyak oknum yang sudah tidak malu lagi menampilkan wajahnya di hadapan masyarakat. Lihat saja via- iklan yang bermunculan di berbagai media layanan jasa mengatasnamakan ‘paranormal’. Berbagai cara dilakukan untuk menarik minat masyarakat. Lantas untuk apa keimanan kita, apakah mudah kita gadaikan begitu saja dengan ramalan yang tidak dibenarkan dalam tuntunan agama.

Lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta

Kalau kita mendengar petikan sya’ir dari lantunan lagu Ustadz Jefri al-Bukhori yang akrab dipanggil UJ bahwa “kiamat pasti akan datang karena itu adalah janji Tuhan”, jadi masalah kiamat itu adalah kategori top scret (sangat rahasia) dan hanya campur tangan Tuhanlah yang menentukan kapan datangnya. Seperti halnya jodoh dan ajal, siapa yang bisa menebak jodoh dan ajal akan menghampirinya. Manusia adalah sebagai hamba Tuhan yang siap mengabdi dan menundukkan diri hanya kepada-Nya.

Dalam kepercayaan agama Islam kiamat dibagi dua, kiamat kecil dan besar. Kiamat kecil disebut dengan istilah kiamat Soghir sedangkan kiamat besar disebut kiamat kabir. Kiamat kecil (kiamat Soghir) adalah indikasi-indikasi terjadinya peristiwa tragedi dalam skala kecil (mikrokosmos), contohnya: peristiwa musibah kematian, bencana alam, dll. Sedangkan kiamat besar (kiamat Soghir) adalah peristiwa di mana alam raya ( makrokosmos) secara universal hancur luluh lantah dari semua sistem yang ada di dalamnya. Seperti gambaran di film Armagedhon yang menceritakan kehancuran dahsyat alam raya ini.
Sebuah indikasi yang sudah mendekati datangnya kiamat besar jika peristiwa yang merupakan bagian dari kiamat kecil sering terjadi, kalau kita cermati dinamika iklim global saat ini sudah tidak signifikan lagi dengan kondisi iklim sebelumnya. Dampak dari pemanasan global (global warming) membuka tabir pertanyaan besar bagi semua umat manusia di belahan dunia untuk segera menyadari bahwa itu bukan rekayasa manusia. Semua negara di dunia harus mengakui perubahan iklim bumi sudah jauh dari yang diperkirakan, kalau menurut beberapa penelitian, bagian Antartika yang disebut sebagai daratan es abadi, namun sekarang kawasan tersebut nihil artinya jika setiap harinya beberapa wilayahnya sudah mencair. Di Indonesia yang terkenal punya dua musim, yaitu penghujan dan kemarau saat ini pun sudah tidak bisa diprediksikan kapan waktunya oleh Badan Metereologi Klematologi dan Geofisika (BMKG). Hal ini juga efek dari pemanasan global (global Warming).

M. Daud Ali (1998: 227) menyatakan bahwa keyakinan pada hari kiamat ini membuat manusia terbagi ke dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah manusia yang tidak percaya kepada akhirat dan memandang kehidupan dunia ini sebagai satu-satunya kehidupan. Kategori kedua, adalah manusia yang tidak menyangkal hari kiamat, tetapi bergantung pada campur tangan atau bantuan pihak lain untuk mensucikan diri dan menebus dosa-dosanya. Kategori tiga, adalah manusia-manusia yang yakin pada hari akhirat sebagaimana diterangkan dalam ajaran Islam. Orang yang yakin akan adanya hari akhirat dan yakin pula bahwa ia bertanggung jawab terhadap segala perbuatan yang dilakukannya, memperoleh pengawasan dalam dirinya setiap saat ia menyimpang dari jalan yang benar.

Namun sejatinya manusia hanya bisa berusaha lebih baik dalam hidupnya dan seterusnya yang menentukan nasib adalah kehendak Sang Pencipta alam ini. Kesadaran akan adanya pengawasan di dalam dirinya itu membuat manusia menjadi taqwa dan takut kepada Allah SWT walaupun tidak ada orang lain yang menyaksikan perbuatannya. Keyakinan kepada hari kiamat inilah yang mendorong semua umat manusia menyesuaikan diri dengan kerangka nilai abadi yang ditetapkan Tuhan Yang Maha Esa.

Agus Qorib El-Akhwan

Senin, 12 Oktober 2009

Peran Mahasiswa Tanggap Bencana

Mahasiswa mempunyai icon ‘agent social of change’, sebagai agen perubah sosial di masyarakat. Apakah itu betul? Sekarang pertanyaanya seberapa jauhkah peran akademis mahasiswa dengan peran sosial seimbang atau bahkan non-balance ketika diaktualisasikan di lapangan masyarakat?.

Melihat realita saat ini peran mahasiswa di masyarakat tidak harus menunggu lama dari masa studinya. Biasanya lewat beberapa kegiatan social masyrakat seperti agenda bhakti social di sebuah organisasi intra kampus ataupun ekstra kampus, peran mahasiswa dapat diaktualisasikan secara baik dan berkesan di masyarakat.

Peran mahsasiswa pada situasi yang lain juga dapat ditunjukkan dengan aksi peduli terhadapa korban bencana yang terjadi di tanah air. Bencana alam yang terjadi di negeri ini tidak semestinya hanya diperhatikan oleh segelintir oknum saja, namaun beberpa pihak yang lainnya tak terkecuali kepedulian orang-orang yang berada dalam kampuspun sangat dibutuhkan ulur tangannya bagi para korban bencana yang terjadi di tanah air ini.

Beberapa kampus yang sudah menggerakkan Mahasiswanya untuk berkiprah langsung di daerah bencana adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. UGM mendelegasikan 40 mahasiswanya untuk melakukan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) pembelajaran pemberdayaan Masyrakat (PPM) dengan tema peduli bencana di Padang pariaman, Sumatra Barat.

Sebuah ide yang cemerlang tentunya perlu diapresiakan dari ketua Tim Disaster Early Response Unit (DERU) UGM Yogyakarta, Joko Prastowo. Disampaikan bahwa para mahasiswa akan belajar dan berkiprah sebagai relawan di lokasi bencana selama 1 bulan untuk aktif melakukan berbagai kegiatan program tanggap darurat bencana seperti membantu, menyelamatkan korban, harta benda, evakuasi dan pengungsian. Selain itu, peran penting yang lain adalah memeberikan bantuan psikologis agar masyrakat cepat bangkit dari penderitaan dan keterpurukan hidup akibat bencana gempa.

Dari contoh di atas tentunya menjadi catatan yang patut ditiru dan diaktualisasikan oleh civitas akademik yang berada di kampus lain di tanah air ini. Dari hal itu, tampak jelas bahwa peran aktif mahasiswa di bidang sosial kemasyarakatan terbukti dan tidak harus menunggu setelah proses studi selesai.

Andaikan kepedulian sebagai wujud simpati dan empati terhadap para koraban bencana di tanah air ini diaktualisasikan oleh semua pihak, lebih-lebih ditanamkan dalam program studi di lembaga pendidikan tentunya ada apresiasi tersendiri bangsa kita dalam mewujudkan nilai-nilai sosial sebagaimana esensi dari tujuan pendidikan nasional.