Subhanallah…Alhamdulillah…Allahu Akbar!!!!
Sekian lama saya tidak bisa menyempatkan diri mengunjungi portal ini, akhirnya hari ini di tengah kesibukan ana menyempatkan diri. Dan…kebetulan terbuka file lama yng sudah saya tuliskan tapi belum sempat terkirim. karenanya saya kirim juga, semoga tidak menjadi sesuatu yang basi.
Rasa sedih memenuhi relung kalbu ana kala menyaksikan kondisi KAMMI (Daerah Kalsel) saat ini. Bukan saja karena kekritisan kondisinya akan tetapi karena ana juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengislah keadaan seperti ini. Tadinya ana berpikir untuk sekedar diam dan berdoa semoga Allah segera memperbaiki dan mengembalikan pada kondisi yang lebih baik. Akan tetapi sampai juga ana pada satu tekad bahwa sekecil apapun yang bisa ana kontribusikan maka ana tak boleh mengambil taraf pada keimanan yang paling rendah. Maka menarilah jemari ana di keybord komputer pentium 3 ini.
Sekedar mengajak antum untuk bernostalgia, mengambil ibroh dari generasi KAMMI dahulu. Betapa waktu itu kader KAMMI merasakan sedemikian memiliki terhadap organisasi ini sehingga tak rela mereka jika sebentar saja mencuekin atau tak menghiraukan atas kondisi KAMMI. Tak rela hati kader saat itu ketika melihat satu demi satu kader yang lain undur diri dari barisan dakwah ini, tak hendak mereka berdiam diri kala menyaksikan barisan KAMMI kosong dari SDM yang mumpuni. Maka bersegeralah kader-kader (militan) itu ambil bagian, menyambut bendera kebesaran dan mengikatkan ikat kepala KAMMI untuk kemudian turun dalam tataran aksi dan aplikasi.
Saudaraku………..
Waktu itu betapa kami bangga bisa luus seleksi untuk ikut DM2, bukan untuk bangga-banggaan atau gengsi-gengsian belaka tapi karena kami menyadari bahwa banyak kontribusi aktif yang bisa kami berikan pasca itu, banyak amanah yang tadinya tidak bisa kami emban lantas bisa kami terima setelah menjadi AB2. Saat itu kami mengikuti DM2 benar-benar sepenuh hati, sepenuh jiwa dan tidak ada terbersit sedikitpun untuk menganggapnya mainan belaka. Perlu antum ketahui bahwa tes DM2 waktu itu bukanlah hal yang biasa, yang hanya diikuti segelintir orang (Atas dasar paksaan) tapi kami berlomba untuk bersegera mendaftar mengikuti tes seleksi yang diumumkan. Begitupun ketika pelaksanaan DM2, seluruh alam riuh rendah dengan teriakan Takbir kami karena jumlah yang banyak dan (tentu saja) semangat membara.
Tapi afwan ya………….
Ana menjadi sedih karena sekarang hal itu tinggallah kenangan yang indah dan hanya bisa ana ingat melalui rekaman otak ini. Kondisi sekarang jauh berbeda, bahkan tes seleksi DM2 seolah menjadi satu momentum yang membuat kita harus merasa terpaksa mengikutinya, dengan berbagai alasan tentunya; belum pantas lah, belum hapal juz 30 lah, tidak mau di Kamda lah dan sederet alasan (Klenik) lainnya. Astaghfirullahal adzim!!!Ana tidak terlalu mengerti, barangkali ini adalah buah (buruk) dari generasi kami juga, atau? Barangkali ada sebab lain yang notabene itu adalah dari diri kita? Bersegera ana mengajak antum semua (wahai kader KAMMI) untuk kembali bangkit, menginternalisasi nilai-nilai keKAMMIan dan nilai dakwahnya ke dalam diri kita.
Saudaraku…kader KAMMI (yang luar biasa)….
Secara pribadi ana ingin sampaikan bahwa jangan-jangan antum nanti akan menyesal karena tidak mengoptimalkan kesempatan yang Allah berikan ini untuk sebanyak-banyaknya berkontribusi dalam dakwah di KAMMI ini. Syukur-syukur bila ketidakoptimalan antum adalah karena banyaknya amanah lain yang antum emban, tap betapa perihnya hati ana ketika mendapati bahwa antum pun berleha-leha dan kosong dari agenda-agenda dakwah. Sesungguhnya KAMMI adalah organisasi (dakwah) kita semua, lantas bila bukan kita yang menghidupkannya dengan nilai-nilai dakwah lalu mau kita titipkan pada siapa lagi?
Atau…
Barangkali antum lerbih ridho jika KAMMI (Qta) terpaksa dibekukan atau bahkan diBUBARkan lantarn tak ada lagi kader-kadernya yang mau mengemban amanah di sana? Antum rela saudaraku? Bila memang demikian baiklah mari kita berpangfku tangan, berdiam diri dan cukup menjadikan diri-diri (yang cerdas) ini sebagai penonton saja. Enak bukan? Untuk kemudian kita lihat nanti surat yang menyatakan KAMMI di daerah kita dibekukan begitu saja. Yah, apa boleh buat? Untuk apa juga mempertahankannya jika hanya akan membuat (segelintir) saudara kita terdzolimi lantaran harus mengemban seluruh amanah (Kaderisasi, Kastrat, Humas, Pelmas, Danus, Sekretariat) sendirian. Karena antum tidak peduli…karena antum lebih senang menjadi penonton dan mencukupkan diri pada level AB1 yang saat ini kita sandang.
Betapa malang nasib KAMMIkoe…
Ya Allah, seandainya aku bisa maka ingin sekali aku kembali terjun ke jalanan menggemakan KAMMIku (yang kucinta) karenma ternyata saudaraku yang sekarang ada di sana menjadi kader hanyalah menjadi penonton atas runtuhnya keGAGAHan KAMMI ini. Bila saja Engkau memberiku sedikit peluang maka ingin aku membisikkan ke telinga saudara-saudaraku (kader KAMMI) “Lebih baik antum sekalian saja membunuhnya (KAMMI) daripada mendiamkannya dalam kondisi stroke, lumpuh dan akhirnya koma berkepanjangan”. Tentu saja ungkapan itu terloncat dari lisanku secara tertatih seiring deraian air mata atas ketidakmampuan ana berbuat banyak untuk KAMMIku.
Astaghfirullahal adzim….
Apa yang telah ana ungkapkan tadi? Sepertinya aku terlalu berlebihan dan terburu-buru menilai. Bukankah masih banyak kader KAMMI yang tidak sejelek itu? Bukankah tidak sedikit diantaranya yang masih komit terhadap ikrar yang dulu diucap kala menisbatkan diri menjadi kader? Bukankah tidak semua dari mereka yang lari dan menjadi pencibir KAMMI? Yah, baru ana sadar bahwa masih banyak yang mencintai KAMMI (ku) ini.
Kepada mereka ingin ana berbisik dalam kemesraan penuh ghiroh…
“Akhi…ukhti…KAMMI ini milik kita semua, dulu dirintis dengan tidak sedikit mengorbankan hal-hal besar demi terwujudnya KAMMI yang segar, sehat dan bugar Maka relakah antum melihatnya (begitu saja) menjadi berpenyakit dan tidak mampu untuk menopang diri sendiri lagi? Tentu saja antum tidak rela bukan? Antum tidak ridho kan bila pelan-pelan KAMMI (Qta) koma dan lantas mati?Bila benar begitu ya akhi, ya ukhti….kuncinya ada pada antum semua. Marilah menyingkirkan sedikit ego kita untuk diisi kepedulian terhadap kelangsungannya. Bila antum semua tak ada yang mau mengemban amanah ini lantas kepada siapa lagi KAMMI berharap?”
Dan ana yakin antum adalah kader-kader yang mengerti dengan apa yang ana sampaikan. Ana memang tidak bisa secara langsung tapi hati ana selalu membersamai antum dalam dakwah di KAMMI ini yang saudaraku…. karenanya mari kembali kita gemparkan bumi (kalsel) ini dengan dakwah KAMMI. Bagaimana caranya?Ana yakin antum tahu, bila toh antum tidak mengerti juga, mari kita duduk bersama untuk mempedulikannya dan membahas bagaimana semestinya. Ana tunggu kabar gembira dari antum yang membawakan air kehidupan untuk KAMMI (dakwah) kita.
Banjarbaru, 25 Juni 2007 (BP KAMMI Daerah Kalsel)
