Rabu, 07 April 2010

Senandung Bait “Taubat” (chicken soup Tazkiyyatun Nafsi) oleh: El-Achi

Di dinding tebal bercat hijau keputih-putihan tampak seorang pemuda yang berperawakan tinggi sedang, berbaju koko putih bersandar menghadapkan pandangan matanya ke sebuah lembaran-lembaran kertas putih dipenuhi dengan tulisan yang tersusun rapi dan berseni ‘arabi’, sambil menyuarakan senandung bait-bait merdu nan syahdu dari pita suaranya yang terus dilantunkan, pemuda itu khusuk membacanya. Tidak lain yang dibacanya itu adalah mushaf Al-qur’an ratsmul Utsmani, kitab suci umat Islam yang sebagian besar dijadikan sebagai pegangan hidup mereka. Si pemuda itu tidak sekedar membaca mushaf tersebut tapi juga mencoba untuk bertafakur “ merenungkan” makna dari ayat-demi ayat yang ia baca.

Pemuda tersebut tak lain bernama Muhammad Iqbal Al-baihaqqy. Biasanya banyak dari shahibnya gemar memanggilnya dengan laqab atau panggilan akrabnya “Kang Iqbal”. Istilah “kang” biasanya merupakan panggilan akrab bagi pemuda yang dilahirkan dari suku jawa tulen. Kebetulan kang Iqbal sendiri dilahirkan dari ke dua orang tuanya yang bersuku jawa tepatnya berasal dari daerah Semarang.
Pada saat itu memang Iqbal sedang bertadarus Al-qur’an yang merupakan kegemaran sehari-harinya di masjid Al-Muttaqqin komplek perumahan Depag, Surakara. Sering kali ia berada di Masjid lebih dahulu sebelum dikumandangkannya adzan, sebagai tanda panggilan masuk waktu shalat. Setelah tiba waktu adzan shalat Ashar ia segera bergegas melakukan amalan ibadah yang banyak memberikan manfaat bagi kaum Muslim khususnya sebagai pengingat waktu shalat.

Saat bersamaan itu, Kang Fadzlan shohib dekatnya yang posisinya menjadi takmir di Masjid Al-muttaqin itu menghampiri Iqbal. Kemudian terjadilah percakapan di antara keduanya,

” Assalamualikum ya akhi...? kaifa haluk fi masa'il yaum? Sapa kang Fadzlan dengan bahasa kitabnya.
” Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, bi khoir alhamdulillah. masa'unnur, Wa anta ? jawab kang Iqbal yang tak kalah fasih dengan bahasa kitabnya.

”Wa’ana kadzalik”. Saur kang Fadzlan kepada kang Iqbal dengan tawa kecilnya.

”Oh ya.. kang Iqbal, afwan ini waktu shalat Ashar sudah tiba kalo memang antum berkenan adzan ane persilahkan, tafadhol antum on kan saja microfon dan amplifeyernya yang ada di dalam lemari masjid itu, ane tak ambil air wudhu dulu ya... kang.” celetuk lagi kang Fadzlan mempersilahkan kang Iqbal untuk mengumandangkan adzan Ashar.

” Kebetulan kang saya belum batal setelah tadarus al-qur’an tadi, ya udah antum ane badhilkan dulu sambil nunggu antum wudhu dulu.”

Dengan mantab dan tenang kang Iqbal mengambil microfon yang ada di almari kemudian menghidupkan amplifernya, lalu dengan lantang terdengarlah lafadz adzan yang ia kumandangkan sepadan dengan lantunan Azan di Makkah.

Allahu akbar ............................x 4
(Allah Maha Besar)
Asyhadu alla ila ha illAllah ......x 2
(saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah)
Asyhadu anna Muhammadarrasulullah .... x 2
(saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah)
Hayya alas sholah............x 2
(mari kita menunaikan shalat)
Hayya alal falah .............. x 2
(mari kita menuju kemenangan)
Allahu akbar ..... x 2 (Allah Maha besar)
La ilaha illAllah .... x 1 (Tiada tuhan selain Allah)

Lafadz adzan yang ia kumandangkan selanjutnya diakhiri dengan do’a penutup adzan.

Beberapa selang kemudian Iqbal melaksanakan shalat rawatib dua rakaat sebelum melaksanakan shalat Ashar. Shalat rawatib adalah shalat yang disunahkan dalam tatanan syari’at Islam sebagai penghias shalat-shalat wajib, bisa dilakukan awal ataupun di penghujung setelah shalat wajib. Kedua istilah shalat rawatib sering disebut dengan Istilah qabliyah dan ba’diyah. Qabliyah berarti yang sebelum dan ba’diyah adalah sesudah melaksanakan shalat wajib.

Setelah melaksanakan shalat qabliyah Ashar, Iqbal menyempatkan untuk membuka kembali mushaf al-qur’annya sembari menunggu imam shalat. Beberapa ayat alqur’an telah dibaca ahmad, selang kemudian datanglah Ustadz Hanif, yang menjadi imam shalat Ashar di masjid tersebut. Kemudian setelah semua para jama’ah dan imam terkumpul, lengkap sudah suasana menghiasi jama’ah shalat Ashar di masjid al-Muttaqin tesebut, lafadz iqomah dikumandangkan sebagai tanda akan didirikannya segera ibadah shalat.

Usai menunaikan shalat Ashar Iqbal dan kang Fadlan meluangkan waktu untuk tahsin dan menyetorkan hafalan al-qur’annya ke ustadz Hanif di kediaman beliau yang lokasinya tidak jauh dari Masjid. Mereka berdua juga merupakan santri di antara beberapa santri yang dibina oleh ustadz Hanif.

Ustadz Hanif adalah pengasuh pondok pesantren/ma’had Al-Muallimin yang tersohor di mana-mana, tepatnya di daerah Surakarta. Beliau semasa menjalankan pengalaman Pendidikan pernah belajar di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, kemudian meneruskan Pendidikan Tinggi di LIPIA Jakarta yang terkenal dengan salah satu Perguruan tinggi Islam yang didirikan oleh lembaga pendidikan Pemerintah Arab Saudi di Indonesia. Setelah menyelami ilmu di lembaga pendidikan tersebut beliau mendalami ilmunya kembali dengan menerima beasiswa di Ummul Quro’ Makkah, Ustadz Hanif memang sebelumnya sudah mempunyai azzam atau tekad yang kuat untuk mendirikan sebuah pesantren yang nantinya bisa mencetak generasi-generasi yang berilmu dan berakhlak Islami, artinya santri-santri yang dibina oleh beliau nantinya akan menjadi santri-santri yang kompeten dalam keilmuan agama Islam secara kaffah dan mampu mengamalkan ilmunya kepada masyarakat umumnya.

Di dalam pesantren al-Muallimin tersebut pola pendidikan sangat diprioritaskan pada pembelajaran al-qur’an dari tingkat dasar sampai tingkat tahsin dan hafalan al-qur’an. Sehingga sudah tidak diragukan lagi alumni-alumni yang mahir dan disegani. Banyak dari alumni yang mendarmabaktikan keilmuannya seperti mengisi acara pengajian-pengajian dan ceramah sebagai muballigh di berbagai wilayah daerah. Dari santri yang masukpun tidak sekedar dari wilayah terdekat saja dengan ma’had, namun dari berbagai penjuru daerah di Indonesia khususnya pulau jawa, dari Aceh, Medan, Jambi, Riau, lampung, Palembang (wilayah Pulau Sumatra), Kalimantan, mataram, Kupang, Flores, dll. Bahkan santri yang berasal dari luar negeripun ada misalkan dari Malaysia, dan Singapura.

Jelasnya, ketertarikan santri yang mondok di m’ahad al-Muallimin tersebut merupakan bukti bahwa al-Muallimin benar-benar bertekad mencetak generasi rabbani, generasi Islam yang berilmu dan dilandasi dengan mutiara iman dan ketaqwaan.

Demikian pula cerita awal masuknya Iqbal dan Kang Fadzlan ke ma’had Al-Muallimin tersebut berkat niat mereka ingin hijrah ”mereformasi” total kebiasaan hidup sebelum mondok dan ghiroh memperjuangkan dakwah Islam secara Kaffah seperti yang diajarkan dan diperjuangkan oleh Rasulullah SAW.

Dari Hal itu pulalah yang menarik minat Iqbal dan rekannya Kang Fadzlan masuk ke Ma’had Al-Muallimin itu. Semenjak masuk mereka berdua memang mengawali keakrabannya sebagai shohib sampai sekarang. Bahkan mereka ibarat kakak beradik, ketika ada suka dan duka mereka akan saling membantu, saling menasehati, dan saling belajar bersama baik mengenai materi keilmuan atau pengalaman hidup mereka masing-masing.

Selang kemudian, terjadi percakapan di antara keduanya:
”Assalamualaikum Kang Fadzlan?”, salam Iqbal
”Waalaikum salam akhi?”, jawaban salam kang Fadzlan

" Kang saya sebenarnya berharap Ma’had ini menjadi icon atas pondok pesantren lainnya di wilayah sekitar sini. Ya...seperti halya pondok pesantren Darussalam Gontor begitulah...," celetuk Iqbal.
”iya...., dalam benakku juga begitu akhi...., semoga Allah memberkahi dan mewujudkan azam kita, dan tentunya azam yang juga dirintis oleh beliau Ustadz Hanif.” sanggah Kang Fadzlan.

' Kalau ditaksir dan dicermati memang keberadaan Ma’had di Indonesia sangat berkembang pesat, lebih-lebih menjadi peluang sebagai lembaga Pendidikan Islam Non-formal yang terbesar se- Asia tenggara. Seperti halnya pondok pesantren ternama di Indonesia mulai dari yang punya pola modern ataupun tradisional seperti; Ma’had Darussalam Gontor, Lerboyo, Futuhiyah Mranggen, Ma’had Ali, Ma’had Abu Bakar, dan lain sebagainya. Banyak macam jenis Pondok Pesantren di Indonesia dengan berbagai konsep dan kultur yang berbeda-beda namun satu yang harus kita ketahui dalam sejarah, bahwa fungsi ma’had atau Pondok Pesantren itu semuanya tetap sama yaitu sebagai wadah untuk membekali para santri tekun dan berjiwa tangguh dalam menegakkan ilmu-ilmu keagamaan.Oleh karena itu peranan Pondok pesantren sangat penting dan perlu dipertahankan guna memfilter dari budaya asing yang mulai merambah dan menjajah nilai budaya orang Islam sampai saat ini. Alhasil, ketika budaya Islam sudah tidak disadari oleh generasi muda umat Islam banyak hal-hal yang menimbulkan fitnah kita jumpai di mana-mana."

Terlintas dalam sejarah bangsa Indonesia, khususnya umat Islam sekarang ini harusnya berani mengaca akar sejarah perjuangan para pahlawan atau tokoh-tokoh Islam tempo dulu dari zaman pra kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan, seperti bagaimana peran panglima komando perang Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sultan agung, cik ditiro, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Buya Hamka, KH. Agus Salim, M. Natsir, M. Syahrir, dan lain sebagainya.
Banyaknya tokoh-tokoh muslim yang telah berkiprah dalam memperjuangkan negara dan bangsa Indonesia ini menjunjung harkat dan martabat serta cita-cita tinggi untuk membentuk citra negara yang berdaulat dan menentang segala bentuk penjajahan, penindasan sebagai bentuk kedhaliman besar yang mengungkung kehidupan rakyat.

“Kalo begitu....kita sebagai generasi muda muslim juga harus meneladani beberapa tokoh muslim yang ternama itu ya...kang? ” celetuk Iqbal dengan antusias.

“Oh...ya!! Setiap muslim harus tahu dan bisa meneladani masing-masing tokoh Islam dengan mengetahui latar belakang kehidupannya sampai sumbangsih pemikirannya terhadap kondisi umat ”, jelas kang Fadzlan dengan senyum terbuka.

“Ane ingat kang.. bagaimana perjuangan Buya Hamka yang dituduh makar oleh Pemerintah Orde lama ternyata subhanAllah....luar biasa, beliau di balik himpitan bui dan gelapnya hidup di dalam jeruji besi dapat mengilhami kehidupannya yang dituangkan dalam bentuk otentik yaitu terbukti muncul sinar yang menyala dari pemikiran beliau untuk menerangi kehidupan umat muslim di bangsa kita ini, sebuah tafsir Al-qur’an yang dinamai Tafsir Al-Azhar tertoreh dalam benak beliau ”, Iqbal menambah sebuah pernyataan tentang salah satu tokoh muslim.

Sembari bercakap-cakap muncul kang Sholahudin, shohib dari keduanya yang biasa dipanggil Kang sholah; “Assalamu’alaikum akhi, Kaifa halukum fi hadzal yaum?, Sapaan salam Kang Sholahudin kepada keduanya.
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, khoir Alhamdulillah”, saut keduanya.
Terjadilah percakapan yang tumpuk di antara ketiganya,
“Afwan boleh ikut nimbrung nggak nih akhi..., kayaknya kok seru banget.”, celetuk kang sholahuddin mendekati ke duanya.
“Tafadhol....kang sholeh, la ba’ts alias gak papa.”jawab Iqbal dan Kang Fadzlan mempersilahkan Kang Sholeh.
“ Begini kang.. ini kita lagi membincang seputar Pondok pesantren beserta para tokoh pendirinya, eh....tahu-tahu.. malah melebar sampai tentang kondisi umat Islam yang saat ini mulai tidak peduli akan perjuangan para tokoh tersebut..gimana kang menurut antum?” Ujar kang Fadzlan kepada kang Sholeh.
“ Oh....begitu, antum berdua memang shohib ane yang paling peduli dan perhatian dengan kondisi Pondok ini juga, kita bersama tentunya menginginkan kondisi Ponpes di Indonesia bisa berkembang lebih baik secara kualitas dan kuantitas, yang tentunya cikal bakal dari alumninya dapat menjadi tokoh-tokoh alim ulama’ serta pemimpin-pemimpin bangsa yang memberikan suri tauladan bagi ummat.”sambung Kang sholeh lebih menyimpulkan percakapan.

Sambil melanjutkan perbincangan ini mereka melangkahkan kaki untuk menghadap ke kediaman Ustadz Hanif. Ustad Hanif sering terbuka dengan santri-santrinya yang ingin berkonsultasi baik konsultasi masalah pribadi atau masalah umum seputar materi keIslaman. Ustad Hanif dengan pribadi shalehnya menjadi muara ilmu bagi santri-santrinya, tatkala suka ataupun duka beliau sering memberikan nasihat, teladan, dan inspirasi bagi santri-santrinya.

****************

Saat bersamaan usai menunaikan shalat ashar Iqbal, Fadzlan, sholahudin tahsin kepada ustadz Hanif, ketiganya termasuk di antara santri Pondok Al-Muallimin yang sudah tergolong dalam tingkatan Bil-Ghoib yaitu sudah tahfidz Al-qur’an. Adapula tingkatan yang lain yaitu Bil-Amma dan Binnazor. Bil-Amma yaitu santri yang masih dalam tingkat bacaan hafalan Juz Amma atau hanya berkisar pada Juz 30. Sedangkan pada tingkat Binadzor yaitu santri yang dalam tingkat baca dari juz 1-30 dalam satu mushaf Al-qur’an yang ditahsinkan kepada Ustadz yang sudah ahsan bacaanya, Binadzor diambil dari bahasa arab dari kata nadzoro yang diartikan “melihat”, maksudnya melihat ayat dalam surat Al-Qur’an.

Setelah ketiganya selesai mereka diberi tausiyah atau wejangan yang berisi serat hikmah dalam kehidupan sehari-hari oleh Ustadz Hanif, saat itulah hasil pembicaraan ketiganya diutarakan. Pembicaraan dimulai oleh Iqbal:
“ Ustadz, ane pingin mencurahkan buah pikiran mengenai keberadaan Pondok Pesantren Al-Muallimin ini”?

“Oh...ya Tafadhol, la ba’ts dengan senang hati akhi, gimana?”jawab ustad Hanif.

“ Begini tadz selama kami nyuprih ilmu dan mengabdi di pondok Al-Muallimin ini kami ingin menyampaikan jazakallah ahsanul jaza’ kepada pribadi antum tadz”.

“ Iya... tadz kami semua merasakan hidup kami lebih berarti ketika kami menemui komunitas di Pondok pesantren ini.” Tambah Kang Sholahudin.

“ Syukur Alhamdhulillah, antum semua merupakan teladan bagi semua santri yang ana kenal peduli terhadap perkembangan pondok pesantren Al-Muallimin ini.” Ustadz Hanif memberi pujian kepada tiga santrinya itu.

“Akhi.... Antum semua sudah ana anggap bagian dari keluarga besar Pondok Al-Muallimin ini, semenjak ana berazzam untuk mendirikan Pondok ini tidak ada hal yang mengganjal dalam niat, pertama ana niatkan lillahi ta’ala, kemudian mejalani semuanya dengan ikhtiar dan tawakkaltu Alallah, bertawakkal marang Gusti Allah. Antum semua tentunya masih ingat Hadits Ar’bain An-Nawawi yang kita kaji setiap pekan dalam Bab Niat:

“Innamal a’amalu binniyat wa innama likullimriin ma nawa”; “setiap perbuatan akan bergantung pada niatnya”, “ Ana tetap mensyukuri Ponpes Al-Muallimin ini tetap Eksis dan mampu membina akhlaq/budi pekerti para santri. Sering kali ane bermuhasabah, kita sebagai insan, hamba Allah harus mengajarkan budi pekerti kepada orang lain dengan budaya dan cara berpikir Islam i yang sesuai dengan tuntunan ajaran Nabi. Hal itu yang saya tekankan dalam wujud berdirinya Pondok Pesantren ini.”

“ Khoirun Nass Anfa’uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”, begitu kan tadz isi tausiyah antum yang sering kami pahami.” Ungkap kang Sholah menegaskan dalil yang ia hafal dari tausiyah ustad Hanif.

“Ha...ha...ha”, tawa sendu Ustadz Hanif, Iqbal dan kang Fadzlan mendengar Sholeh berujar.
“Shohih.... Akhi, subhanAllah ane salut antum semua”

“ Ane berharap antum semua tetap berkiprah dalam dakwah fi mardhotillah di manapun dan kapanpun setelah usai mengabdi di Ponpes Al-Muallimin ini.”

“Insya Allah.... tadz, kami semua akan malu di sisi-Nya jika punya ilmu tapi tidak kami amalkan. Sesuai dengan perintah Al-Qur’an kita sudah diwajibkan untuk mengajarkan ilmu atau menyampaikan kebaikan walaupun satu ayat.”Tegas Iqbal mengamini nasihat Ustadz Hanif.


********************





Awan semakin tampil gelap dan mega menampakkan keteduhan warna merah saganya, dari ufuk barat sang raja siang mulai tersipu malu tenggelam di balik tirai awan kelam nan membisu. Seakan-akan telah terjadi singkat perjumpaan di ujung perpisahan antara siang dan malam. Hal itulah yang kemudian membuat berbagai keserasian, kerapian dan keteraturan yang kita yakini sebagai Sunnatullah, yakni ketentuan dan hukum yang ditetapkan Allah azza wajalla.

Sunnatullah adalah sebuah fenomena akan tanda kebesaran-Nya, melalui inilah, bumi dan alam semesta dapat bekerja secara sistemik (menurut suatu cara yang teratur dan rapi) dan berkesinambungan, tidak berubah-ubah, tetap saling berhubungan, berketergantungan dan sekaligus secara dinamis saling melengkapi. Kita perhatikan, misalnya, bagaimana matahari bekerja menurut ketentuan Allah. Sejak diciptakan sampai akhir zaman, insya Allah matahari tetap berada pada titik pusat tata surya yang berputar mengelilingi sumbunya. Dalam proses seperti itu, menurut penelitian para ahli, gerak matahari selalu ketinggalan 3 menit 56 detik dari bintang-bintang yang ada di tata surya. Karena keterlambatan itu, dalam waktu 365 hari (jumlah hari dalam satu tahun) matahari sudah melintasi sebuah lingkaran besar penuh di langit.

Perjalanan hidup manusia tidak mampu menyibak kejadian yang tersembunyi di balik besarnya alam semesta, banyak kejadian yang tidak terduga entah kebahagiaan yang berbuah suka cita ataupun musibah yang berbuah duka cita. Dalam firman-Nya Allah telah menetapkan bagaimana waktu dalam kehidupan ini diatur secara rapi dan teratur:

“ Demi masa sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, melainkan kepada orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasihat-menasihati supaya mentaati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Tak lepas kemudian seiring waktu terus berjalan dan hari sudah gelap menampakkan mega merah yang menunjukkan tanda waktu maghrib sudah tiba. Ketiga santri tersebut diminta Ustadz Hanif untuk masuk ke dalam kediaman beliau.

“ Akhi, Antum semua ana sarankan berbuka puasa di sini dulu, nih waktu maghrib hampir tiba, ditunggu dulu sambil bercakap-cakap.”tawaran ustad Hanif kepada ketiganya untuk menyempatkan buka puasa bersama di kediamannya.

Saat itu bertepatan hari Kamis. Sudah menjadi kesunahan bagi umat Islam untuk melakukan amalan sunah puasa senin-kamis. Puasa Senin-Kamis didasarkan atas sebuah hadits yang menerangkan bahwa pada hari itu Rasulullah sering menjalankannya dan diyakini banyak keberkahan di dalam hari itu yang diturunkan oleh Allah bagi hamba-Nya yang mengamalkannya. Kebetulan ke tiganya berpuasa dan mengamini tawaran ustad Hanif itu.

Setelah waktu menunjukkan saat berbuka puasa tiba ditandai dengan tabuh bedug dan alunan kumandang adzan maghrib dari Masjid terdekat, mereka dan ustad Hanif berbuka dengan diawali do’a berbuka puasa lalu air zam-zam dan buah kurma yang sudah disiapkan di atas meja makan di kediaman ustadz Hanif siap untuk dicicipi sebagai penyegar tenggorokan.

Umi hamida zaujah Ustadz Hanif mempersilahkan ke tiganya untuk tidak sumkan dalam jamuan buka bersama dari Ustadz Hanif ini.

“Ayo....jangan sumkan semua, silahkan dicicipi dulu sebagai berkah puasa antum semua?”
“tafadhol... kita minum air zam-zamnya dan nyicipi kurma dulu sebagai pelega rasa haus dan lapar, lalu kita berhenti sejenak untuk menunaikan jama’ah shalat Maghrib di masjid setelah itu kita lanjutkan ke sini lagi.”

“Jazakallah ustad...tukas Iqbal mewakili ketiganya menerima anjuran mencicipi hidangan buka puasa.”
Setelah berbuka puasa di kediaman ustad Hanif mereka bertiga melangkahkan kakinya ke Masjid Al_Muhajirin yang merupakan Masjid di komplek Pondok Pesantren al-Muallimin tersebut.
Tak selang kemudian setelah shalat Maghrib usai mereka kembali lagi ke kediaman Ustadz Hanif untuk meneruskan jamuan buka puasa yang tadi sempat berhenti sejenak untuk menunaikan shalat maghrib berjama’ah di masjid.

Di dalam kediaman ustad Hanif mereka bertiga menikmati jamuan buka puasa dengan porsi yang sudah dihidangkan di atas meja makan, ada opor ayam, nasi uduk, soto, gule kambing.
“Alhamdulillah.... setelah kita diberikan berkah dan nikmat hidup oleh Allah SWt seperti dapat bernafas, bergerak, sehat tidak cacat sehingga mampu menjalankan amal ibadah yang menjadi tuntunan syari’at Allah, sekarang ada imbalan kenikmatan yang merupakan rizqi dari-Nya, mau tau rizqi kita di mana Sekarang ? rizki antum sekarang ya...ada di depan antum ini akhi..., silahkan dicicipi lagi !!” Ustadz Hanif menawarkan jamuan buka puasa lagi dengan gurauan penuh makna.

***********************************


Semangat ber-Islam seorang muallaf

Beberapa waktu kemudian selang kita mencicipi hidangan buka bersama dari Ustadz Hanif. Dari kejauhan datang seorang laki-laki separuh baya yang terlihat letih diperkirakan telah menempuh perjalanan jauh. Kemudian laki-laki tersebut mengucapkan salam kepada Ustadz Hanif dan kami semua menjawab salam darinya. Lalu ustadz Hanif mempersilahkan laki-laki tersebut untuk masuk dan menawarkan jamuan hidangan makanan yang telah disiapkan di atas meja makan bersama dengan kami.

Setelah selesai dan bergegas dari meja makan, Ustadz Hanif mengajak ke ruang tamu, lalu beliau membuka percakapan dan menanyakan maksud kedatangan laki-laki tersebut.

“Sebelumnya maaf pak.... bapak namanya siapa dan maksud kedatangan bapak kesini ada keperluan apa pak?.” Tanya ustadz Hanif.

“Maaf...Ustadz, nama saya lengkapnya adalah Muhammad Mahfudz, biasa dipanggil Mahfudz, kedatangan saya kesini ini pertama-tama bermaksud silaturrahim, kedua kalinya saya ingin meminta pencerahan dari Ustadz terkait permasalahan yang saya alami ini.” Jawab laki-laki tersebut.

" Terima kasih pak atas kunjungan bapak ke kediaman kami ini. Silahkan...pak, silahkan bapak ceritakan dengan runtut permasalahan yang bapak hadapi semoga saja saya dapat membantu. Tapi sebelumnya bapak ikut bergabung di meja makan dulu bersama kami."

Setelah ustadz Hanif mempersilahkan laki-laki tersebut untuk bergabung dalam jamuan makan, kemudian terjadi dialog yang lumayan panjang.

“ Begini ustadz, saya sebenarnya masih bingung dan sulit untuk menghadapi hidup ini. Saya sebenarnya baru masuk Islam selama 1 tahun ini, banyak permasalahan yang saya hadapi. Saya masuk Islam karena saya merasa ada ketenangan hidup yang saya rasakan dari sebelumnya. Saya membaca dua kalimah syahadat setelah saya menimba ilmu di komunitas Orang-orang yang peduli dengan dakwah dari masjid ke masjid di daerah Klaten. Dari hal itu, nama sayapun berubah menjadi sekarang yang sebelumnya adalah Michael Markus.”

“ Agama saya sebelumnya adalah Katolik, saya aktif di komunitas gereja hampir 15 tahun, saya mendapatkan tugas di bagian Koordinator puji-pujian keuskupan. Namun setelah saya merenung dan membaca berbagai rujukan kitab-kitab agama dan keyakinan masing-masing, saya menemukan sejatinya dasar keyakinan yang paling lengkap di Islam yang terkandung dalam Kitab Suci Al-qur’an. “
“Seiring perjalanan yang saya alami dari hidup saya ini beberapa cobaan sering saya temui, saya merasa terhimpit dengan posisi ini. Saya sebelum masuk Islam saya benar-benar dapat tekanan lahir batin baik dari keluarga, orang-orang terdekat khususnya pihak Gereja yang selama ini mereka tidak terima dengan keputusan saya tersebut untuk memilih keyakinan saya terhadap Islam. Mereka semuanya mengecap saya sebagai pengkhianat dan bahkan sampai saat ini saya sering mendapatkan teror berupa ancaman akan dibunuh.

“ Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tetap berpegang teguh pada pendirian saya dan berhijrah dari orang-orang terdekat yang saya kenal tersebut. Saya sering berpindah tempat, biasanya untuk mendapatkan ketenangan dan pencerahan jiwa sering bersinggah di masjid dan Pondok Pesantren...begitu tadz cerita yang saya alami.” Cerita laki-laki sebaya tadi yang bernama pak Mahfudz.

“ Begitu ya pak... coba saya akan menguraikan jawaban yang berhubungan dengan permasalahan yang bapak ceritakan tadi.” Ujar ustadz Hanif setelah mendengarkan cerita panjang dari pak Mahfudz.
“Nama bapak, bagus...setelah Bapak berubah nama dari sebelumnya.”

“ Pak mahfudz, perlu bapak ketahui bahwa setiap manusia pasti akan menemui jati dirinya. Dalam agama Islam telah diterangkan bahwa setiap manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan suci, melainkan karena Bapaknya ia bisa menjadi beragama Yahudi atau nasrani. Ini memberikan keterangan bahwa masalah yang bapak alami adalah karena bapak telah merasakan hidayah dari Allah SWT.”
“ Tekad dan Perjuangan bapak untuk berhijrah dari keyakinan sebelumnya kepada Islam yang bapak yakini saat ini adalah fitrah bapak yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Di dalam agama Islam -pun sebenarnya tidak ada larangan bagi umat lain untuk menjadikan Islam sebagai pilihan. Sebagaimana Firman Allah yang tercantum di Kitab suci Al-qur’an yang berbunyi “ La ikra ha Fiddin” artinya tidak ada paksaan dalam agama ini, yaitu “Islam ”.

“ Namun sejatinya agama Islam adalah agama yang diridhoi Allah SWT, yang dibangun atas lima dasar, mulai dari mengucapkan kalimah syahadat, menunaikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu. Agama Islam sangat memuliakan umatnya, Islam yang dibangun dengan keyakinan aqidah yang kuat akan memberikan manfaat yang baik bagi para pemeluknya.” Tegas Ustadz Hanif .

“ Begitupula mengenai prinsip yang dibangun dalam agama Islam menjujunjung tinggi nilai perdamaian, di satu sisi terkecilpun dalam keyakinan ini kita telah diatur untuk menjalankan hidup dalam suasana kebaikan. Contoh kecilnya dari bangun tidur dan tidurpun kembali, Islam mengajarkan etika berdo’a. Semua amalan dalam Islam sangat sistematis kita jalani dengan ringan jika kita konsisten dan benar-benar memiliki niat untuk berubah. “

Di sela-sela percakapan seorang laki-laki yang memiliki nama Mahfud itu mengutarakan kembali pengalaman pribadinya ketika masuk Islam .

“ saya ceritakan lagi ustadz, Ketika saya dulu masih belum berhijrah ke Islam, saya telah mengkaji berbagai perbandingan ajaran dan keyakinan lewat berbagai falsafahnya di dalam kitab sucinya masing-masing. Seperti dalam agama nasrani ini saya menemukan berbagai keganjalan yang tidak logis dari dasar-dasar yang dijadikan rujukan pemeluknya. Dari perkara trinitas sampai kronologi penyaliban Yesus yang sebenarnya adalah Nabi Isa dalam agama Islam, itu semua rekayasa belaka. Hal ini saya bandingkan dengan injil yang saya kira otentik dan selaras dengan kandungan isi al-qur’an dalam agama Islam yaitu injil Barnabas.

Injil Barnabas adalah salah satu injil yang keberadaannya langka untuk dipegang oleh jam’ah Nasrani di seluruh dunia, terkadang hanya beberapa saja Gereja dan keuskupan yang memilikinya. Di gereja di mana saya dulu berkiprah di sana, injil ini hanya ada satu dan itupun disembunyikan dan disingkirkan oleh pemuka gereja di sana, di gudang perpustakaan. Lalu saya mengambilnya untuk bahan kajian dan perenungan keyakinan saya. Dari situlah saya mulai meneliti dan membandingkan dari kisah dan dasar-dasar kandungan makna di dalamnya dengan injil-injil yang sekarang ini selalu diamandemen oleh otoritas gereja di Romawi.

Saya mulai merasa sangsi dan tidak yakin dengan keberadaan injil perjanjian lama dan baru saat ini. Lalu saya mulai mencari tahu dengan membandingkan dengan kitab agama lain, seperti Konghucu, Budha, Hindu. Namun semuanya malah tambah tidak rasional. Lantas kemudian karena waktu sudah larut malam saya cukupkan untuk tidur dan istirahat. Dalam alam tidurpun keyakinan dan pikiran saya kian tidak menjadi-jadi dan berharap-harap cemas untuk segera menyimpulkan berbagai fakta yang harus segera saya pecahkan.

Pada keesokan harinya ketika biasanya saya bangun jam enam pagi. Saya merasa berbeda di hari itu, saya bangun lebih awal dan merasa lebih tenang ketika berkumandang suara adzan di sebuah Masjid yang keberadaannya tidak jauh dari rumah saya. Saya bergegas dari tempat tidur, lalu kembali ke meja di mana buku-buku dan kitab suci dari berbagai agama yang tadi malam belum sempat saya rapikan masih tertumpuk di sana. Niat saya untuk menata dan menutup kajian tersebut dan mengembalikannya ke rak buku tak terelakkan, ketika saya memegang sebuah buku tebal di dalamnya dihiasi tulisan berseni arab yang saya belum bisa membacanya. Saya sempat heran dan merasa tertantang untuk membuka dan membacanya.

Walaupun di buku tersebut, saya tidak bisa membaca tulisan arabnya tapi saya bisa membaca terjemahannya. Satu persatu dari kata perkata saya mulai mengambil intisari maknanya. Setelah saya tutup dan melihat sampul depannya ternyata kitab tersebut adalah Kitab suci Al-qur’an dan terjemahannya yang diyakini Umat Islam saat ini. Dari situ, saya mulai bersemangat untuk menggali keingin tahuan saya terhadap agama Islam dan saya benar-benar menemukan ketenangan dengan Islam .

Kemudian hari, saya dengan cara diam-diam mulai jarang pergi ke Gereja dan lebih sering mondar-mandir di depan masjid saat waktu shalat tiba. Pernah suatu malam saya dipergoki penjaga masjid di sana atas gerak-gerik saya yang terbilang tidak wajar di saat itu. Saya dianjurkan untuk segera masuk ke Masjid karena waktu shalat sudah tiba. Lalu saya melangkahkan kaki saya dan masuk ke dalam masjid. Di dalam masjid saya lebih merasa tenang dan sejuk bukan karena faktor lahir melainkan benar-benar di dalam bathin keyakinan saya mulai cocok dengan keadaan di waktu itu.”

Setelah saya masuk di dalam masjid, saya melihat hilir-mudik orang mulai berdatangan ke masjid baik dari kalangan pria dan wanita, orang tua dan anak-anak. Mereka semua mulai memadati ruang di dalam Masjid. Saya melihat takjub kondisi ini yang berbeda saya temukan di komunitas gereja. Bahkan di komunitas jama’ah gereja terkadang setelah acara keagamaan mereka tidak mengenal satu dengan lainnya. Sungguh berbeda keadaanya dengan ritual keagamaan di Islam .

Setelah orang tiba di masjid. Sebagian besar mereka ada yang masuk keruangan di mana tempat itu ada air yang digunakan untuk bersuci. Saya pun heran dan mengikutinya. Dari gerakan demi gerakan saya tirukan dari orang yang berada di sebelah saya. Tidak hanya orang tua, anak kecilpun bisa dengan tertib melakukannya. Setelah saya melakukan ritual mensucikan sebagian tubuh dengan siraman air, wajah dan seluruh bagian tubuh saya merasa kesegaran yang luar biasa. Saya mulai tahu dari keterangan orang-orang bahwa ritual itu ternyata adalah wudhu sebagai syarat sahnya melaksanakan ibadah Shalat. Setelah berwudhu, saya mengikuti shalat isya’ dan tarawih berjama’ah. Di saat itulah saya merasa tertantang dan mulai menemukan pencerahan jiwa.

Setelah usai shalat saya sengaja berdiam diri di dalam masjid itu, lalu mendengarkan lantunan ayat suci Al-qur’an yang merdu dan meresap di hati. Di atas rak lemari masjid ada beberapa kitab suci Alqur’an yang ditata secara berjajar lalu saya mengambil satu darinya. Saya mengambil yang ada terjemahannya karena saya masih merasa belum bisa membaca yang bertuliskan arab.

Suatu ketika saya sering bertandang ke Masjid itu untuk melaksanakan shalat dan menemui beberapa orang yang saya anggap memiliki ilmu mendalam tentang ajaran Islam. Di situ saya menemui seorang Kyai, saya bercerita dan mengutarakan perihal maksud dan keinginan saya untuk masuk agama Islam. Setelah tak begitu lama saya bercakap-cakap saya disarankan untuk menata niat dulu jika saya saya ingin benar-benar masuk Islam .

Di lain waktu kemudian saya menemui beliau kembali secara diam-diam di rumah beliau kemudian saya disuruh untuk bersyahadat sebagai gerbang awal masuk Islam, kata beliau. Kalau dalam agama Nasrani istilah ini disepadankan dengan ritual baptis ketika orang memeluk agama Nasrani. Dengan disaksikan beberapa orang saya menirukan kalimah syahadat yang diucapkan oleh kiyai tersebut. Dan saat itulah saya memeluk agama Islam. Namun sejak saya menjadi muallaf secara hukum Islam saya masih bertekad bahwa keislaman saya jangan sampai putus di tengah jalan.”

“ Begitu tadz kisah yang saya jalani selama ini, ujar laki-laki tersebut sembari membuka permasalahan yang dihadapinya kepada ustad Hanif.

“ Maaf tad, sebenarnya setelah saya jadi muallaf saya hidup sebatang kara keluarga saya sudah tidak menerima kedatangan saya dengan baju Islam yang saya pakai ini. Saya kepondok pesantren ini tidak lain bermaksud untuk menjadi santri di sini jika ustadz mengijinkan." tukas laki-laki muallaf.

“ Pak Mahfud yang dirahmati Allah, siapa orang yang tidak suka melihat orang lain menjadi bahagia dalam kebaikan, siapa pula orang suka jika ada orang lain mempunyai niat baik kita tolak, dengan senang hati, pak Mahfud boleh menjadi keluarga besar Pondok pesantren Al-Muallimin ini.”

“ Alhamdulillah Ustadz,..ucapan syukur pak Mahfud seraya mencium tangan Ustad Hanif.
“nanti pak mahfud diantarkan ke kamar yang sudah disediakan oleh kang santri ini, ada kang Iqbal, dan kang Sholeh..”

“ sekali lagi terima kasih tadz, ucapan pak mahfud terkesan terharu.
“ sama-sama.. pak”

“ Jazakallah tadz atas jamuannya, kami akan mengantarkan pak Mahfud ke tempat kami. “Assalamualaikum”, salam Iqbal dan yang lain kepada Ustadz Hanif.

" Wa’alaikum salam warahmatullah wa barakatuhu...", jawab secara mumtaz oleh Ustadz Anif kepada semuanya.

Kemudian laki-laki mualaf tersebut diajak Iqbal dan shohibnya beristirahat di tempat yang sudah disediakan oleh Ustad Hanif di Pondok pesantren Al-Muallimin.
“Mari pak kita ke tempat rehat dulu....”
“ oh..iya, terima kasih”.


***************************




*Penulis adalah daun muda pujangga muslim Indonesia.

Jumat, 26 Maret 2010

pentingnya memuliakan muslim lainnya

PENTINGNYA MEMULIAKAN SESAMA MUSLIM

By: Ar-Rayyan*


Pada bab ini akan dikemukakan bagaimana pentingnya bagi seorang muslim memuliakan pribadi muslim lainnya. Suatu realita bahwa kita sebagai umat Islam hidup di dunia tidak sendirian. Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa umat muslim diibaratkan seperti sebuah bangunan kokoh yang saling menguatkan dan atau sebuah struktur badan yang lengkap, jika sebuah bangunan atau tubuh tersebut roboh atau sakit maka gejala buruk yang lain akan mempengaruhinya.


Perlu kita perhatikan bahwasanya dalam menjaga izzah agama Islam, persatuan sesama muslimlah yang paling diutamakan terlebih dahulu dalam mengemban misi risalah agama ini. Seorang muslim tidak boleh menyampaikan agama dengan cara yang tidak baik, hendaknya ia berhati-hati untuk bisa diterima dengan baik oleh yang lain. Seperti yang diajarkan Rasulullah Saw. dengan dakwah bilhikmah dan mauidhoh hasanah atau penyampaian ajaran Islam dengan cara yang bijak, terbukti beliau mampu menumbuhkembangkan dakwah Islam lebih ekspansif dan diterima oleh kaumnya.


Banyak orang yang terlalu bersemangat dan berlebihan dalam menyampaikan agama sehingga tidak mempedulikan harga diri sesama muslim. Padahal, menjaga kehormatan seorang Muslim itu sangat penting. Perhatikan Sabda Nabi Saw., yang artinya:


Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda, “ Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.” ( HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah-at-Targhib).


Dari Ibnu Abbas r.huma, dari Nabi Saw., beliau bersabda, “barang sipa menutupi aib saudaranya (yang muslim), maka allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barangsiapa membuka aib saudaranya yang muslim, maka pasti Allah akan membuka aibnya, sehingga Allah mempermalukannya di rumahnya karena aibnya itu.” (Hr. Ibnu Majjah ~at-Targhib).


Oleh sebab itu, hendaknya kita selalu menjaga kehormatan dan menutupi aib saudaranya.Sebuah hadits menyebutkan ,“Barang siapa tidak menolong saudarnya yang muslim ketika sedang dihina, maka Allah tidak mempedulikannya ketika ia sangat memerlukan bantuan-Nya.” Juga disebutkan, “ riba yang paling buruk adalah mencemarkan nama baik seorang muslim.”


Banyak riwayat yang menyatakan ancaman keras karena mencemarkan nama baik seorang muslim, sebagai pribadi muslim yang baik dan mengetahui ilmu agama hendaknya berhati-hati dalam masalah ini, cara menyampaikan nasihat yang benar adalah menasihati manusia secara tertutup untuk kesalahan yang dilakukan secara tersembunyi, dan menasihati secara terbuka untuk kesalahan yang dilakukan secara terang-terangan.


Bagaimanapun, kehormatan seseorang harus tetap diperhatikan sedapat mungkin. Jangan sampai karena rusaknya kebaikan, akhirnya dosalah yang timbul. Dan agar nasihat itu tidak berakibat buruk, nasihat-nasihat itu harus disampaikan dengan cara yang baik, sehingga tidak akan membuat orang yang melakukan sebuah kesalahan itu merasa malu dan dikucilkan. Lebih jelasnya, sesuai dengan perintah Allah SWT., bahwa yang bersalah tetap diperingatkan dengan tegas, tetapi jangan sekakli-kali mengabaikan sopan santun dan adat yang baik.

Seorang muslim hendaknya menerapkan adab yang baik ketika menyampaikan ajaran agama pada pendengarnya. Jika terjadi kemaksiatan, hendaklah ia menegur dengan kata-kata yang halus. Pernah seseorang memberi nasihat dengan kasar kepada Khalifah Makmun Ar-Rasyid, sehingga ia berkata,“ bersopan santunlah dan gunakanlah adab terhadapku, karena Fir’aun lebih kejam daripadaku, sedangkan Musa dan Harun lebih baik daripadamu, namun ketika keduanya akan berdakwah kepada Fir’aun, Allah SWT. Berfirman kepada mereka dalam QS. Thoha(20):44;


        

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut kepada-Ku".


Seorang pemuda pernah datang kepada Nabi Muhammad Saw. Dan berkata, “ Ya Rasulullah, ijinkanlah aku melakukan zina! “ mendengar hal itu, para sahabat sangat marah. Tetapi beliau bersabda kepada pemuda itu, “ kemarilah, apakah kamu suka jika orang lain berzina dengan ibumu? ” jawabnya, “ tidak!” Sabda beliau, “ Orang lainpun tidak mau ibunya dizinai. Apakah kamu suka jika orang lain berzina dengan anak perempuanmu?”, jawabnya, “tidak!” sabda beliau, “ Orang lain pun tidak mau jika anak perempuannya dizinai.” Demikianlah nabi Saw. Menanyakan hal yang sama mengenai saudara perempuannya, sepupunya dan sebagainya. Lalu beliau meletakkan tangannya di atas dada pemuda itu dan berdo’a, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampunilah dosanya, dan lindungilah dia dari perbuatan zina.” para perawi berkata bahwa setelah kejadian itu, tidak ada perbuatan yang paling dibenci pemuda itu kecuali zina.


Kesimpulannya, sebagai Umat yang diridhoi Allah Swt., hendaknya kita selalu selalu bersopan santun, menasihati secara halus, rendah hati, dan memperlakukan orang lain dengan cara yang kita sendiri senang jika diperlakukan demikian. Dari hal itulah akan terwujud kehidupan yang harmonis dalam tatanan Ukhuwah Islamiyah.

Akhir kata, Semoga kita mengerti permasalahan yang disebutkan di atas dan menjadi pribadi muslim yang saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran, dan senantiasa memuliakan muslim yang lain dalam kebenaran.


Wa Allahu A’lam bi Murodhihi.


* Penulis adalah perindu kedamaian dan Kebangkitan izzah Islam di mata dunia.”

Keterangan:

Diambil dari Intisari Kitab Fadho’ilul A’mal karangan Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al- Kandahlawi.


Kata Bijak:


Manusia adalah makhluk sosial, sehingga ia ingin bersama”.

(Aristoteles)

Pembicaraan yang baik tentu akan diikuti keputusan yang baik” (anonim)


Setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang baik, adil

dan jujur.” (Anonim)


Berpikirlah dengan tepat dan benar terhadap orang lain, maka orang lain itu akan mencintai anda

(Jhon Dewey)


Bagi para pembaca yang ingin berkomentar atau mengirim rubrik tanya jawab,dll. dapat dikirim melalui via email: agoes_kammi@yahoo.co.id atauweblog:http://www.agusakhwan.blogspot.com.




Selasa, 09 Maret 2010

Buya Hamka dan Tuduhan Plagiat Itu




oleh Asep Sambodja

Tahun 1962 adalah tahun yang berat bagi Buya Hamka. Sebab, pada September 1962, Abdullah Said Patmadji menuduh Hamka sebagai plagiat. Ini adalah tuduhan yang sangat menyakitkan. Abdullah S.P. menilai Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka (1939) merupakan plagiat dari novel Al Majdulin karya sastrawan Mesir, Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi. Novel Al Majdulin atau Magdalaine atau Magdalena dalam edisi bahasa Indonesia itu merupakan novel saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya sastrawan Prancis, Alphonse Karr. Untuk memperkuat tuduhannya itu, Abdullah S.P. membuat idea strip berikut:

A: Magdalaine
B: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

1) A. Magdalaine menyurati Suzanne tentang kedatangan pemuda
Stevens (hlm. 3-4)
B. Hayati menyurati Khadijah tentang kedatangan pemuda
Zainuddin (hlm. 35)
2) A. Stevens tinggal di kamar atas rumah orangtua Magdalaine yang
sedianya kosong (hlm. 3-4)
B. Zainuddin tinggal di rumah bakonya yang tidak jauh dari rumah
orangtua Hayati (hlm. 35)
3) A. Perikatan janji prasetia antara Magdailaine dan Stevens “di
bawah naungan bunga tilia” disusul dengan adegan asmara di
danau (hlm. 37-40)
B. Pertemuan di waktu hujan “di bawah sebuah payung” disusul
dengan perikatan janji prasetia di sebuah danau (hlm. 47-51)
4) A. Hubungan asmara antara Magdalaine dan Stevens tidak disetujui
orangtua Magdalaine karena pemuda Stevens miskin dan diusir
(hlm. 52-56)
B. Hubungan asmara antara Hayati dan Zainuddin tidak disetujui
orangtua Hayati karena Zainuddin melarat dan diusir
(hlm. 52-56)

6) A. Suzanne mengecoh Magdalaine sehingga membenci Stevens
(hlm. 115-117)
B. Khadijah mengecoh Hayati sehingga membenci Zainuddin
(hlm. 83-86)

11) A. Perkawinan Magdailaine dengan Edward (hlm. 180-190)
B. Perkawinan Hayati dengan Aziz (hlm. 123-131)

14) A. Edward bunuh diri di sebuah hotel di Chicago (hlm. 241-243)
B. Aziz bunuh diri di sebuah hotel di Banyuwangi (hlm. 175-176)
15) A. Magdalaine mati bunuh diri tenggelam di sebuah sungai
(hlm. 245-254)
B. Hayati mati karena kecelakaan tenggelam di laut bersama kapal
Van der Wijck (hlm. 177-180)
16) A. Stevens mati mendadak di atas kursi di depan pianonya
(hlm. 280-284)
B. Zainuddin mati mendadak di atas kursi di depan meja tulisnya
(hlm. 198-200)
+) A. Stevens dikubur di samping Magdalaine berdasarkan wasiat
Stevens.
B. Zainuddin dikubur di samping Hayati berdasarkan wasiat
Zainuddin.

Berdasarkan “temuannya” itulah Abdullah S.P. menuduh Hamka sebagai plagiat. Pramoedya Ananta Toer sebagai redaktur lembaran “Lentera” di harian Bintang Timur pun menuduh Hamka telah melakukan jiplakan mentah-mentah. Pramoedya menganjurkan agar Hamka meminta maaf kepada masyarakat pembaca Indonesia. Sejak Februari 1962 itulah Hamka menjadi bulan-bulanan Bintang Timur, terlebih latar belakang politik Hamka adalah sebagai anggota Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)—sebuah partai politik yang bersama Partai Sosialis Indonesia (PSI) dilarang Presiden Soekarno pada Agustus 1960, karena elite kedua partai itu selalu bermusuhan dengan Soekarno selama bertahun-tahun; oposisi mereka terhadap Demokrasi Terpimpin dan keterlibatan mereka dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)—menjadikan persoalan ini bukan saja persoalan sastra, melainkan juga persoalan politik.

Kritikus sastra H.B. Jassin menolak tuduhan itu. Menurut Jassin (dalam Pradopo, 2002), yang disebut “plagiat” itu adalah pengambilan karangan orang lain sebagian atau seluruhnya dan membubuhkan nama sendiri seolah-olah kepunyaannya. Di samping “plagiat”, ada saduran, yaitu karangan yang jalan ceritanya dan bahan-bahannya diambil dari suatu karangan lain, misalnya cerita luar negeri disesuaikan dengan alam sendiri (Indonesia) dengan mengubah nama-nama dan suasananya. Saduran itu pun harus disebutkan nama pengarang aslinya. Selain “plagiat” dan “saduran”, ada juga “pengaruh”, yakni hasil ciptaan pengarang sendiri mendapat pengaruh pikiran atau filsafat pengarang lain, baik disengaja maupun tidak.

Dalam hal roman Hamka itu, H.B. Jassin mengatakan bahwa karya itu bukan plagiat atau jiplakan, karena Hamka tidak hanya menerjemahkan dan membubuhkan nama sendiri dalam terjemahan itu, melainkan ia menciptakan karya dengan “seluruh kepribadiannya”.

Vicente Cantarino (dalam Pradopo, 2002) mengatakan bahwa dalam sastra ada tradisi mentransformasikan karya-karya sebelumnya ke dalam karya sendiri dengan bentuk yang baru. Hal ini bukan merupakan jiplakan, sebab ide dan konsepnya milik sendiri, sementara karya sebelumnya sebagai “bahan”. Dalam hal ini, menurut Rachmat Djoko Pradopo (2002) dalam buku Kritik Sastra Indonesia Modern, Hamka membuat transformasi dari karya Manfaluthi yang merupakan hipogramnya, dengan memasukkan pikiran-pikiran keislaman di dalamnya, mengubah jalan ceritanya, dengan penambahan-penambahan, semuanya disesuaikan dengan situasi Indonesia, Minangkabau khususnya, untuk menampilkan masalah adat, khususnya adat kawin paksa, dengan memasukkan pikiran-pikiran baru sesuai dengan ajaran Islam.

Hamka sendiri sebenarnya banyak diamnya. Ia menyerahkan persoalan itu kepada ahlinya. Kepada wartawan Berita Minggu (30 September 1962), Hamka mengakui bahwa memang ia terpengaruh dengan Manfaluthi. Dalam Gema Islam (1 Oktober 1962), Hamka mengatakan bahwa caci-maki dan tuduhan plagiat itu tidak akan menjatuhkan dia dan persoalan belum selesai. Ia mengharapkan agar Tenggelamnya Kapal Van der Wijck diteliti secara ilmiah oleh ahli sastra untuk menentukan apakah itu hasil curian, saduran, atau asli secara pasti. Hamka berharap dibentuk Panitia Kesusastraan yang bersifat ilmiah di bawah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan ia bersedia memberikan keterangan (Pradopo, 2002).

H.B. Jassin dan Junus Amir Hamzah (1963) telah membukukan polemik itu dalam buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dalam Polemik. Setelah membaca tulisan-tulisan yang menuduh Hamka sebagai plagiat maupun yang menolaknya, Umar Junus (dalam Hamzah, 1963) menyimpulkan bahwa pertama, Hamka menggunakan pola dan plot yang ada dalam karya Manfaluthi, tetapi ia mengisi tema dan idenya sendiri. Kedua, Hamka sangat terpengaruh Manfaluthi sehingga menyenangi dan menggunakan hal-hal yang sama dengan Manfaluthi, termasuk cara pengucapannya. Hal ini mungkin karena keaslian pengucapan belum menjadi mode pada masanya.

Dalam disertasinya, Rachmat Djoko Pradopo menilai bahwa persoalan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukanlah persoalan plagiat atau jiplakan, melainkan masalah intertekstual, yakni transformasi dari satu teks ke teks yang baru.

Hamka sendiri bisa mengambil “hikmah” dari polemik itu. Bagaimanapun sebuah buku yang selalu menjadi bahan pembicaraan atau pergunjingan, pujian atau makian, akan selalu diburu orang. Pemberian cap “dahsyat” sebagaimana ucapan Sapardi Djoko Damono terhadap Saman maupun cap “plagiat” sebagaimana tulisan Abdullah S.P. terhadap novel Hamka, sama-sama membawa berkah bagi penerbit buku itu. Terkadang berkah bagi pengarang juga. Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang terbilang laku di pasaran. Hamka sendiri mengakui dalam cetakan keempat buku itu, bahwa belum berapa lama diterbitkan, buku itu sudah ludes. “Belum berapa lama tersiar, dia pun habis,” tulis Hamka. Saya sendiri membeli buku itu pada 1999—yang sudah merupakan cetakan ke-23. Kelarisan buku ini dapat disejajarkan dengan Layar Terkembang Sutan Takdir Alisjahbana dan Saman Ayu Utami.

“Karena demikian nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi, kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak. Sesudah dia menutup mata, barulah orang akan insaf siapa sebetulnya dia…” (Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, hlm. 212-213).
***

Citayam, 8 Oktober 2009

1 komentar:

Taman hati mengatakan...

Saya sudah membaca dua novel Buya Hamka yang kontroversial itu, Tenggelamnya Kapal Vanderwyck ( plagiat Magdalena ) dan Terusir ( plagiat Madame X ).
Saya juga sudah baca Magdalena dan Madam X.
Memang thema cerita sama, situasi cerita juga sama, hanya beda lokasi dan nama2 tokoh.
Kalau kita membaca kempat novel itu, sangat yakin bahwa Buya Hamka setidaknya meniru idee cerita dan alurnya.
Sebetulnya ada inti cerita yang tidak sama, di buku2 nya Hamka ada pesan tentang kuat nya adat Minang yang sulit di tembus. Di buku2 barat "hanya" cerita roman biasa. Saya menangis ketika membaca roman2 Hamka, sangat tersentuh. Tapi emosi saya tidak banyak terpengaruh ketika membaca roman2 barat itu. Hamka mendapatkan soul nya.


Rabu, 10 Februari 2010

Reshuffle Cermin Disharmonisasi Pemerintah

Reshuffle Cermin Disharmonisasi Pemerintah


Setelah mengikuti arus persidangan Pansus yang terus berjalan, dinamika politik pemerintah semakin klimaks dan memanas. Berbagai opini dan fakta terus bertambah dan mengerucut pada kesimpulan awal Pansus Century. Lantas, sudahkah ada beberapa indikator yang jelas terkait kasus skandal besar ini?.

Pansus Century adalah panitia khusus yang dibentuk dari beberapa Fraksi Partai politik di dalam parlemen yang berjalan sesuai amanah undang-undang untuk mengungkap kasus besar skandal Century yang terindikasi merugikan negara.


Kesimpulan awal Pansus century dalam waktu dekat ini yang diikuti 9 Fraksi di DPR mengundang berbagai respon publik. Pasalnya, ada beberapa Fraksi yang berkoalisi dengan pemerintah dinilai tidak pro-aktif dengan Partai yang dominan di pemerintahan. Ada empat Fraksi dari enam jumlah Fraksi koalisi pendukung presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan pasangannya Budiono terindikasi menyudutkan pemerintah, di antaranya adalah Golkar, PKS, PAN, dan PPP. Keempat Fraksi tersebut telah mengungkap adanya indikasi korupsi dalam bailout (pemberian dana talangan) Bank Century.


Pada dasarnya keempat Fraksi tersebut adalah mitra koalisi yang harus berjalan bersama dan bahu membahu dengan pemerintah ketika pemerintah diterpa permasalahan. Namun, di awal kesimpulan sudah ada indikasi tidak sehat yang menyebar secara sporadis di masyarakat, bahwa Partai pendukung pemerintah saat ini mulai berseberangan bahkan menandakan sinyal akan adanya kebijakan reshuffel yang dinyatakan oleh Partai Demokrat sebagai Partai dominan di pemerintah.


Sikap keempat Fraksi tersebut bahkan sejalan dengan pandangan Fraksi non koalisi, yakni PDI Perjuangan, Gerindra dan Hanura yang sebelumnya juga paling kuat menyatakan terjadi indikasi korupsi dalam proses bailout Century. Hanya Fraksi Demokrat dan PKB yang menyatakan proses bailout Century tersebut tidak berindikasi adanya tindak pidana korupsi pada kesimpulan awal Pansus.


Isu yang dihembuskan oleh sekjen DPP Partai Demokrat Amir Syamsudin dan wakil ketua umum Partai Demokrat beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa akan adanya reshufe kabinet bisa mungkin terjadi dalam waktu dekat ini, sebab dinilainya Partai mitra koalisi sudah kelewatan batas dan berada di luar koredor dengan menyudutkan posisi pemerintah saat ini.

Respon isu Reshuffle semakin menjalar kemana-mana. Sebelumnya ada dua Fraksi mitra koalisi yang sering mengkritisi posisi pemerintah dari awal sidang Pansus ini yaitu Golkar dan PKS. Dua Partai besar tersebut dianggap sudah berseberangan dalam koalisi hanya karena sering mengeluarkan statmen yang kritis di sidang Pansus Century.

Sungguh akan terlihat aneh apabila isu reshuffle didasari sikap Partai-Partai anggota koalisi yang kritis terhadap pemerintah dalam panitia khusus angket Bank Century, dan sangat naif jika gara-gara sikap kritis di Pansus tersebut Partai Demokrat mengultimatum mitra koalisinya.


Partai Demokrat dinilai terlalu bersikap terburu-buru dan melangkahi kebijakan presiden SBY dalam memutuskan kebijakan reshuffle. Hal itu akan menjadi bumerang bagi Partai Demokrat terhadap citra politiknya sendiri jika isu reshuffle dijadikan batu loncatan untuk menghindari fakta hukum di dalam sidang Pansus ini, padahal sebelumnya SBY selalu memberikan arahan terhadap Partai koalisi dan sepakat untuk mengusut kasus Century ini. Artinya, Demokrat tentu juga sudah mendapatkan restu dari Dewan Pembinanya untuk membuka kasus ini secara terang-benerang. Dengan demikian Partai Demokrat juga dinilai inkonsisten dan telah melakukan intervensi dengan mengancam reshuffle kabinet yang sejatinya dapat merusak citra soliditas koalisi yang reformis menjadi koalisi anti reformasi.


Perlu Kearifan


Dari berbagai gejala sebagaimana disitir diatas, maka ini sangat membutuhkan kearifan seorang Yudhoyono dalam menentukan sikap. Presiden punya hak dalam menentukan ini. Adanya isu reshuffle merupakan indikasi bahwa ada sebuah kekhawatiran yang menjelma akan gagalnya Yudhoyono memimpin bangsa ini dan dimungkinkan juga isu ini penuh dengan muatan politis. Artinya, sebagaimana disebutkan dimuka yakni ada orang yang ingin masuk pada kabinet. Ini tak mustahil terjadi, karena dalam pergulatan politik sesuatu yang kontradiktif adalah merupakan sebuah kewajaran.

Seandainya presiden tak arif dalam memutuskan ini, maka ini seakan menjadi bumerang dan polusi dalam kabinetnya. Dalam artian, ketika Yuhoyono menghendaki adanya reshuffle dalam kabinetnya, dan ternyata ini salah. Maka yang terjadi bukanlah perbaikan negara, namun kesemrawutanlah yang akan muncul. Sebaliknya, jika Yudhoyono pun tak melakukan reshuffe yang semestinya ia lakukan karena kinerja menteri yang kacau. Maka statis dan kemandegan akan menerpa Indonesia ditengah kemajuan negara lain. Ini Ibarat makan buah simalakama, dimakan akan jadi penyakit dan tidak pun jadi penyakit. Disinilah kearifan Yudhoyono sangat diperlukan. Dengan kata lain, reshuffle akan menjadi solusi ketika memang benar - benar itu dibutuhkan guna kemajuan negara. Dan reshuffle bisa menjadi polusi bangsa tatkala itu tak dibutuhkan, dan malah dinilai akan menambah persoalan bangsa semakin kompleks.


Untuk memutuskan Reshuffle atau tidak, seharusnya SBY tidak perlu gerah dan tergesa-gesa mengambil keputusan. Tentunya SBY yang terkenal memiliki kepribadian yang bijak dan santun, diharapkan lebih mempertimbangkan politik secara matang dan bijaksana. Karena bisa dipungkiri jika reshuffle benar-benar terjadi, komitmen berkoalisi selama lima tahun ke depan akan pupus di tengah jalan dan jauh dari yang dicita-citakan, keputusan reshuffle tersebut terkesan bersifat emosional dan hanya melihat kepentingan sesaat. Koalisi dibangun bukan atas politik yang berorientasi kekuasaan semata, namun harus sejalan pada komitmen awal untuk saling membantu, menghargai dan membangun dalam wadah kebersamaan. Apabila Reshuffle kabinet benar-benar terjadi rakyat akan menilai bahwa telah terjadi disharmonisasi dalam tubuh pemerintah saat ini.


(Agus Koribul Ahwan, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang sekaligus aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) daerah Semarang).


Rabu, 11 November 2009

Peran Mahasiswa Tanggap Bencana

Diterbitkan di Rubrik Kampus Koran Suara Merdeka

Edisi 17 Oktober 2009


MAHASISWA sering dilabeli dengan ikon sebagai agent social of change, agen perubahan sosial di masyarakat. Betulkan itu?

Sekarang pertanyaanya adalah, seberapa jauhkah dapat menjalankan keseimbangan antara peran akademis dan peran sosial di lapangan (baca: masyarakat) ?

Melihat realita saat ini, peran mahasiswa dalam masyarakat mestinya tak harus menunggu setelah lulus.

Melalui beberapa kegiatan sosial masyarakat pun, seperti bakti sosial di sebuah organisasi intrakampus maupun ekstrakampus, peran mahasiswa tetap dapat diaktualisasikan secara baik dan berkesan di masyarakat.

Peran mahsasiswa pada situasi lain juga dapat ditunjukkan dengan aksi peduli terhadapa korban bencana yang terjadi di Tanah Air.

Bencana alam yang terjadi di negeri ini tak semestinya hanya diperhatikan oleh segelintir orang saja. Beberapa pihak lainnya, termasuk kalangan mahasiswa, juga harus menunjukkan kepedulian dan memberikan uluran tangannya bagi para korban bencana.
Menjadi Relawan Beberapa kampus telah menggerakkan para mahasiswanya untuk berkiprah langsung di daerah bencana, misalnya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

UGM mengutus 40 mahasiswa untuk melakukan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dengan tema Peduli Bencana di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Ide cemerlang ini layak diapresiasi dan dijadikan percontohan bagi mahasiswa dan pengelola kampus lainnya di Indonesia.

Menurut Ketua Tim Disaster Early Response Unit (DERU) UGM Yogyakarta, Joko Prastowo, para mahasiswa akan belajar dan berkiprah sebagai relawan di lokasi bencana selama satu bulan.

”Mereka aktif melakukan berbagai kegiatan tanggap darurat bencana, seperti membantu menyelamatkan korban, harta benda, melakukan evakuasi dan pengungsian. Selain itu, memberi bantuan psikologis agar masyarakat cepat bangkit dari penderitaan dan keterpurukan hidup akibat gempa,” kata Joko.

Contoh di atas tentunya menjadi catatan yang patut ditiru dan diaktualisasikan oleh civitas akademika di kampus lain. Dari hal itu, tampak jelas bahwa peran aktif mahasiswa dalam bidang sosial kemasyarakatan terbukti dan tidak harus menunggu setelah proses studi selesai.

Andaikan kepedulian sebagai ujud simpati dan empati terhadap para koraban bencana di tanah air ini bisa diaktualisasikan oleh semua pihak, lebih-lebih ditanamkan dalam program studi di kampus masing-masing, tentu ada apresiasi tersendiri bangsa kita dalam mewujudkan nilai-nilai sosial, sebagaimana esensi dari tujuan pendidikan nasional.

(Agus Koribul Akhwan, mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang-32)