Selasa, 22 September 2009

Buya Prof Dr HAMKA: Ulama Pejuang, Politisi Sejati dan Pujangga Terkemuka

BUYA HAMKA adalah potret ulama kharismatik, politisi sejati dan pujangga terkemuka yang memilih berkiprah dalam perjuangan pembentukan karakter ummat dan bangsa.

cover-e-book-buya-hamka.jpg

Buya Hamka bukan sosok ulama istana, beliau adalah ulama pejuang yang berhasil menjadi peletak dasar kebangkitan komunitas islam modern atau kaum gedongan di Ibukota lewat icon al azhar yang pada akhirnya berhasil pula melebarkan sayap sebagai lembaga pendidikan modernis dan agamis.

Sebagai politisi buya hamka patut menjadi teladan, Pandangan dan keyakinannya senantiasa lurus – lurus saja memperjuangkan aspirasi ummat, beliau bersama tokoh-tokoh Masyumi lainnya adalah para pejuang Islam yang gigih dalam mengajukan konsep-konsep Islam, secara ilmiah dan argumentatif. Tetapi, juga konsisten dalam memegang teguh aturan main secara konstitusional. Ketika perjuangan melalui jalur partai politik terganjal, buya hamka dan para tokoh Masyumi memilih hijrah dengan menempuh jalur dakwah di masyarakat, masjid, pesantren, dan perguruan tinggi. Karena sesungguhnya dakwah adalah laksana air yang mengalir, tidak boleh berhenti, dan tidak bisa dibendung.

Sikap Istiqomah menjadi garda terdepan walau harus menghadapi tangan – tangan besi kekuasaan yang terbukti berhasil menjebloskannya ke penjara.

Penjara badaniah tak sekalipun kuasa memenjarakan kebesaran jiwa seorang hamka yang tetap merdeka, sejarah pula yang akhirnya mencatat bahwa dari dalam penjara lahir karya terbesar buya hamka yang membuatnya dikenal hingga ke mancanegara, Tafsir Al Azhar adalah satu – satunya Tafsir Al Qur’an yang ditulis oleh ulama melayu dengan gaya bahasa yang khas dan mudah dicerna.

Bukan Sekedar itu karya sastra buah penanya tak kalah hebatnya, beberapa novelnya seperti Dibawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj , Merantau ke Deli dan banyak karya – karya beliau ternyata tidak hanya dipublikasikan oleh penerbit nasional sekelas Balai Pustaka dan Pustaka Bulan Bintang melainkan juga diterbitkan di beberapa negara asia tenggara bahkan di release juga diberbagai situs, blog dan media informasi lainnya.

Pendek kata karya besar buya hamka saat ini telah mendunia meski ironisnya di negeri sendiri sudah jarang generasi muda yang mengenal sosoknya yang fenomenal.

Sikap Istiqomah yang dicontohkan buya hamka bisa menjadi inspirasi bagi kita, beliau bukan alumni perguruan tinggi manapun namun banyak sekali kalangan yang menuliskan di depan namanya gelar atau title Prof Dr, siapa yang bakal menyangka jika seorang yang pada awalnya belajar secara otodidak belakangan justru banyak di berikan gelar doctor honoris causa oleh banyak universitas terkemuka.

Karya – karya buya hamka terutama di bidang sastra memang telah melambungkan nama bangsa, mengharumkan nusantara hingga ke manca negara.

Simaklah petikan puisi yang dituliskannya secara khusus untuk Pak Natsir, Puisi yang ditulis Buya Hamka pada tanggal 13 November 1957 setelah mendengar uraian Pidato Natsir yang dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara RI.

Kepada Saudaraku M. Natsir
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu …….!

Jalan Istiqomah yang dilalui dalam setiap jejak pergerakan dan perjuangan buya hamka untuk memajukan kaumnya merupakan rintisan yang seharusnya bisa diteruskan dari generasi ke genarasi. Benarkah ?!?!

Sumber : http://id.Wikipedia.org , http://gaffasjr.blog.com/, http://bulanbintang.wordpress.com

Rabu, 22 Juli 2009

Seni Membangun Jaringan

Dalam rangka meningkatkan nilai dan kualitas kehidupan, kita memerlukan teman, relasi, kolega, mitra atau orang-orang yang dapat mendukung kita baik dalam pengembangan kehidupan pribadi maupun profesional kita. Kualitas kehidupan kita sangat ditentukan oleh kualitas Jaringan (network) orang-orang dalam kehidupan kita. Sehingga penting bagi kita untuk dapat memahami dan menguasai keterampilan membangun dan memelihara Jaringan kehidupan kita untuk mencapai impian-impian kita.

Kunci utama keberhasilan dalam membangun jaringan adalah mengetahui persis jaringan seperti apa yang hendak kita bangun. Kita harus memulainya dengan menemukan maksud atau misi kehidupan kita.Tidak mungkin seseorang memulai suatu usaha dalam hidup ini tanpa mengetahui arah mana yang akan ditujunya. Tidak ada keberhasilan yang bisa dicapai tanpa tujuan yang jelas. Berdasarkan survei, 27% dari semua orang di dunia ini sama sekali tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidupnya. Enam puluh persen (60%) dari mereka mempunyai tujuan yang agak samar-samar, 10% dari mereka mempunyai tujuan yang jelas. Sisanya, 3% dari mereka bahkan menuliskan tujuan mereka. Orang yang menuliskan tujuan hidupnya tersebut sekarang memiliki hidup yang jauh lebih baik, penghasilan ribuan kali lebih besar dari yang lainnya.

Untuk berhasil dalam kehidupan, kita perlu bantuan orang-orang di sekeliling kita. Dengan kata lain, sukses selalu merupakan suatu dari usaha tim. Sayangnya, kita sering melupakan hal ini dan lalai memelihara kontak profesional kita. Kita mengisolasi diri dan terlalu sedikit menghabiskan waktu untuk memelihara persahabatan. Sesungguhnya, semakin jauh kita maju dalam perjalanan menuju sukses, kita akan semakin menyadari bahwa yang membuat kita sukses bukanlah uang, gagasan atau antusiasme semata, melainkan orang lain. Kontak, uang, gagasan, dan antusiasme memang penting dan harus ada, tetapi semua itu tidak cukup kalau kita tidak mempunyai orang yang dapat kita andalkan.
Belajarlah menyukai orang. Siapa pun yang tidak dapat membangun kerja sama dan persahabatan dengan orang lain tidak akan pernah mencapai sukses.


Membangun jaringan adalah suatu seni karena tidak ada rumusan pasti tentang cara membangunnya. Jaringan bukan hanya sekedar kumpulan daftar nama atau urutan abjad dari relasi kita. Kita bisa mengumpamakan jaringan seperti sebuah taman bunga yang penuh dengan aneka jenis tanaman. Keindahan dan kesuburannya tergantung pada kita sendiri sebagai tukang kebun. Sebagai tukan kebun, kita harus merancang landscape-nya dan menentukan komposisi tanaman di dalamnya. Kemudian, kita juga harus memelihara dan merawat setiap tanaman agar tumbuh subur dan berbuah pada masanya dengan penuh kasih dan kepedulian. Beberapa tanaman mungkin perlu disiram, yang lainnya perlu dipupuk, atau sebagian lain perlu dipangkas atau bahkan dicabut agar tidak merusak tanaman lainnya.

Bila kita tidak merawatnya, taman kita menjadi penuh dengan semak belukar. Taman tidak bisa menghasilkan bunga-bunga indah atau buah-buahan segar. Taman tidak berkembang dan tanaman tidak tumbuh dengan subur. Memang seperti itulah jaringan kehidupan yang kita miliki. Jika kita mengembangkan dan merawatnya, suatu saat kita akan menikmati hasilnya pada kehidupan kita selanjutnya.


Hal terpenting lainnya adalah reaching out yang terdiri atas beberapa langkah, seperti:
• Menyapa (dengan senyum, ramah dan tulus) setiap orang yang berada dalam jarak kurang dari 1 meter dengan kita (di bis, kereta api, pesawat udara, atau dalam lift, dan lain-lain)
• Menyebarkan kartu nama ke setiap orang yang baru Anda kenal,
• Hadiri setiap undangan pesta atau pertemuan apa saja (bahkan melayat orang meninggal atau menjenguk orang sakit).
• Berkenalanlah. Hal yang terburuk yang dapat terjadi adalah orang tersebut tidak merespon Anda (dan biasanya ini sangat jarang terjadi). Kalau Anda tulus mengajak berkenalan tanpa bermaksud mencari keuntungan atau seakan memanfaatkan dia, setiap orang akan membalas sapaan tulus yang Anda berikan.
• Prospekting harus dilakukan setiap saat. Kita harus mengulang-ulang proses ini sampai kita mahir dan menjadilan hal tersebut sebagai kebiasaan baru). Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam membangun jaringan. Menurut pengalaman mereka yang sukses, untuk menjadi sukses kita harus bergaul dengan mereka yang sukses. Charles-Albert Poissant dalam bukunya yang berjudul Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan Terkemuka Dunia memberikan kesimpulan bahwa untuk menjadi seperti para jutawan terkemuka, kita harus mengembangkan jaringan karena jaringan akan membantu kita menaiki jenjang sukses lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Walaupun begitu, kita hendaklah berhati-hati dalam memilih teman, terutama yang ada hubungannya dengan bisnis. Hindarilah orang-orang yang selalu gagal, manipulator (selalu bersiasat dengan manuver yang tidak beres untuk mencari keuntungan sendiri atau menipu), dan orang yang selalu berpikiran picik. Hindarilah mereka yang selalu pesimis dan berpikiran negatif.
Dengan bersekutu dengan orang yang selalu berhasil peluang berhasil kita menjadi jauh lebih besar. Oleh karena itu, kalau kita ingin maju, bergabunglah dengan orang yang berpandangan jauh ke depan (visioner).
Bangunlah kelompok Anda sendiri. Pilihlah orang yang terpercaya, lebih baik teman-teman Anda, terutama orang-orang yang bersikap mental positif. Ini mutlak. Orang yang cepat menyerah kalah akan merugikan seluruh kelompok. Poissant selanjutnya menganjurkan untuk membuat kelompok sebanyak tiga atau empat orang. Suatu kelompok yang menjadi “otak kolektif” Anda. Mereka harus mempunyai cita-cita yang sama (misalnya menjadi kaya).
Adakan pertemuan secara tetap, lebih baik pada waktu-waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Tentukan topik tertentu. Jangan pendam ide-ide Anda. Biarkan imajinasi Anda bekerja. Mungkin Anda akan heran karena banyaknya gagasan yang muncul dalam pertemuan seperti itu. Sesudah curah pendapat (brainstorming), perhalus gagasan Anda. Cobalah analisis semua implikasi, penerapan, dan kemungkinan konkret. Paparkan rencana Anda. Kritik dan saran yang konstruktif dari orang lain akan membantu Anda menimbang segala pro dan kontra.
Pertemuan seperti itu tidak hanya untuk mencari ide-ide semata, tetapi juga digunakan untuk membicarakan kesulitan dan masalah yang Anda jumpai dalam kehidupan Anda. Selain itu bicarakan sebuah buku yang telah Anda baca minggu itu. Bicaralah tentang strategi.
Akhirnya dapat saya sampaikan bahwa untuk mengubah kehidupan kita, kita harus berubah dan membangun jaringan kehidupan lebih baik. Memang, pada awalnya hal ini sulit dan berat karena kita harus keluar dari zona kenyamanan kita terlebih dulu. Tetapi kita harus ingat bahwa kitalah satu-satunya yang dapat mengubah realitas kehidupan kita.

Bagaimana Memelihara Jaringan Kita
Merawat dan memelihara jaringan adalah sama pentingnya dengan membangun atau mengembangkan jaringan. Harvey Mackay menulis sepuluh daftar teratas untuk tetap berhubungan dengan jaringan kita. Kesepuluh daftar tersebut yaitu:

Manfaatkanlah kalender secara kreatif.
1. Ingat peristiwa-peristiwa penting dalam komunitas kita.
2. Amatilah perubahan-perubahan yang terjadi pada pribadi/organisasi /perusahaan pada jaringan kita.
3. Kirimlah telegram, fax, atau e-mail.
4. Kliping peristiwa penting yang terjadi pada jaringan kita.
5. Manfaatkan tempat singgah kita secara konstruktif.
6. Jadilah perantara yang mampu menangani komunikasi di antara pihak yang sedang bertikai.
7. Telepon mereka sewaktu mereka ditimpa kemalangan.
8. Laporkan pada jaringan kita perubahan besar dalam situasi kita.
9. Hadirilah setiap undangan.
Pada dasarnya ada dua cara untuk tetap memelihara dan merawat jaringan kita, yaitu cara proaktif dan cara positif-reaktif. Cara proaktif berarti kita secara rutin dan terus menerus memelihara dan berusaha menghubungi jaringan kita secara kreatif. Sedangkan cara positif-reaktif berarti kita selalu merespon atau menanggapi secara positif dan melakukan kontak kepada jaringan atas berbagai peristiwa penting atau perubahan situasi yang dialami oleh jaringan kita.
Kita bisa menganalogi kedua cara ini dengan teknik memukul bola swing dalam permainan golf. Proaktif mirip ketika kita melakukan backswing dan positif-reaktif mirip ketika kita melakukan forward swing. Forward swing lebih merupakan gerakan lanjutan dari backswing. Jadi, kita harus proaktif terlebih dahulu untuk dapat melakukan positif-reaktif dalam memelihara dan merawat jaringan kita. Kedua cara tersebut harus dilakukan dalam suatu gerakan yang harmonis.
Untuk berhubungan dengan jaringan kita dapat melakukan dengan berbagai cara, seperti pertemuan face to face (one on one), pertemuan kelompok (pesta, event tertentu, dan lain-lain), melalui telepon, telegram, kartu pos, surat, fax, atau e-mail atau bahkan hanya menitip salam melalui jaringan kita yang lain. Gunakan berbagai media atau jaringan kita sendiri untuk senantiasa berhubungan dengan seluruh (atau minimal sebagian besar) jaringan kita.
Kita harus membuat target atau jadwal rutin siapa saja yang harus kita hubungi (meskipun kita tidak mempunyai urusan bisnis tertentu dengan mereka) dan berapa sering kita harus mengontak mereka. Gunakan cara-cara kreatif seperti yang ditulis oleh Harvey Mackay.

Memelihara Jaringan secara Proaktif
Pada dasarnya menjadi tanggung jawab kita untuk selalu memberi perhatian sehingga jaringan kita menyadari bahwa kita masih menjadi relasinya. Kita harus memiliki daftar atau kalender peristiwa penting bagi jaringan kita, seperti hari ulang tahun, ultah pernikahan, atau ultah anaknya, hari-hari besar seperti hari raya keagamaan, dan sebagainya. Cara paling mudah, cepat, dan cukup akrab adalah dengan menggunakan telepon. Buatlah daftar orang-orang yang perlu kita telepon, misalnya minimal 5 orang per hari. Manfaatkan buku telepon secara kreatif.
Hal penting yang harus dijaga dalam cara proaktif adalah seluruh jaringan harus mengetahui setiap perubahan informasi besar yang terjadi pada situasi kita.
Misalnya, pindah alamat, perubahan nomor telepon, perubahan jabatan di kantor, sudah menikah atau belum. Berbagai peristiwa tersebut perlu diketahui oleh jaringan kita sehingga jika kita bertemu dengan mereka suatu saat nanti, mereka merasa nyaman dengan kita.
Cara kreatif lain dalam memelihara jaringan secara proaktif adalah dengan menyiapkan daftar seluruh jaringan yang tinggal di kota yang akan kita kunjungi. Usahakan untuk menghubungi mereka melalui telepon atau menemui mereka jika ada waktu luang.
Kita sering tidak menyadari betapa berharganya memelihara sikap seperti ini sehingga jaringan merasakan adanya perhatian yang tulus dari kita. Sehingga pada saat kita membutuhkan mereka, mereka tidak menganggap bahwa kita hanya menghubungi mereka saat kita membutuhkan mereka saja.

Memelihara Jaringan secara Positif-Reaktif
Intinya adalah kita harus senantiasa mengetahui berbagai peristiwa penting atau perubahan situasi yang dialami oleh jaringan kita. Berbagai informasi penting ini dapat kita peroleh melalui jaringan kita yang lain atau dari yang bersangkutan, dari surat kabar, televisi atau radio (jika jaringan kita pejabat, selebriti, atau public figures lainnya). Amati berbagai peristiwa penting dan perubahan yang terjadi dalam komunitas dalam jaringan kita. Harvey MacKay bahkan menyarankan kita untuk mengkliping setiap peristiwa penting yang terjadi pada jaringan kita.
Kita sebaiknya menunjukkan perhatian kita atas setiap peristiwa penting atau perubahan situasi (baik itu positif atau negatif) yang dihadapi jaringan kita. Salah satu caranya dengan mengirim kartu ucapan selamat, bunga atau parcel, iklan di media massa, telegram, menelpon, atau mengunjungi mereka secara pribadi.
Tunjukkan perhatian bahwa kita peduli dengan peristiwa yang terjadi dalam jaringan kita. Bahkan kita harus siap membantu dengan tulus dan semampu kita dengan memberikan dukungan moril maupun materiil.
Persahabatan sering kali diuji pada saat kesusahan. A friend in need is a friend indeed, demikian kata pepatah Inggris. Jika kita melakukan kebiasaan cara proaktif maupun positif reaktif secara terus menerus, kita akan memiliki sebuah jaringan taman kehidupan yang indah, subur, dan dapat memberi hasil. Seluruh jaringan kita adalah “….seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya …” Mazmur 1:3. Ingat prinsip Stephen Covey – Begin With an End in Mind – Jaringan kitalah yang akan memenuhi iring-iringan pada saat kematian kita nanti dan mereka akan selalu mengenang kita sebagai orang yang peduli kepada orang lain.

Manajemen Prioritas Dakwah Kampus

Dakwah kampus adalah arena yang penuh dengan aktivitas yang dinamis, ditengah-tengah miniatur masyarakat kecil, yaitu masyarakat kampus. Akan ada banyak opsi-opsi yang harus dipilih oleh dakwah kampus dalam menjalankan roda dakwahnya. Oleh karena itu, penting kiranya kita mengkaji mengenai manajemen prioritas.

Kajian mengenai Manajemen Prioritas dalam Dakwah Kampus harus didahului dengan kajian mendalam mengenai Fiqh Prioritas. Jadi, saya menyarankan sebelum membaca tulisan ini, sebaiknya baca dahulu buku Fiqh Prioritas (Fiqh Aulawiyat) yang pernah disusun oleh DR. Yusuf Qardhawi.

Mengenai manajamen prioritas dalam dakwah, ada beberapa hal yang menjadi ruang lingkupnya, agar jelas sudut pandang kita dan tidak terlalu melebar pembahasannya. Berikut ini adalah ruang lingkupnya.

Aulawiyat (prioritas) yang kita pahami dalam konteks da?wah, bukan memilih antara iman dan kufur, al-haq dengan yang al-bathil, antara halal dengan yang haram, antara yang lurus dengan yang menyimpang, atau antara berda?wah dengan tidak berda?wah. Karena dalam hal ini, sudah jelas bahwa keimanan adalah keharusan, sedangkan kekufuran harus ditolak, sebagaimana pernyataan Laa ilaaha illallah yang menolak semua tuhan-tuhan itu, kecuali Allah SWT. Begitu pula antara al-haq dengan al-bathil, al-haq adalah barisan yang harus kita ikuti, sedangkan al-bathil harus ditinggalkan. Dan seterusnya.

Aulawiyat di sini adalah dalam hal memilih satu atau sebagian dari sejumlah perkara yang halal. Lalu dari perkara-perkara halal tersebut, kita memilih mana yang afdhal dari yang mafdhul, mana yang ?ashlah? dari yang sholih.

Dan yang perlu dipahami lagi, memilih sesuatu yang diprioritaskan bukan berarti meninggalkan atau membatalkan suatu pekerjaan yang baik demi untuk mengerjakan pekerjaan baik yang lain. Maksudnya adalah mendahulukan mana yang lebih tepat didahulukan, memberinya lebih banyak alokasi dan dukungan waktu, tenaga serta sarana lainnya yang diperlukan. Inilah ruang lingkup kita sebagai batasan kajian Manajemen Prioritas kita.

Aulawiyat merupakan salah satu prinsip fithrah. Dalam Al Qur'an banyak sekali prinsip-prinsip aulawiyat ini, dimana Allah mendahulukan sesuatu dari sesuatu yang lain. Contohnya adalah firman Allah berikut ini:

?Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.? (QS. Al Kahfi: 46)

Ayat di atas menyiratkan bahwa amalan-amalan shaleh adalah lebih baik untuk diprioritaskan ketimbang perhiasan dunia yang disebutkan sebelumnya. Lalu kita lihat contoh ayat berikut ini:

"...Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (QS. Al Ahzab: 6)

Ayat di atas berkaitan dengan hukum waris, dimana orang-orang yang mempunyai hubungan darah adalah orang yang lebih berhak didahulukan dalam hal waris mewarisi.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, berkaitan dengan prioritas dalam hal ibadah:

"Amal yang afdhal adalah yang lebih kontinyu. Dan shodaqoh yang afdhal dikeluarkan saat sedang membutuhkan dan terasa besar pengorbanannya." (Hadits)


Prinsip Prioritas dalam Manajemen Dakwah Kampus

Dalam mengatur jalannya roda dakwah kampus, diperlukan manajemen. Dan dalam manajemen digunakan beberapa prinsip, salah satunya prinsip prioritas untuk memilih beberapa pilihan-pilihan yang berkaitan dengan strategi dakwah kampus secara umum

Di antara pilihan-pilihan itu, lihatlah mana yang lebih kuat korelasinya dengan mempertahankan prinsip dan pilihan mana yang lebih merefleksikan prioritas syar?iyah. Lalu kita juga musti lihat, di antara pilihan-pilihan itu mana yang mempunyai perspektif idiologis, mana yang hanya politis, mana yang teknis, dan mana yang pragmatis. Dalam hal mencapai tujuan dakwah kampus, kita juga harus lihat jangkauan manfaat yang mungkin dicapai dari pilihan-pilihan itu, mana yang lebih luas manfaatnya. Lalu lihat juga mana yang lebih didukung oleh ketersediaan informasi sehingga kita bisa ?well informed? dan ?sound-perception? (tassawur yang tepat). Perlu juga dipertimbangkan mana yang lebih didukung dengan kemampuan atau kafaah untuk komitmen dan konsisten dalam opsi yang dipilih. Dan yang paling penting, pilihan mana yang lebih sesuai dengan tabiat marhalah perjuangan dan kerja da?wah.

Sebagai gambaran, dalam dakwah kampus ada tiga arena yang dilakoni oleh struktur dakwah kampus, yaitu arena da'awi, arena siyasi, dan akademik/profesi. Ketiga arena tersebut merupakan peran dan fungsi mahasiswa. Kalau dilihat dari sudut pandang individu, seorang aktivis dakwah kampus harus tawazun antara peran da'awi, peran siyasi, dan peran akademik tersebut. Artinya, seorang aktivis dakwah kampus, sejatinya harus memiliki kemampuan dakwah dan tarbiyah, kemampuan mengusung perubahan di tengah-tengah masyarakat (khususnya masyarakat kampus), tanpa mengurangi prestasi akademik. Bahkan kalau perlu justru meningkatkan prestasi akademik, karena sejatinya dakwah itu adalah teladan.

Tapi secara kelembagaan, sebuah struktur dakwah kampus ada tahapan yang harus dilalui dalam menyeimbangkan ketiga hal tersebut.

Tahapan pertama yang harus dilalui adalah penetrasi dalam peran da'awi, artinya kaderisasi dan pembinaan sangat ditekankan pada sebuah struktur dakwah kampus yang baru berdiri. Rekrutmen-rekrutmen lebih banyak dilakukan dengan dakwah fardhiyah. Pada tahap ini, dakwah kampus juga harus berupaya memunculkan simpatisan yang loyal terhadap personil aktivitas dakwah kampus. Fungsi mahasiswa yang lebih diutamakan adalah fungsi da'awi, artinya mencetak kader-kader robbani yang muntijah sangat prioritaskan di tahap ini. Sedangkan aktivitas dakwah yang lebih diutamakan adalah aktivitas pelayanan dan aktivitas da'awi.

Jika sudah matang, maka dakwah kampus baru bisa beranjak kepada tahap selanjutnya. Untuk membahas mengenai hal ini, perlu kajian tersendiri. Pada intinya, ada tahapan yang harus ditempuh untuk menuju dakwah kampus yang matang. Dan itu tidak terlepas dari prinsip manajemen prioritas. Tahapan-tahapan tersebut harus dipegang teguh oleh aktivis dakwah kampus dan lembaganya dalam menjalankan roda dakwah di kampus.


Prinsip Prioritas dalam Aktivitas Sehari-hari di Dakwah Kampus

Dalam aktivitas sehari-hari di kampus, akan ada banyak alternatif yang terpampang di depan mata kita, yang harus dipilih dan diutamakan salah satu diantaranya.

Sebagai gambaran, misalnya dalam hal pengelolaan isu-isu, baik itu isu di kampus maupun eksternal kampus. Dakwah kampus harus mampu memilih isu mana yang harus diprioritaskan. Selain itu dalam hal program kerja, biasanya ada program kerja yang harus didahulukan dari program kerja lainnya. Hal ini berkaitan dengan pengendalian dan pengotrolan program kerja. Dalam menetapkan program kerja juga harus dipikirkan mengenai porsi-porsinya, porsi mana yang harus diperbesar antara tabligh, ta'lim ataukah takwin/tarbiyah.


Kendala-kendala

Penerapan prinsip aulawiyat bukan tanpa kendala. Ada beberapa kendala yang menyebabkan manajemen prioritas ini menjadi kacau balau. Kendala-kendala tersebut antara lain adanya penyakit diri, misalnya hawa nafsu yang diperturutkan, adanya urusan duniawi yang mendominasi, atau tidak mau mengeluarkan biaya. Kondisi kultural setempat kadangkala juga mempengaruhi hal ini. Selain itu juga disebabkan adanya konspirasi eskternal yang menginginkan agar cahaya dakwah ini padam.

Demikianlah kajian singkat mengenai manajemen prioritas dalam dakwah kampus. Semoga dapat memberikan pencerahan agar dakwah kampus dapat berjalan dengan baik.[]

Selasa, 30 Juni 2009

Mngenal lebih Dekat Tokoh HAMKA

HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Ishlah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencecah 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA telah mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Bakti HAMKA bermula sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai pensyarah di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau dilantik sebagai Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau dilantik sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan saat Sukarno memberi dua tugas, baik menjadi pegawai kerajaan atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslim Indonesia (Masyumi).

HAMKA lebih banyak belajar sendiri dan melakukan penyelidikan meliputi pelbagai bidang ilmu pengetahuan seperti falsafah, kesusasteraan, sejarah, sosiologi dan politik, sama ada Islam ataupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Freud, Toynbee, Jean Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. HAMKA juga rajin membaca dan bertukar-tukar fikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Chokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fakrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang pemidato yang handal.

HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui perkumpulan Muhammadiyah. Beliau menyertai perkumpulan itu mulai tahu 1925 untuk menentang khurafat, bid’ah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar.

Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Jogjakarta pada tahun 1950. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Julai 1957, Menteri Agama Indonesia yaitu Mukti Ali melantik HAMKA sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudian meletakkan jabatan pada tahun 1981 karena nasihatnya diketepikan oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 saat beliau menjadi anggota partai politik Syarikat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kembalinyai penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan itulah beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an HAMKA menjadi wartawan beberapa buah koran seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Merantau ke Deli.

HAMKA pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doktor Honoris Causa, Universiti al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universiti Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

HAMKA telah pulang ke rahmatullah pada 24 Julai 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai. (V)

Tags:

Selasa, 17 Maret 2009

Menuju 2009 yang bermartabat

oleh: Agus Qorib El-Akhwan*


Wacana perpolitikan nasional menjelang pesta demokrasi di negeri ini, bak jamur yang menebarkan sporanya ke mana-mana. Beramai-ramai rakyat negeri ini membincang sipakah di antara tokoh-tokoh yang pantas mereka jadikan pemimpin negeri ini mendatang.

Banyaknya pilihan dari sistem Pemilu baik Pil caleg ataupun Pilpres yang masing-masing jatuh pada awal April dan awal Juli 2009, telah ditawarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU menetapkan adanya banyak partai (multy party) dalam momentum pemilu 2009 ini. Banyaknya jumlah partai yaitu 48 partai yang telah lolos sertifikasi baik di tingkat pusat ataupun daerah mendorong masing-masing partai untuk saling berlomba-lomba dalam menentukan kancah percaturan politik 2009 di negeri ini.

Berbagai Partai politik dan para calon legislatifnya mulai menjajakan diri dan menawarkan programnya kepada masyarakat. Begitu pula pelaksana pemilu "KPU" menayangkan ratusan kali iklan tentang cara mencontreng dalam pemilu.

Tidak segan-segan dengan leluasannya muncul banyak figur baru yang berani mempromosikan dirinya untuk maju ke arena panggung politik yang penuh dengan intrik. Ada di antara tokoh-tokoh tersebut yang dulunya merupakan pionir dari sebuah partai besar tertentu hijrah ke sebuah partai baru yang dianggapnya lebih nyaman dan ideal menurut pandangan masing-masing dari pada bercokol di partai lamanya.

Pemilu raya di Indonesia adalah sebuah moment penting dalam sejarah bangsa bahkan menjunjung tinggi martabat sebuah negara. Dalam catatan sejarah nasional, bangsa Indonesia pertama kali melakukan pemilu pada tahun 1955 yang terkesan bermartabat dan melalui proses yang demokratis yang penuh dengan aspirasi rakyat.

Setelah terjadi perubahan rezim kekuasaan dari zaman Orla ke Orba Sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia menunjukkan fakta terjadinya penurunan tingkat partisipasi pemilih. Selama periode Orde Baru, tingkat partisipasi pemilih dalam setiap penyelenggaraan pemilu selalu di atas 90 persen.

Namun, partisipasi politik di bawah rezim pemerintahan Soeharto dinilai semu. Sejumlah faktor yang menggiring pada persepsi ini adalah represi politik dan model mobilisasi yang sangat kuat selama enam periode pemilu sepanjang 32 tahun pemerintahan Orde Baru. Partisipasi pemilu pada era Orde Baru pun memang memiliki kecenderungan turun dalam setiap penyelenggaraan, tetapi penurunannya tak terlalu signifikan.

Bahkan, pada penyelenggaraan pemilu pertama di era reformasi, antusiasme pemilih masih tinggi. Tercatat lebih dari 92,7 persen pemilih yang menggunakan hak pilihnya. Ini boleh jadi bagian dari gegar reformasi yang membawa mimpi perubahan pada bangsa ini.

Melihat dinamika proses perubahan sistem pemerintahan tempo dulu sampai sekarang yang terkesan flultuatif atau masih dalam ambang bias yaitu arah kebijakan-kebijakan pemerintah yang belum pro-rakyat dengan dihadapkan kompleksnya permasalahan di negeri ini, hal itu cenderung menjadikan masyarakat untuk menentukan dua pilihan sikap; pertama, masyarakat tetap berharap banyak untuk menentukan pilihan terbaik mereka terhadap figur yang mereka tokohkan menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat, atau kedua, masyarakat akan semakin apatis dengan sistem percaturan politik yang cenderung membutakan aspirasinya lantas sudah tidak ada pemimpin yang bisa diharapkan untuk mengayomi golongan ekonomi lemah (GOLEK LEMAH) alias wong cilik.

Untuk mengulangi sejarah keemasan bangsa ini dengan penyelanggraan pemilu yang bermartabat, seharusnya mekanisme penyelenggaraan pemilu 2009 kali ini harus lebih inovatif. Artinya bangsa kita dalam kancah percaturan politik dunia memang masih taraf pendewasaan, perumpamaan dari anak kecil baru beranjak remaja. Komisi pemilihan umun (KPU) sebagai penanggung jawab atas penyelenggaraan pemilu kali ini harus berani tegas dalam menegakkan aturan, apabila terjadi pelanggaran aturan oleh peserta pemilu maka sanksi harus dijatuhkan bagi para pelanggar hukum. Contoh halnya pelanggaran yang kentara adalah praktek money politik yang masih mengakar di dataran masyarakat oleh beberapa partai yang obral dan curang.

Oleh karena itu, masyarakat berharap pemilu kali ini lebih bersih dan taat hukum. Melihat suramnya pemilu zaman orba yang kental dengan manipulasi politik dan tidak pernah ditindak secara tegas. Oleh karena itu, mulai sekarang supaya ada pemilu yang bermartabat di Indonesia harus ada rekonsiliasi sejarah baru yaitu usaha menata ulang kembali lembaran sejarah percaturan politik negeri ini oleh pemerintah dan rakyat tanpa adanya tirani minoritas dan hegemoni serta intervensi asing terhadap kehidupan rakyat.

Rasionalitas masyarakat terhadap Pemilu

'' Sudah jatuh tertimpa tangga”. Itulah kira-kira gambaran nasib rakyat Indonesia. Setelah tak kunjung sejahtera akibat pemimpinnya salah urus negara, kini urusan hak mereka dalam pemilu pun “ketimpa tangga” pula. Dalam soal satu ini, sebelumnya posisi rakyat serba salah. Memilih disebut nggak rasional, dan ketika tak memilih disebut warga negara tak bertanggung jawab.


Muara dari rendahnya minat pemilih datang ke TPS adalah rendahnya kepercayaan dan citra parpol di mata publik. Di tengah ekspos media masa yang semakin masif membongkar berbagai kasus hukum dan korupsi yang melibatkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, mendorong meningkatnya persepsi buruk publik terhadap para elite politik. Padahal, mereka merupakan representasi elite partai politik yang dipilih langsung oleh rakyat

Tidak ayalnya, bergai aksi dan reaksi bermunculan dalam waktu dekat ini, yaitu fatwa MUI tentang haramnya golput yang tendensinya bermuatan politis. Dari fatwa MUI tersebut ada berbagai respon di antaranya, bahwa MUI dianggap sudah tidak orisinil lagi dalam mengaitkan fatwanya dengan permasalahan yang kompleks di negara ini lebih-lebih fatwa terkait pemilu, adapun dari kalangan idealis menyatakan bahwa fatwa MUI tersebut sangat membantu dan lebih memotivasi masyarakat untuk tidak memubadzirkan hak pilihnya untuk memilih pemimpin yang hanif dan mementingkan kemaslahatan ummat.

Nasib dan posisi rakyat terkait urusan politik memang tak pernah beranjak dari sekedar “komoditas”. “Berharga” dan “dijual” hanya saat kampenye pemilu tiba, terbingkai seribu janji politisi. Ketika pemilu usai, mereka yang kemudian terpilih dan duduk di berbagai pilar kekuasaan, dengan seketika lupa pada janji semula. Padahal, andai saja semua janji kampanye pemilu itu terpenuhi, andai saja semua yang terpilih itu punya semua sifat baik seperti yang terbaca pada atribut kampanyenya, betapa beruntungnya orang Indonesia. Sayang, tak berlaku pengandaian dalam realitas politik. Kenyataan harus diterima rakyat yang, lagi-lagi, suma dijejali mimpi-mimpi.


Mengingat kenyataan itu, maka sebetulnya masuk akal jika kemudian ada sebagian rakyat Indonesia yang memilih untuk tidak memilih dalam pilkada atau pemilu. Mereka yang dalam terma politik kita disebut “Golongan Putih” alias “Golput” jumlah nya kian meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan hasil beberapa survey menunjukkan hampir pada ¾ Pilkada yang telah digelar di sejumlah daerah sejak 2005, golongan ini keluar sebagai “pemenang”. Jelang Pemilu 2009 mendatang, keberadaan golongan ini kembali jadi perhatian plus kekhawatiran dari beberapa kalangan, termasuk MUI. Entah alasan apa sebenarnya lembaga himpunan para ulama ini merasa perlu mengeluarkan fatwa tersebut.

Pertanyaannya, apakah gejala peningkatan jumlah Golput menandakan rakyat Indonesia kian rasional dalam menilai proses politik? Apa rasionalisasi terhadap kekhawatiran yang muncul terhadap gejala itu?

Para pakar politik Indonesia selama ini hampir sepakat menyebut rakyat Indonesia sebagai pemilih tidak rasional. Indikasinya terutama nampak pada masih dominannya kalkulasi bersifat primordial sebagai preferensi pada pilihan politik, bukan atas dasar penilaian rasional atas platform atau program yang ditawarkan partai politik dan calon legislatif kontestan pemilu. Akibatnya, hasil dari setiap pemilu hampir tidak pernah membawa perubahan berarti terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat.

Baiklah, sementara mari kita terima logika para pakar itu. Tapi, jika demikian maka kita akan cenderung tiba pada simpulan: “bahwa seluruh persoalan yang terjadi di negara ini adalah karena rakyat yang tidak rasional sehingga salah pilih dalam pemilu”. Itulah bentuk kemalangan lain rakyat Indonesia. Selalu jadi pihak yang partisipasinya diharapkan, tapi segera setelahnya dengan seketika jadi “kambing hitam” atas berbagai keadaan. Sesungguhnya, rakyat memiliki kesadaran dan kecerdasan khas dalam menilai proses politik yang terjadi, baik atas nama kejenuhan pada proses itu, penilaian terhadap caleg yang ada, maupun penilaian atas program yang diwartakan partai politik.

Dalam kaitan ini, proses koreksi dan introspeksi harusnya dilakukan pertama kali oleh para politisi maupun partai politi secara keseluruhan. Tanpa mengesampingkan berbagai hal baik yang telah dilakukan selama ini oleh sebagian politisi dan partai tertentu, yang jadi pertanyaan adalah: apakah selama ini para politisi atau partai politik telah melakukan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat? Mengapa mereka baru terlihat “ada” hanya pada saat kampanye, itupun cuma lewat poster, baliho, serta iklan tv dan radio? Apa manfaat yang dirasa rakyat dari keberadaan partai politik yang sekarang berjumlah ratusan itu?

Selama ini, konsep yang disebut pendidikan politik (political education) hampir nihil dilakukan oleh sebagian besar partai politik yang ada. Sebatas tercantum dalam program kerja memang ada, tapi belum mewujud dalam praktik yang berkesinambungan. Sepertinya “irasionalitas politik” masyarakat justru jadi “zona nyaman” tersendiri bagi banyak politisi dan partai politik. Hal itulah yang barangkali mendorong mereka merasa cukup menandai keberadaannya hanya pada saat kampanye pemilu. Merasa cukup menyapa rakyat secara visual melalui iklan serta atribut kampanye lainnya. Di luar waktu itu, panggung politik tak ubahnya bak “opera sabun” yang sarat dengan dramatisasi pelbagai intrik dan kepentingan mereka sendiri, tapi nihil arti bagi rakyat yang setengah dipaksa jadi penontonnya. Ironisnya, ada sebagian dari mereka yang menyebut hal itu sebagai bagian dari “pendidikan politik” kepada masyarakat.
Begitulah, selama ini pun rakyat hanya diposisikan sebagai pemilih atau voters. Bukan sebutan atau pemosisian yang terlalu keliru sebenarnya mengingat sifat inherennya dalam hak politik rakyat. Soalnya terletak pada akibat dari pemosisian itu. Rakyat cenderung diperlakukan bukan sebagai “zoon politicon” yang seutuhnya, yang punya hak untuk tahu dan terlibat dalam setiap proses kebijakan yang memengaruhi hajat-hidupnya. Apa yang perlu dari rakyat hanya “vote”-nya dalam pemilu atau pilkada, bukan aspirasi dan ekspektasi mereka dari proses-proses demokrasi yang berjalan selama ini.

Dengan cara pandang seperti itu maka pantaslah jika program “sosialisasi pemilu” dianggap jauh lebih penting ketimbang “edukasi politik” tentang pemilu. Cermati saja berbagai iklan politik melalui pelbagai media saat ini. Hampir semuanya hanya dijejali pengetahuan tentang teknik dan persuasi untuk men-contreng, tidak disertai pesan mengenai arti penting pemilu sebagai bagian dari demokrasi. Kepolitikan demikian menggejala dan sekaligus menjelaga dalam mindset partai politik maupun penyelenggara pemilu. Dengan begitu, jika kemudian kepolitikan rakyat Indonesia dianggap masih irrasional, maka hal itu adalah buah dari rekayasa pikir yang selalu cenderung memarjinalkan akal sehat rakyat yang berkembang di benak praktisi dan pengamat politik.

Marilah kita percaya bahwa basis rasional politik rakyat Indonesia telah berkembang sedemikian rupa. Tak pada tempatnya untuk menggeneralisasi standar rasional yang ada di benak para pakar dengan standar rasional menurut pikiran rakyat. Pola pikir politik rakyat justru seharusnya jadi bahan kontemplasi untuk membongkar kepongahan tentang “rasionalitas” yang ada di benak kita, yang konon merasa lebih paham politik. Bukan mustahil pola sederhana dalam pikiran rakyat justru lebih “rasional”.


Jadi, perlu ada pemenuhan standar maksimum atas dua hal, pertama, realisasi program pendidikan politik yang benar dan tepat oleh partai politik. Program itu dapat dilakukan secara permanen dari waktu ke waktu tanpa harus menunggu jadwal pemilu. Pikiran bahwa transfer pengetahuan kepada rakyat hanya cukup lewat iklan, atau melakukan “politik uang” saat menjelang pemilihan, sudah masanya ditinggalkan. Kedua, pemenuhan standar maksimum atas berbagai program atau janji yang ditawarkan pada setiap kampanye pemilu. Jika dua hal itu terpenuhi maka ada cukup basis untuk menilai sejauh mana rasionalitas politik rakyat kita dapat terakomodir secara apik dan penuh harapan ke depan, sehingga saatnya PEMILU kali ini benar-benar bermartabat dan menampung aspirasi rakyat.

* Pecinta aspirasi rakyat